Benarkah Orang yang Suka Riya’ Tidak Mendapat Pahala Berpuasa?

KRAPYAK.org – Kita tahu bahwa puasa tidak hanya menahan dahaga dan lapar saja, akan tetapi kita juga dilatih untuk meredam hawa nafsu yang kadang naik dan turun. Tidak jarang hawa nafsu yang berupa amarah acapkali tiba-tiba memuncak karena sesuatu yang tidak bisa diduga penyebabnya. Padahal sudah jelas, jika mengumbar hawa nafsu bahkan sampai mengikutinya akan membuat puasa terasa sia-sia dan hanya mendapatkan dahaga dan laparnya saja. Lalu, bagaimana dengan orang yang suka riya’ ketika berpuasa?

Sudah kita ketahui betul jika perilaku riya merupakan perilaku menginginkan pujian dari orang lain. Sehingga apa saja yang kita lakukan semuanya berporos pada pujian orang lain. Lantas, bagaimana orang yang sedang berpuasa kemudian melakukan tindakan riya’? Apakah orang tersebut tetap akan mendapatkan pahala puasanya?

 حفظ اللّسان عن الكذب والغيبة والنّميمة والفحش والمراء وغير ذالك “مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ للهِ حَاجَةٌ فِي أَن يَدَعَ طَعامَه وشرابَه”

Makna dari kutipan di atas ialah bahwa kita harus menjaga lisan kita agar tidak melakukan perbuatan bohong, gibah, mengadu domba, berkata kasar dan riya. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah, bahwa barang siapa yang tidak bisa menghindari dari perkataan yang kotor dan perbuatan yang buruk, maka Allah tidak menerima orang yang meninggalkan makan dan minum (puasa) tersebut.

Ketika seseorang berpuasa dan dia melakukan perbuatan riya’, maka dapat dikatakan bahwa orang tersebut tidak mendapatkan pahala berpuasa. Karena, riya’ itu sendiri merupakan termasuk perbuatan yang buruk. Dia hanya akan mendapatkan lapar dan dahaga seharian saja, tanpa mendapatkan pahala puasa. Betapa meruginya orang yang telah melakukan perbuatan tersebut.

Lalu, bagaimana jika seseorang yang berpuasa kemudian berbohong? Ketika orang tersebut melakukan perbuatan berbohong, sekalipun terhadap hewan; seperti kepada kucing dengan cara mengiming-imingi makanan agar kucing tersebut mau keluar dari rumah. Hal tersebut sama saja termasuk ke dalam perbuatan berbohong, meskipun hanya kepada kucing. Ini menandakan bahwa berbohong kepada hewan saja tidak diperbolehkan apalagi berbohong kepada manusia, yang memiliki akal dan pikiran.

Sampai di sini, kita bisa menarik pengetahuan bahwa selain menahan hawa nafsu, terdapat juga perilaku lain yang harus kita hindari ketika berpuasa, agar setiap laku yang kita jalani saat berpuasa adalah sesuatu yang dapat diterima oleh Allah SWT. Wallahualam.

Dinukil dari Pengajian Ramadhan KH Afif Muhammad | Kitab As-Shiyam | 27 Maret 2023

Pewarta: Amrullah | Editor: Adam | Foto: Galih Aditama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *