Ngaji Ramadan

(Ngaji Qashidah Burdah) Bait 41 – 45

Posted on

فهو الذى تم معناه وصورته # ثم اصطفاه حبيبا بارئ النسم “Dialah rasul yang sempurna batin dan lahirnya , yang terpilih sebagai kekasih Allah pencipta manusia.” Bait ini menjelaskan tentang Nabi Muhammad yang memiliki kelebihan dari nabi-nabi sebelumnya. Nabi Muhammad memiliki kesempurnaan bentuk lahirnya (fisik) dan kesempurnaan batinnya (jiwa). Kata Al-musthofa memiliki banyak persamaan makna. […]

Ngaji Ramadan

(Ngaji Qashidah Burdah) Bait 38 – 40

Posted on

Kanjeng Nabi Muhammad SAW merupakan satu-satunya Nabi yang bisa memberikan syafaatnya di yaumil qiyamah. Beliau selalu mengajak umatnya untuk berpegang teguh pada tali Agama Allah agar kelak bisa mendapatkan karunia-Nya. Hal ini disebabkan karena adanya keistimewaan-keistimewaan yang ada pada diri Nabi Muhammad, dalam nadham burdah keistimewaan nabi dijelaskan seperti; فَاقَ النَّبِييْنَ فِي خَلْقٍ وَّفِيْ خُلُقٍ […]

Ngaji Ramadan

(Ngaji Qashidah Burdah) Bait 34 – 37

Posted on

مُحَمَّدٌ سَيّدُ الْكَوْنَيْنِ وَالثَّقَلَيْـــــــ ۞ نِ وِالفَرِيقَيْنِ مِنْ عُرْبٍ وَمِنْ عَجَم نَبِيّنَا اْلآمِرُ النّاهِي فَلَا أَحَدٌ ۞ أَبَرَّ فِيْ قَوْلِ لاَ مِنْهُ وَلاَ نَعَمِ Pada bait ini, kita mengetahui bahwa Nabi Muhammad Saw. ditempatkan pada kedudukannya sebagai Rasul terakhir. Beliau adalah نَبِيُّنا (Nabi kita, para umat Islam) yang mana perintahnya pasti merupakan sesuatu yang baik, […]

Ngaji Ramadan

(Ngaji Qashidah Burdah) Bait 29 – 33

Posted on

ظَلَمْتُ سُنّةَ مَنْ أَحْيَا الظَّلَامَ إِلىٰ ۞ أَنِ اشْتَكَتْ قَدَمَاهُ الضّرّ مِنْ وَرَمِ “Saya dzolim terhadap sunnah seorang yang menghidupkan malam hingga bengkak kedua kakinya” Dalam bait ini, penyair mengaku betapa dzolim dirinya. Mengaku mencintai Kanjeng Nabi namun tidak melakukan sunnah-sunnahnya. Salah satunya adalah sholat malam yaitu sholat tahajjud di sepertiga terakhir malam. Bahkan dalam […]

Ngaji Ramadan

(Ngaji Qashidah Burdah) Bait 25 – 28

Posted on

وَلاَ تُطِعْ مِنْهُمَا خَصْمًا وَلاَحَكَمًا ۞ فَأَنْتَ تَعْرِفُ كَيْدَ الخَصْمِ وَالْحَكَمِ “Lawan dan tentanglah nafsu dan setan. Kalaupun keduanya memberi nasihat, maka curigailah.” Bait ini masih berkaitan dengan bait kemarin, yang disebutkan bahwa syarat utama taubat adalah menyesal. Pada bait ini, syarat yang kedua dari taubat adalah dia harus bisa menghindar dari dosa dan menahan […]

Ngaji Ramadan

(Ngaji Qashidah Burdah) Bait 21 – 24

Posted on

وَرَاعِهَا وَهْيَ فِيْ الأَعْمَالِ سَآئِمَةٌ ۞ وَإِنْ هِيَ اسْتَحْلَتِ الْمَرْعَى فَلاَتُسِمِ “Jagalah hawa nafsumu sebagaimana engkau menjaga hewan ternakmu. Ketika ia merasa nyaman di tempat penggembalaan, maka pindahkanlah” Dalam bait ini, penyair menggambarkan hawa nafsu sebagai hewan ternak. Sebagaimana umumnya, hewan ternak merupakan hewan yang sudah jinak. Meskipun begitu, ia tetaplah hewan yang tidak berakal […]

Ngaji Ramadan

(Ngaji Qashidah Burdah) Bait 16 – 20

Posted on

مَنْ لِي بِرَدِّ جِمَاحٍ مِنْ غَوَايَتِهَ ۞ كَمَا يُرَدُّ جِمَاحُ الَخَيْلِ بِاللُّجُم “Siapa gerangan yang mampu mengembalikan hawa nafsu dari kesesatan, sebagaimana tali kekang yang mampu mengendalikan kuda liar” Melalui bait ini penyair bukan hanya menyesali. Tetapi ingin kembali menjadi orang yang benar. Begitu pula penyair ingin memiliki guru atau orang yang mampu mengembalikan kesesatan […]

Ngaji Ramadan

(Ngaji Qashidah Burdah) Bait 13 – 15

Posted on

Setelah pada Bagian Pertama dari Kitab Burdah ini membahas tentang rasa cinta dan rindu kepada Nabi Muhammad SAW. Kali ini memulai pembahasan Bagian Kedua tentang Peringatan Bahayanya Hawa Nafsu. فَإِنّ أَمّارَتِ بِالسّـوءِ مَا اتّعَظَتْ ۞ مِنْ جَهْلِهَا بِنَذِيرِ الشّيْبِ وَالَهَرَمِ Penyair menyatakan bahwa dirinya merasa enggan menerima nasihat dan peringatan dari uban yang tumbuh di […]

Ngaji Ramadan

(Ngaji Qashidah Burdah) Bait 9 – 12

Posted on

Pada pembahasan sebelumnya, Imam Busyiri menjelaskan tentang syair kerinduan kepada Kanjeng Nabi. Bahwa seseorang yang sangat merindukan Kanjeng Nabi, sangat kuat menahan kerindunya sampai-sampai ia terus menangis dan sakit-sakitan. Syair kerinduannya dilanjutkan pada nadhom berikut; يَا لَا ئِمِي فِي الهَوَى العُذْرِيِّ مَعْذِرَةً ۞ مِنّي إِلَيْكَ وَلَوْ أَنْصَفْتَ لَمْ تَلُمِ “Wahai engkau orang yang mencelaku lantaran […]

Ngaji Ramadan

(Ngaji Qashidah Burdah) Bait 4 – 8

Posted on

Sebagaimana kita ketahui, tiga bait pertama yang telah diterangkan pada pertemuan sebelumnya menunjukkan sikap penyair mengapa beliau sedih. Padahal beliau hanya melihat tetangganya, merasakan angin, atau melihat kilat. Kemudian bait selanjutnya mengutarakan bathinannya. أَيَحَسَبُ الصَّبُّ أَنَّ الْحُبَّ مُنْكَتـــِمٌ ۞ مَا بَيْنَ مُنْسَجِمٍ مِنْهُ وَمضْطَــــرِمِ “Adakah orang yang merindu dapat mengira bahwa kerinduan yang ia pendam […]