Melukis Kebahagiaan Spiritual: Krapyak Bergema dengan Berselawat

KRAPYAK.org – Majelis selawat menjadi momen yang sangat ditunggu oleh para santri, khususnya santri Pondok Krapyak Yayasan Ali Maksum. Tak bisa dipungkiri, selalu ada yang istimewa di setiap rangkaian Haul Almaghfurlah Kiai Haji Ali Maksum. Pada peringatan haul ke-35 ini, Pondok Krapyak mengundang Habib Ali Zainal Abidin Assegaf dan tim hadroh Azzahir dari Pekalongan untuk menambah semangat para santri saat hurmat Haul Mbah Ali.

Bacaan selawat mulai dilantunkan dengan indah kurang lebih pada pukul 21.00 WIB, yakni setelah dibacakannya tahlil oleh KH Abdul Hamid Abdul Qodir Munawwir. Para santri mengikuti tahlil yang dipimpin oleh Mbah Hamid dengan khusyuk.

Majelis selawat yang digelar di halaman Asrama Putra MA Ali Maksum rupanya tak hanya memenuhi halaman saja, antusias santri Pondok Krapyak dan juga jama’ah dari luar tampak menjadikan Jalan Kiai Haji Ali Maksum  dipenuhi lautan manusia.

Di tengah acara saat lantunan selawat berhenti sejenak, Habib Ali Zainal Abidin Assegaf yang kerap disapa ‘Habib Bidin’ menceritakan alasan mengapa beliau bisa datang ke majelis ini, yakni berawal dari guyonan beliau dengan Gus Hilmy ketika mengisi acara di pondok pesantren Al-Imdad Bantul. Akan tetapi beliau menyampaikan bahwa “bukan saya pingin diundang, saya pingin mengambil berkah di pondok ini. Saya pingin ngisi di pondok ini biar mendapat berkahnya mbah Ali Maksum, biar dapat berkahnya mbah Munawwir, biar dapat berkahnya para masyayikh yang mengajar di tempat ini, dan berkahnya para santri yang menimba ilmu di tempat ini.” Habib Bidin juga dengan mantap mengatakan kepada para jama’ah: Insyaallah Mbah Ali Maksum dan Mbah Munawwir malam ini sedang tersenyum kepada kita.

Sebagai umat muslim, kita butuh berkah, bimbingan dari para ulama. Hal tersebut didapatkan dengan banyak silaturahmi dengan para ulama. Habib Bidin mengajak para santri dan jamaahnya untuk lebih banyak ziarah kepada kepada para masyayikh kita, kepada para ulama serta kepada orang yang dekat dengan Allah agar kita tidak nyasar di dunia. Karena pada zaman sekarang ini, untuk mencari panduan itu sangat susah. Siapa yang harus kita ikuti, siapa yang harus kita percaya dan siapa yang harus kita teladani. Kita tak boleh salah dalam memilih guru sebagai panutan. Karena sekarang kita dapat menyaksikan banyaknya orang alim yang terkadang tidak mengajarkan kebaikan. “Saya selalu mengatakan di mana-mana, ayo kita Kaum Nahdliyin yang cinta dengan Nabi dan walinya Allah, jangan pernah putus untuk menyambung silaturahmi dengan orang-orang yang dekat dengan Allah” ungkap Habib Bidin menasihati dengan tulus.

Sebagaimana di dalam kitab Maulid Simtudduror disebutkan fadhilah membaca selawat yaitu ‘ صَلاةً يَتَّصِلُ بِهَا رُوْحُ الْمُصَلِّيْ عَلَيْهِ بِهْ ‘ Barangsiapa yang membaca selawat kepada Kanjeng Nabi sama halnya ia mempertahankan hubungan ruh dirinya sendiri dengan ruhnya Kanjeng Nabi. Barangsiapa yang tak putus hubungan dengan Nabi maka ia tidak akan putus dari rahmat dan pertolongan Allah SWT. Begitu juga, kita sebagai santri harus mempunyai mindset ‘saklawase santri’, yang mana harus sowan kepada kiai kita. Karena memandang guru secara langsung berbeda dengan mengaji via YouTube. Kita sekarang butuh pegangan yang kuat agar tidak keluar dari jalurnya Kanjeng Nabi.

Nabi kita tidak pernah berkata kecuali bermanfaat untuk umat. Sebagaimana akhlak beliau ‘لا يقول ولا يفعل إلا معروفا  ‘  yakni beliau tidak pernah melakukan sesuatu, tidak pernah berkata, berucap, mengeluarkan kalimat kecuali yang bermanfaat untuk umat. Sedikit banyak apabila ada omonganmu yang membuat orang bercerai berai, maka selamanya anda akan mendapatkan dosa dari Allah SWT.

Di masa menuju pemilu ini, Habib Bidin juga menghimbau kepada para santri dan jamaahnya agar tidak menjadikan moment tersebut sebangai ajang untuk saling bermusuhan. “Beda pilihan presiden boleh, beda pilihan partai boleh yang penting kita tetap Indonesia, itu yang penting. Intinya harus tetap bersatu.” Habib Bidin juga memberikan nasihat ‘ حاسبوا أنفسكم قبل أن تحاسبوا ‘ Nilailah dirimu sendiri sebelum menilai kesalahan orang lain. Jika sibuk mencari aibnya orang lain maka kita akan lupa dengan aib diri sendiri.

Habib Bidin menegaskan kembali perihal kecintaan Kanjeng Nabi kepada umatnya. Ketika ditanya oleh Allah apa yang Kanjeng Nabi inginkan sehingga puas dengan permintaan tersebut? Jawaban beliau hanya satu, jangan sampai satupun umatnya masuk ke dalam neraka. Jika ingin mendapat syafaat nabi maka hendaklah mengikuti caranya Nabi Muhammad. Berdasarkan hal tersebut, dapat ditarik nasihat bahwa cinta itu butuh bukti. Tak ada artinya kita mengatakan “Yaa Rasulullah aku cinta padamu”, akan tetapi akhlaknya beliau tidak dipakai. Suka selawat tapi tak menjalankan sunnah-nya nabi, itu namanya cintamu bohong.

Cinta kepada saudara khususnya saudara muslim juga harus ditanamkan di dalam hati kita. Semua umat Islam adalah saudara kita. Pada majelis selawat ini, Habib Bidin mengajak seluruh santri dan para jama’ahnya untuk melantunkan Selawat Asyghil bersama-sama dan diniatkan sebagai do’a untuk saudara kita yang sedang berjuang membela agama Islam di Palestina.

“Mudah mudahan dengan hadirnya kita di majelis ini menjadi tanda, menjadi bukti bahwa Allah menyayangi kita dan akan mengampuni dosa-dosa kita.” Ungkapan beliau tersebut sekaligus menjadi pungkasan nasihat kebaikan di Majelis Haul ke-35 Almaghfurlah KH Ali Maksum Krapyak.

Pewarta: Qonita Khoirunnisa | Foto: Galih Aditama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *