Ngaji RamadanPengajian OnlineQashidah Burdah

(Ngaji Qashidah Burdah) Bait 34 – 37

مُحَمَّدٌ سَيّدُ الْكَوْنَيْنِ وَالثَّقَلَيْـــــــ ۞ نِ وِالفَرِيقَيْنِ مِنْ عُرْبٍ وَمِنْ عَجَم
نَبِيّنَا اْلآمِرُ النّاهِي فَلَا أَحَدٌ ۞ أَبَرَّ فِيْ قَوْلِ لاَ مِنْهُ وَلاَ نَعَمِ

Pada bait ini, kita mengetahui bahwa Nabi Muhammad Saw. ditempatkan pada kedudukannya sebagai Rasul terakhir. Beliau adalah نَبِيُّنا (Nabi kita, para umat Islam) yang mana perintahnya pasti merupakan sesuatu yang baik, sedangkan larangannya pasti sesuatu yang buruk. Hal itu sudah tidak tabu lagi di pikiran umat Islam, sebab yang datang dari Kanjeng Nabi tak lain adalah wahyu Allah, dan bukan berdasarkan hawa nafsu semata. Oleh karena itu, apapun yang diperintahkan pasti sesuatu yang indah.

Di sinilah kita dibebani kewajiban iman kepada Kanjeng Nabi. Karena iman kepada Allah Swt. tidak cukup kaalau tidak menanamkan iman kepada Rasul-Nya, baik dalam hati, lisan, maupun perbuatan. Dasar dari perintah iman kepada Rasul adalah hadist; مَنْ اَطاُعَ ﷲ فَقَدْ اَطاَعَنيِ
yang artinya, “Barang siapa taat kepada Allah Swt harus taat kepadaku (Rasulullah).”

هُوَ الْحَبِيْبُ الَّذِيْ تُرْجَى شَفَاعَتُهُ ۞ لِكُلّ هَوْلٍ مِنَ الْأِهْوَالِ مُقْتَحِمِ

Dialah sang kekasih yang dinantikan syafaatnya. Dalam syair ini, kita diberitahu bahwa Kanjeng Nabi adalahالحَبِيبْ kekasih. Apa yang dilakukannoleh sangbkekasih pasti sesuatu yang menarik hati, menyenangkan, menenangkan, sekaligus menentramkan.

Di samping itu, karakteristik agama Islam adalah agama yang mudah, enak, dan nyaman karena yang membawakan ajaran Islam ini adalah Kanjeng Nabi حبيب ﷲ selain sebagai kekasih, bait ini menjelaskan bahwa Kanjeng Nabi adalah sosok yang diharapkan syafa’atnya. Namun perlu diketahui, sebenarnya Allah Swt. telah menghendaki siapa saja orang yang dapat memberi syafa’at kelak. Kiai misalnya, seorang kiai yang Allah kehendaki akan memberi syafa’at pada santrinya, kelak di hari kiamat kiai itu akan menolong santrinya. Atau seorang penghafal Alquran dikehendaki dapat memberikan syafaat pada beberapa keluarga atau orang-orang yang dikehendakinya. Berbeda dengan Rasulullah. Jika kedua sosok tersebut akan memberi sya’aat pada segelintir orang saja, maka syafa’at Rasulullah merupakan الشَّفاَعَۃُ الاءَعْظاَمُ (syafa’at yang paling agung) .

Mari berupaya meraih syafa’at Rasulullah. Paling mudahnya, kalau mendengar lantunan salawat, ikutlah bersalawat. Atau membaca do’a setelah mendengarkan adzan. Sebagaimanana hadist Rasulullah yang artinya “Barangsiapa menjawab adzan, maka ia akan mendapat syafa’at dariku.”

دَعَا إِليَ اللهِ فَالْمُسْتَمْسِكُونَ بِهِ ۞ مُسْتَمْسِكُونَ بِحَبْلٍ غَيْرِ مُنْفَصِمِ

“Nabi mengajak kepada agama Allah. Siapa yang berpegang teguh pada agama Allah maka ia seperti berpegang teguh pada tali yang tidak putus”

Dari bait tersebut, agama apa yang terlintas dalam benak kita? Hindu? Budha? Kristen? Katholik? Atau yang lain? Rupanya bukan semua agama tersebut. Yang dimaksud agama Allah disini adalah agama Islam. Mengapa Islam? Jawabannya, karena asalnya Islam adalah agama ciptaan Allah (وَضْعٌ اِلٰهِيٌّ dan tujuan Islam adalah meng-esa-kan Allah.

Oleh karena itu, jadilah kita umat berislam yang “mustafsikun” atau yang berpegang erat dengan ajaran-ajarannya Kanjeng Nabi, yang tidak hanya mengaku beragama Islam, namun perilaku dan sifatnya tidak tercermin dalan Alquran dan Sunnah.
(Qnt)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *