Menghidupkan Doa Al-Qur’an dalam Keseharian

KRAPYAK.org – Pengajian PKR di Asrama Tahfidz Putri Rufaida diampu oleh Ibu Nyai Hj. Fatma Zuhrotun Nisa dengan Kitab الأدعية القرآنية, sebuah kumpulan doa yang bersumber langsung dari ayat-ayat Al-Qur’an. Melalui pengajian kitab ini, diharapkan dapat menjadi pintu pembuka bagi para santri untuk mengamalkan Al-Qur’an melalui doa-doa yang hidup dalam keseharian.

Seperti yang sudah diketahui, doa yang terdapat pada Al-Qur’an itu lebih utama. Di dalam kitab ini terdapat sekitar 50 penggalan doa dalam Al-Qur’an. Di mana setiap babnya sudah dikelompokkan berdasarkan asal-usul turunnya ayat dan kandungan makna yang terkandung di dalamnya.

Surat Al-A’raf ayat 23, yang berbunyi:

قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَآ اَنْفُسَنَا وَاِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخٰسِرِيْن

“Keduanya berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.”

Doa ini ditempatkan pada bab pertama karena merupakan doa yang dilantunkan oleh nabi dan rasul. Doa ini dilantunkan oleh Nabi Adam AS setelah berbuat kesalahan kepada Allah Ta’ala sebab terhasut tipu daya iblis untuk memakan buah terlarang di surga, buah Khuldi.

“Kalian dapat menggunakan doa ini ketika bertaubat,” ujar Bu Nyai Fatma. Beliau menjelaskan bahwa setiap kesalahan yang dilakukan seseorang sejatinya adalah bentuk kedzaliman terhadap diri sendiri. Inilah mengapa Nabi Adam melantunkan ظلمنا انفسنا karena beliau telah mendzalimi diri beliau sendiri, maka beliau meminta ampunan kepada Allah Ta’ala. Sudah menjadi risiko sebab saat kita berbuat kesalahan, harus siap mendapat balasan.

Doa kedua dari kitab ini yaitu dari Surat Hud Ayat 47:

قَالَ رَبِّ اِنِّيْٓ اَعُوْذُ بِكَ اَنْ اَسْـَٔلَكَ مَا لَيْسَ لِيْ بِهٖ عِلْمٌۗ وَاِلَّا تَغْفِرْ لِيْ وَتَرْحَمْنِيْٓ اَكُنْ مِّنَ الْخٰسِرِيْنَ

(Nuh) Berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu untuk memohon sesuatu yang aku tidak mengetahui (hakikatnya). Kalau Engkau tidak mengampuniku dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku termasuk orang-orang yang merugi.”

Doa ini berkaitan dengan kisah Nabi Nuh AS ketika memohon keselamatan bagi anak dan istrinya saat azab banjir besar diturunkan. Dalam doanya, Nabi Nuh sempat menyebut bahwa anak tersebut adalah bagian dari keluarganya. Namun Allah menegaskan bahwa mereka bukan termasuk golongannya karena telah menyekutukan-Nya.

Nabi Nuh berdoa,

وَنَادٰى نُوْحٌ رَّبَّهٗ فَقَالَ رَبِّ اِنَّ ابْنِيْ مِنْ اَهْلِيْۚ وَاِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَاَنْتَ اَحْكَمُ الْحٰكِمِيْنَ

“Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku adalah termasuk keluargaku dan sesungguhnya janji-Mu itu pasti benar. Engkau adalah hakim yang paling adil.” (QS. Hud:45)

Kemudian Allah SWT berfirman,

قَالَ يٰنُوْحُ اِنَّهٗ لَيْسَ مِنْ اَهْلِكَۚ اِنَّهٗ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ فَلَا تَسْـَٔلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌۗ اِنِّيْٓ اَعِظُكَ اَنْ تَكُوْنَ مِنَ الْجٰهِلِيْنَ

“Wahai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu karena perbuatannya sungguh tidak baik. Oleh karena itu, janganlah engkau memohon kepada-Ku sesuatu yang tidak engkau ketahui (hakikatnya). Sesungguhnya Aku menasihatimu agar engkau tidak termasuk orang-orang bodoh.” (QS. Hud: 46)

Kita dapat mengambil moral dari penggalan doa tersebut, yaitu agar kita senantiasa berhati-hati dan mengatur sedemikian rupa dalam berdoa kepada Allah. Sebab, terkadang manusia sendiri tidak paham akan yang ia butuhkan, dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala Yang Paling Mengetahui mana yang terbaik untuk manusia itu sendiri.

Pewarta: Annisa Maulidia Salma (XII IPA C) | Dikutip dari Pengajian Ramadan 1447 H Kitab Ad Du’a Al Qur’aniyah oleh Ibu Nyai Fatma Zuhrotun Nisa 14 Februari 2026