Ngaji RamadanPengajian OnlinePesantrenQashidah Burdah

(Ngaji Qashidah Burdah) Bait 29 – 33

ظَلَمْتُ سُنّةَ مَنْ أَحْيَا الظَّلَامَ إِلىٰ ۞ أَنِ اشْتَكَتْ قَدَمَاهُ الضّرّ مِنْ وَرَمِ
“Saya dzolim terhadap sunnah seorang yang menghidupkan malam hingga bengkak kedua kakinya”

Dalam bait ini, penyair mengaku betapa dzolim dirinya. Mengaku mencintai Kanjeng Nabi namun tidak melakukan sunnah-sunnahnya. Salah satunya adalah sholat malam yaitu sholat tahajjud di sepertiga terakhir malam. Bahkan dalam satu riwayat Kanjeng Nabi pernah sholat sepanjang malam hingga kedua kaki beliau bengkak.

وَشَدّ مِنْ سَغَبٍ أَحْشَاءَهُ وَطَوٰى ۞ تَحْتَ الْحِجَارَةِ كَشْحًا مُتْرَفَ الَدَمِ
“(Kanjeng Nabi) mengikat perutnya sebab lapar dan melipatnya di bawah batu pada pinggul yang halus kulitnya”

Kanjeng Nabi pernah kelaparan hingga mengikat perutnya dengan mengganjal batu. Hal ini pernah beliau lakukan saat akan Perang Khandaq. Ketika sedang menggali parit, seorang sahabat datang kepada beliau mengeluhkan lapar. Kanjeng Nabi pun menjawab dengan mengatakan beliau pun merasakan yang sama sambil menunjukkan perut beliau yang diikat.

وَرَاوَدَتْهُ الْجِبَالُ الشُّمّ مِنْ ذَهَبٍ ۞ عَنْ نَفْسِهِ فَأَرَاهَا أَيَّمَا شَمَمِ
“Kendati gunung emas menjulang menawarkan dirinya, beliau menolak dengan perasaan tidak butuh”

Suatu ketika Jibril datang kepada Kanjeng Nabi menyampaikan salam serta menawarkan harta kekayaan sebanyak gunung yang menjulang tinggi. Namun Kanjeng Nabi menolak karena merasa cukup dengan anugerah yang diberikan oleh Gusti Allah.

وَأَكَّدَتْ زُهْدَهُ فِيْهَا ضَرُورَتُهُ ۞ إِنَّ الضَرُورَةَ لَا تَعْدُوْ عَلىَ الْعِصَمِ
“Sungguh menambah kezuhudan Kanjeng Nabi, butuh harta namun tidak menerimanya. Meskipun ketika butuh harta, tidaklah merusak nilai kesuciannya”

Kezuhudan Kanjeng Nabi semakin terlihat padahal beliau dalam keadaan darurat atau membutuhkan harta (sebab kelaparan). Menurut KH. Zainal Abidin Krapyak, “Zuhud iku ora til kemanthil ng dunyo” (Zuhud itu tidak bergantung sama sekali dengan dunia). Zuhud menurut KH. Ali Maksum Krapyak yaitu ketika melihat dunia seperti melihat pasir, biasa saja sebab dimanapun ada.

Dalam hal kekayaan dunia, Kanjeng Nabi bukannya tidak bisa memiliki, namun tidak mau memiliki. Padahal kalau pun dapat memiliki, tidak akan digunakan untuk kepentingan pribadi dan bukan merupakan perbuatan tercela.

فَكَيْفَ تَدْعُوا إِلَي الدّنْــيـــا ضَرُورَةُ مَنْ ۞ لَوْلَاهُ لَمْ تَخْرُجِ الدّنْيَا مِنَ العَدَمِ
“Bagaimana mungkin beliau butuh kemewahan dunia sedangkan dunia ada sebab adanya beliau?

Sebelum diciptakannya Nabi Adam as, sebelum diciptakannya dunia serta seisinya, Gusti Allah telah menciptakan Nur Muhammad. Seluruh dunia ini diciptakan sebab terciptanya Kanjeng Nabi. Bagaimana mungkin beliau membutuhkan pada sesuatu yang keberadaannya adalah karena beliau?
(YM)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *