Amaliyah Shalat Tarawih 20 Rakaat

KRAPYAK.org Bulan Ramadhan merupakan bulan yang mengandung banyak kemuliaan dan keistimewaan yang tidak dimiliki oleh bulan-bulan lainnya. Di antaranya, amal kebaikan yang dilakukan pada bulan ini akan dilipat gandakan. Oleh sebab itu, euforia umat Islam dalam mengisi bulan Ramadhan dianjurkan untuk memperbanyak amal kebajikan. Bulan Ramadhan juga memiliki berbagai rangkaian ibadah, seperti ibadah tarawih yang dilakukan oleh setiap umat Islam setelah shalat Isya.

Meskipun demikian, shalat tarawih juga masih terdapat perbedaan pendapat. Khususnya terkait jumlah rakaat sholat. Dalam kitab Hujjah Ahli Sunnah Wal Jama’ah, diterangkan bahwa sebaiknya perbedaan ini jangan sampai menimbulkan saling bantah antar umat Islam. Selanjutnya juga disebutkan, pengikut mazhab Syafi’iyyah dan Ahlus Sunnah Wal Jam’ah berpedoman bahwa shalat tarawih itu dilakukan 20 rakaat. Kedudukan shalat tarawih dalam mazhab Hanafiyah, Syafi’iyah, Hanabilah, dan malikiyah, berpendapat sunnah ‘ain muakkad, baik untuk laki-laki maupun perempuan.

Para imam mazhab sepakat bahwa kesunahan shalat tarawih disandarkan terhadap apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits yang menyatakan bahwa Nabi SAW pernah keluar rumah di malam hari pada beberapa malam di bulan Ramadhan, tepatnya pada tanggal 23, 25 dan 27 Ramadhan. Nabi SAW melakukan shalat di masjid yang diikuti oleh kaum muslimin, dan nabi shalat bersama mereka sebanyak 8 rakaat dengan 4 kali salam. Kemudian, nabi dan para sahabat menyempurnakan di rumah masing-masing sampai 20 rakaat. Bahkan suara yang berasal dari shalat tersebut seperti suara dengungan lebah.

Dari sini jelas bahwa Nabi Muhammad SAW, mensunnahkan untuk shalat tarawih berjamaah, seperti yang biasa dilakukan oleh umat muslim sampai hari ini. Tetapi Nabi SAW tidak keluar pada selain 3 malam tersebut, karena khawatir jika shalat tarawih akan diwajibkan oleh umat Islam. Dari riwayat di atas, dapat menjelaskan bahwa bilangan rakaat shalat tarawih tidak terbatas 8 rakaat, seperti yang dilakukan oleh Nabi SAW dan para sahabat, karena mereka kembali menyempurnakan shalat tarawihnya, sampai 20 rakaat di rumahnya masing-masing.

Pada masa Umar bin Khattab, diserukan secara jelas bahwa jumlah shalat tarawih terdiri dari 20 rakaat. Beliau mengumpulkan umat Islam untuk melakukan shalat tarawih secara berjamaah di masjid. Perintah Umar bin Khattab juga diikuti oleh para sahabat dan tidak ada seorangpun setelah khulafaur rasyidin yang menentang tindakan sahabat Umar. Hal itu didasarkan pada hadits nabi yang artinya, “Berpegang teguhlah kalian pada sunahku dan sunah khulafaur rasyidin yang mendapat petunjuk, gigitlah oleh kalian sunah itu dengan gigi geraham.

KH Ali Maksum dalam kitabnya juga menerangkan, bahwa Imam Abu Hanifah pernah ditanya tentang perbuatan yang dilakukan oleh sahabat Umar. Imam Abu Hanifah menjawab, tarawih adalah sunnah muakad, tidak mungkin sahabat Umar bin Khattab melakukan yang demikian, berdasarkan keinginannya sendiri. Tentu hal tersebut atas dasar keyakinan dan kenyataan yang ada pada masa baginda Rasulullah SAW.

Dinukil dari pengajian Ramadhan KH Nilzam Yahya | Kitab Hujjah Ahli Sunah Wal Jama’ah | 31 Maret 2023

Pewarta: Lubab Rofiul | Editor: Adam Nursyifa | Foto: Galih Aditama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *