Ngaji RamadanPengajian OnlineQashidah Burdah

(Ngaji Qashidah Burdah) Bait 13 – 15

Setelah pada Bagian Pertama dari Kitab Burdah ini membahas tentang rasa cinta dan rindu kepada Nabi Muhammad SAW. Kali ini memulai pembahasan Bagian Kedua tentang Peringatan Bahayanya Hawa Nafsu.

فَإِنّ أَمّارَتِ بِالسّـوءِ مَا اتّعَظَتْ ۞ مِنْ جَهْلِهَا بِنَذِيرِ الشّيْبِ وَالَهَرَمِ

Penyair menyatakan bahwa dirinya merasa enggan menerima nasihat dan peringatan dari uban yang tumbuh di kepala. Beliau menyadari tentang adanya suatu kesalahan. Bahwa apa yang dilakukan oleh hawa nafsunya itu merupakan sesuatu yang bodoh.

Bagaimana mungkin menolak sebuah nasihat dari uban yang tumbuh di kepalanya. Padahal itu merupakan sesuatu yang mengingatkan kita dengan tulus. Penyair menyebut apa yang ada di dalam dirinya (Hawa Nafsu) itu merupakan sesuatu yang bodoh, karena telah melalaikan peringatan dari uban yang tumbuh di kepala. Seharusnya itu menjadikannya sesuatu yang memberikan nasihat.

Ada dua istilah nafsu yang sering kita dengar. Imam Ghozali pernah berkata, yang pertama, nafsu merupakan jiwa. Kalau nafsu adalah jiwa, berarti nafsu merupakan intinya manusia. Sebab manusia itu terdiri dari jiwa dan raga.

Nafsu yang kedua dan yang sering dikatakan oleh banyak orang adalah hawa nafsu. Nafsu dalam pengertian yang kedua ini adalah potensi yang ada di dalam diri manusia. Potensi yang selalu mengajak kita akan sebuah perasaan dan keinginan. Hawa nafsu inilah yang membedakan manusia dan malaikat. Malaikat tidak memiliki hawa nafsu. Namun, semua manusia memiliki potensi di dalam nafsu ini.

Ada tiga keadaan nafsu yang dimiliki manusia, yaitu:
a) Nafsu Ammar: yaitu nafsu yang mengajak manusia pada hal-hal yang buruk, yang rendah dan yang tidak bermutu.
b) Nafsu Lawwamah: yaitu potensi manusia yang belum stabil, yang masih berubah-ubah.
c) Nafsu Mutmainnah: nafsu yang mengajak pada hal-hal yang positif, tidak melampaui batas.

Nafsu itu selalu ada di dalam diri manusia, tidak bisa di hilangkan tetapi bisa dikendalikan. Orang yang menuruti hawa nafsunya itu adalah orang bodoh, dan orang yang dapat mengendalikan diri dari hawa nafsunya itu disebut orang yang pintar.

وَلَا أَعَدَّتْ مِنَ الفِعْلِ الَجَمِيْلِ قِرَى ۞ ضَيْفٍ أَلَمَّ بِرَأْسِي غَيْرَ مُحْتَشِمِ

Imam Busyiri mencela nafsunya, karena nafsunya itu tidak mau mendengarkan dan tidak mau menerima peringatan dari tumbuhnya uban. Artinya, nafsu itu cuek, tidak mau menerima peringatan. Kemudian beliau menganggap nafsunya adalah hal yang buruk, karena tidak menyiapkan dirinya dengan perbuatan yang baik. Perbuatan yang sesuai dengan syariat, perbuatan yang dapat menambah kualitas dirinya.

Pada bait sebelumnya Imam Busyiri menyebut uban, dan pada bait ini beliau menyatakan uban itu dengan sebutan tamu. Karena mestinya yang namanya bertamu itu tidak dianjurkan untuk berlama-lama. Sebagai tamu semestinya uban itu tidak berlama-lama. Kalau sudah beruban, artinya orang tersebut sudah seharusnya mempersiapkan dirinya melakukan hal-hal yang baik. Untuk menyambut ajal yang akan segera datang.

Melalui kedua bait ini (13-14), Imam al Bushiri mewanti-wanti kepada kita semua jika kita dikuasai oleh hawa nafsu, ada 2 bahaya yang mengintai, yang pertama, kalau orang sudah dikuasai hawa nafsu, orang tersebut tidak akan mau mendengarkan nasihat. Kedua, orang yang sudah dikuasai hawa nafsu, ia tidak akan mau untuk melakukan sesuatu yang baik.

لَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ أَنِّـي مَــا أُوَقّـــــــــِرُهُ ۞ كَتَمْتُ سِرًّا بَدَا لِيْ مَنْهُ بِالكَتَمِ

Bait ini memberikan pengertian kepada kita tentang bagaimana menyikapi tamu seperti kita menyikapi ketuaan. Jadi kalau diri kita sudah merasa tua seharusnya tambah manut dan tambah taat kepada Allah.

Ketiga bait di atas memberikan pengertian kepada kita bagaimana Imam Busyiri memperingatkan kita tentang bahayanya hawa nafsu. Agar kita jangan sampai dikuasai oleh hawa nafsu. Karena nafsu itu sesuatu yang internal, yang ada dalam diri kita. Bait tersebut memberikan nasihat kepada kita supaya kita punya pilihan, punya ikhtiar untuk diarahkan dalam mendapatkan nafsu-nafsu yang baik, yaitu nafsu mutmainnah. Allahuma amin.
(Mey)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *