Covid-19ish'aful wa'idhinPengajian OnlinePesantren

(Ngaji Ish’aful Wa’idhin) Tingkatan Rasa Marah Manusia

(07/04) Masih dalam bab tingkatan manusia atas rasa marah yang menimpa dirinya, Pada awal bab ini dijelaskan bahwa kekuatan dari rasa marah itu dapat membekukan hati, selanjutnya dapat membekukan akal manusia dari berpikir jernih.

Selanjutnya dalam bagian ini menjelaskan tentang perasaan marah yang timbul atas perlakuan dholim atau pelecehan terhadap mahram atau dapat diartikan lebih luas terhadap keluarga kita. Perasaan marah yang timbul atas kedholiman yang terjadi terhadap mahram atau keluarga diperlukan sebagai cara untuk melindungi martabat (dignity) keluarga.

Nabi bercerita tentang sahabat beliau saad bin ubadah yang merupakan sosok yang posesif atau protektif terhadap keluarga terutama istrinya, selanjutnya beliau mengatakan bahwa saya (Nabi Muhammad) lebih protektif dari saad, dan sesungguhnya Allah juga memiliki sifat posesif yang melebihi nabi.

Penulis kitab ini menjelaskan tingkatan kemarahan manusia
1. Jangan sampai terlalu lemah menghadapi kedholiman yang dihadapi sehingga membuat diri kita rendah diri serta kehilangan semangat dalam hidup.
2. Mushonnif juga memberikan nasihat agar kita tidak terlalu berlebihan dalam menyalurkan kemarahan.
3. Sikap terbaik dari mengelola kemarahan ini adalah yang moderat, tidak kemudian menjadi rendah diri, namun juga tidak terlalu ekspresif dan radikal dalam menghadapi kemarahan.

Lebih lanjut dalam kitab yang merupakan ringkasan dari Mau’idhotul Mukminin ini menjelaskan tentang cara menahan amarah, Pertama adalah dengan melakukan kontemplasi, artinya jika diri kita diliputi rasa marah, kita harus dapat berfikir jernih dan tenang dan bijaksana, selanjutnya, memberikan maaf atas orang yang mendholimi diri kita, dan yang terakhir Mempertimbangkan dengan seksama atas dampak yang dapat ditimbulkan atas ekspresi marah kita. Kedua; Mengkhawatirkan atas dirinya sendiri akan dosa dan siksa dari Allah, jika kita sampai melampiaskan kemarahan secara berlebihan. Ketiga; menjaga diri dalam artian menghadirkan berfikir dengan kepala dingin akan akibat dari permusuhan, dan akibat dari balas dendam dan pertikaian yang berkelanjutan.

Apabila ada orang yang menghina kita, kita tidak boleh menentang mereka atau marah karena kita sedang berpuasa. Derajat orang puasa sangatlah tinggi. Orang yang bijaksana, shaleh, dan beriman ketika menjaga marah akan mendapatkan derajat seperti orang yang puasa.

Setiap kedzoliman itu sebenarnya muncul kapanpun dan dari setiap orang.. Kita sebagai umat muslim tidak boleh meremehkan teman siapapun itu atau menghina dengan sesuatu. Kita juga tidak boleh menganggap remeh kebaikan sedikit apapun. Dan janganlah kalian meremehkan barang-barang yang ma’ruf, Allah tidak suka dengan perbuatan yang sangat berlebihan dan juga pamer.

(*Pengajian Bandongan Ish’aful Waidhin oleh KH. Nilzam Yahya. Selama masa karantina dikarenakan adanya Virus Covid-19, Pondok Pesantren Krapyak melangsungkan pengajian kitab yang diisi oleh para pengasuh. Pengajian ini bisa diikuti via daring melalui live streaming media ‘Yayasan Ali Maksum’ dan materi ngaji yang ditulis oleh tim para santri pada website ini. Sehingga santri yang pulang, tetap bisa mengikuti kegiatan mengaji dari rumah masing-masing.)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *