Ngaji RamadanPengajian OnlineQashidah Burdah

(Ngaji Qashidah Burdah) Bait 16 – 20

مَنْ لِي بِرَدِّ جِمَاحٍ مِنْ غَوَايَتِهَ ۞ كَمَا يُرَدُّ جِمَاحُ الَخَيْلِ بِاللُّجُم
“Siapa gerangan yang mampu mengembalikan hawa nafsu dari kesesatan, sebagaimana tali kekang yang mampu mengendalikan kuda liar”

Melalui bait ini penyair bukan hanya menyesali. Tetapi ingin kembali menjadi orang yang benar. Begitu pula penyair ingin memiliki guru atau orang yang mampu mengembalikan kesesatan beliau hingga menjadi orang yang benar.

Nafsu dalam syair ini digambarkan dengan ‘الخيل ‘yaitu kuda liar, menggambarkan bahwa nafsu itu sulit ditaklukkan, dikendalikan, dan dikuasai. Meskipun ada pada dalam diri sendiri, layaknya kuda liar yang sulit dikuasai, bahwasanya disini menggambarkan melawan hawa nafsu itu suatu yang berat.

فَلاَ تَرُمْ بِالْمَعَاصِيْ كَسْرَ شَهْوَتِهَا ۞ إِنّ الطَّعَامَ يُقَوِّيْ شَهْوَةَ النَّهِمِ
“Janganlah berharap menghilangkan hawa nafsu dengan melakukan kemaksiatan. Sesungguhnya makanan itu menguatkan keinginan yang rakus”

Nafsu dalam bait ini digambarkan seperti hewan dan perbuatan maksiat seperti makanan. Supaya bisa menghentikan nafsu buruk yaitu dengan tidak melakukan maksiat, laksana hewan makan perbuatan maksiat seperti makanan.

وَالنّفْسُ كَالطّفِلِ إِنْ تُهْمِلْهُ شَبَّ عَلَى ۞ حُبِّ الرَّضَاعِ وَإِنْ تَفْطِمْهُ يَنْفَطِمِ
“Nafsu ibarat anak kecil yang masih menyusu (minum asi) apabila tidak dilatih (sapih) maka hingga dewasa pun akan tetap seperti anak kecil yang masih menyusu”

Nafsu itu bagaikan anak kecil, jika anak itu dibiarkan akan tetap menyusui hingga anak kecil itu sudah besar. Dalam bait ini seakan-akan imam busyiri mempunyai guru yang telah memberikan nasehat, yaitu:
Pertama, jika kamu ingin menghilangkan nafsumu maka kamu harus mengjmhilangkan perbuatan maksiat. Kedua, nafsumu bagaikan anak kecil, sebagaimana anak kecil yang masih menyusui dan hasratnya akan mengikuti terus menerus.

فَاصْرِفْ هَوَاهَا وَحَاذِرْ أَنْ تُوَلِّيَهُ ۞ إِنّ الْهَوَى مَا تَوَلَّى يُصِمْ أَوْ يَصِمِ
“Kendalikanlah nafsumu, karena jika tidak dikendalikan engkau akan terbunuh oleh kejelekan yang ditimbulkan dari hawa nafsumu”

Kita harus bisa mendidik nafsu kita sendiri, agar menjadi nafsu yang terdidik, dan tidak semua hawa nafsu harus dituruti. Nafsu tidak bisa dihilangkan. Seharusnya kita yang bisa mengelola nafsu, bukan nafsu yang menguasai kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *