Jujur Sebagai Tanda Integritas Seorang Muslim

KRAPYAK.org – Dalam khazanah pemikiran keislaman Nusantara, Nahdlatul Ulama memiliki perhatian besar terhadap pembentukan karakter masyarakat. Sejak dekade 1950-an, gagasan tentang ‘masyarakat teladan’ telah dirumuskan oleh KH Achmad Siddiq, Jember. Beliau menegaskan bahwa masyarakat ideal adalah masyarakat yang memiliki prinsip, menjunjung tinggi kejujuran, keadilan, amanah, istiqamah, serta berkomitmen menepati janji.

Berangkat dari rumusan tersebut, kajian keislaman terus dikembangkan agar nilai-nilai tersebut tidak berhenti sebagai konsep, tetapi juga menjadi laku hidup. Oleh karenanya, KH Hilmy Muhammad berupaya memperluas pemahaman tentang ‘masyarakat teladan’ kepada para santri dan masyarakat melalui Kitab مبادئ خير أمة, karya beliau sendiri, yang dikaji dalam ngaji bandongan Program Khusus Ramadhan (PKR) 1447 H kelas XII di Pondok Krapyak.

Sebelum memasuki pembahasan kitab, KH Hilmy Muhammad membiasakan membuka pengajian dengan lantunan sya’ir. “Sebelum ngaji kita baca Eling-eling Siro Menungso, karena sya’ir ini selalu dilantunkan Mbah Ali setiap bulan Ramadhan. Penutupnya kita baca Lir-ilir, agar kita memahami bahwa ajaran Islam disampaikan dengan cara yang menyenangkan,” tutur beliau dalam ngaji bandongan PKR, Sabtu malam (14/02/26).

Setelah sya’ir Eling-eling Siro Menungso dilantunkan, KH Hilmy Muhammad mengurai makna bait demi bait dengan lugas. Beliau menekankan bahwa manusia hidup di dunia karena kuasa Allah. Tiada yang tahu seperti apa jalan yang Maha Kuasa berikan. Bisa saja kematian datang sebelum kita mencapai kebahagiaan. Penegasan itu beliau tekankan pada bait keenam:

Urip donyo ora suwe

Bakal ngalih panggonane

Akherat nggon sejatine

Mung ngamal becik sangune

Hidup di dunia itu tidak akan lama, dan kita akan berpindah tempat, memang hanya akhirat yang abadi, namun dengan amal sholeh kita dapatkan kebahagiaan. Semasa hidup di dunia, setiap perkara sudah semestinya kita jaga, terlebih lagi Allah Ta’ala telah memberikan agama Islam dengan syariat yang cukup dan sempurna lahir batin.

Pesan tersebut kemudian disambung dengan lantunan sya’ir Lir-ilir karya Sunan Kalijaga. Melalui bait “Mumpung padang rembulane, mumpung jembar kalangane”, KH Hilmy mengingatkan bahwa kesempatan untuk belajar dan memperbaiki diri masih terbuka luas. Selama masih ada para ulama yang membimbing dan menjawab pertanyaan umat, tidak ada alasan untuk menyia-nyiakan waktu. Kedua sya’ir tersebut ditutup dengan shalawat Badar sebagai penegasan agar sisa umur senantiasa diisi dengan amal shalih.

Dari pengantar tersebut, pengajian Kitab مبادئ خير أمة kemudian dimulai pembahasannya pada nilai-nilai dasar pembentuk masyarakat teladan. Salah satu aspek terpenting yang ditekankan adalah kejujuran. Dalam kitab ini, jujur dimaknai sebagai perilaku menyampaikan suatu berita sesuai dengan kenyataan. Lebih dari itu, kejujuran juga menjadi indikator keimanan seseorang.

Karena kejujuran merupakan tanda iman, sifat ini menjadi karakter utama yang harus dimiliki para nabi. Bahkan, sifat jujur ditempatkan sebelum amanah, tabligh, dan fathanah. Kejujuran bukan hanya bernilai etis, tetapi juga bernilai eskatologis, karena dapat menyelamatkan seseorang dari siksa Allah SWT di hari kiamat, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-Ma’idah ayat 119.

قَالَ اللّٰهُ هٰذَا يَوْمُ يَنْفَعُ الصّٰدِقِيْنَ صِدْقُهُمْۗ لَهُمْ جَنّٰتٌ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَآ اَبَدًاۗ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُۗ ذٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ

Begitu pun kejujuran termasuk aspek integritas, di mana hal tersebut dapat menjadikan seseorang dihormati orang lain. Menurut beliau, untuk dihormati orang lain itu bukan berasal dari ilmu atau harta, tapi dari integritas seseorang.Saya dapat kesempatan di DPD itu bukan karena saya minta, tapi diminta. Caranya, ya, saya selalu bersikap jujur, menepati janji, dan bertanggung jawab. Karena itu adalah bentuk integritas yang terbentuk dari perilaku tersebut.”

Selain itu, jujur juga berfungsi sebagai perekat sosial. Dapat diilustrasikan layaknya sebuah keluarga; dapat terjalin karena adanya sikap jujur antaranggota. Apabila lingkungan  terkecil seperti keluarga saja harus berlandaskan kejujuran, tentu lingkungan yang lebih besar seperti ketatanegaraan juga harus berlandaskan kejujuran. Karena seluruh aspek apabila dilandasi dengan kejujuran akan menjadikan keharmonisan pada aspek tersebut.

Dalam penjelasannya, KH Hilmy memaparkan macam-macam jujur: shoddiq, yaitu berkata jujur sesuai dengan kenyataannya; shiddiq, yakni berkata jujur dan membuktikannya dengan perbuatan; serta shodduq, yaitu konsistensi dalam berkata jujur dalam berbagai keadaan.

Setelah mengetahui terkait perilaku jujur, marilah kita bertekad untuk selalu berperilaku jujur. Walaupun sikap jujur itu sulit, kita tetap harus berusaha berlaku jujur. Seperti ungkapan dari Ibnu Qayyim al-Jauziyyah:

فحمل الصدق كحمل الجبال الرواسي : لا يطيقه الاّ أصحاب العزائم

“Pemikul kejujuran layaknya seseorang yang memikul gunung yang kokoh; tidak mampu memikulnya kecuali orang-orang yang memiliki tekad yang kuat.”

Maksudnya, melakukan kejujuran merupakan hal yang berat. Oleh karenanya diperlukan komitmen yang kuat untuk kita menjadi orang yang jujur. Sebagaimana doa yang dapat kita baca untuk menguatkan komitmen sesuai QS. Al-Isra’ ayat 80:

وَقُلْ رَّبِّ اَدْخِلْنِيْ مُدْخَلَ صِدْقٍ وَّاَخْرِجْنِيْ مُخْرَجَ صِدْقٍ وَّاجْعَلْ لِّيْ مِنْ لَّدُنْكَ سُلْطٰنًا نَّصِيْرًا

“Katakanlah (Nabi Muhammad), “Ya Tuhanku, masukkan aku (ke tempat dan keadaan apa saja) dengan cara yang benar, keluarkan (pula) aku dengan cara yang benar, dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang dapat menolong(-ku).”

Pewarta: Naila Nafisatul & Aurora Azalia (XII Bahasa B) | Dikutip dari Pengajian Ramadan 1447 H Kitab Mabadi Khaira Umah oleh KH Hilmy Muhammad 14-15 Februari 2026