Ngaji RamadanPengajian OnlineQashidah Burdah

(Ngaji Qashidah Burdah) Bait 9 – 12

Pada pembahasan sebelumnya, Imam Busyiri menjelaskan tentang syair kerinduan kepada Kanjeng Nabi. Bahwa seseorang yang sangat merindukan Kanjeng Nabi, sangat kuat menahan kerindunya sampai-sampai ia terus menangis dan sakit-sakitan. Syair kerinduannya dilanjutkan pada nadhom berikut;

يَا لَا ئِمِي فِي الهَوَى العُذْرِيِّ مَعْذِرَةً ۞ مِنّي إِلَيْكَ وَلَوْ أَنْصَفْتَ لَمْ تَلُمِ
“Wahai engkau orang yang mencelaku lantaran cintaku terlalu dalam seperti romantisme kabilah udhr, sungguh, andai engkau merasakan cinta yang menawanku engkau tak akan mencaciku”

Penyair tersebut menggambarkan perasaan cintanya seperti perasaan cinta kaum udhrah. Kata الهوى العدرى” “ dinisbatkan kepada salah satu kabilah di Yaman yang penduduknya memiliki romantisme yang tinggi. Para kaum lelakinya dikenal dengan orang orang yang ringan tangan, mudah menyapa serta menjaga keteguhan cintanya hingga kematian menjemput. Sedangkan kaum wanitanya dikenal dengan keteguhan hati serta sikapnya dalam menjaga diri.
Penyair sendiri merasa terganggu terhadap orang-orang yang mencelanya, karena kedahsyatan rasa cintanya tak mungkin dirasakan oleh orang yang mencelanya.

عَدَتْكَ حَـــالِـي لَاسِرِّيْ بِمُسْتَتِرٍ ۞ عَنِ الْوِشَاةِ وَلاَ دَائِيْ بِمُنْحَسِــمِ
”Sekarang engkau tahu keadaanku, tidak ada rahasia yang aku tutupi lagi. Namun keadaan ini tak mampu menyembuhkan rasa sakit dari menahan kerinduan.”

مَحّضْتَنِي النُّصْحَ لَكِنْ لَّسْتُ أَسْمَعُهُ ۞ إَنّ الُحِبَّ عَنِ العُذَّالِ فِي صَمَمِ
”Betapa tulus nasihatmu, namun aku tak kan pernah meperdulikanya, karena seorang pecinta akan akan tuli dari nasihat yang mencaci”

Dalam bait tersebut menjelaskan bahwa yang telah diutarakan penyair tentang perasaanya tidak akan mengubah rasa sakit akibat menahan kerinduanya. Nasihat apapun yang telah ia terima tetap terasa hambar dan hampa, karena obat dari segala yang ia rasakan adalah bertemu dengan kekasihnya. Hal tersebut berkaitan dengan sebuah riwayat
حبك شيئا يعمي و يصم
“Kecintaanmu terhadap sesuatu menyebabkan bisu dan tuli”

إِنِّى اتَّهَمْتُ نَصِيْحَ الشّيْبِ فِي عَذَلِي ۞ وَالشّيْبُ أَبْعَدُ فِي نُصْحِ عَنِ التُّهَمِ
”Akupun menuduh ubanku yang turut serta mencaciku, padahal ubanku tulus dalam menasihatiku.

Idiom “Uban” diartikan sebagai orang tua yang menasehati. Seberapapun bijak orangtua menasehati, penyair tetap tidak akan peduli karena amat besar kerinduan yang ia rasakan.

Seperti itulah gambaran ringkas delapan bait nadham burdah, bahwa perasaan cinta yang dirasakan penyair adalah cinta yang hakiki dan tulus dari hati. Ungkapan cinta dan rindunya terlalu dalam sehingga tidak mampu dipahami dan dirasakan oleh orang lain. Hal tersebut menjadi pelajaran bagi kita, sebagai umat muslim sudah seharusnya memiliki ketaatan dan kekuatan cinta yang dahsyat kepada Allah dan Rasulnya.
(Enz)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *