BeritaRMI

RMI PWNU DIY Selenggarakan DAMPARAN: Forum Diskusi Kiai dan Bu Nyai Ponpes NU se-DIY

Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PWNU DIY menyelenggarakan diskusi DAMPARAN RMI Forum Kiai dan Bu Nyai se-DIY dengan mengangkat tema Ikhtiar Bersama Menuju Pesantren Lebih Mandiri, Berdaya, Berkualitas, dan Berbudaya (9/9) di Auditorium Hasyim Asy’ari, Menara Al Musthofa Universitas Alma Ata Yogyakarta. Acara ini dihadiri oleh jajaran pengurus RMI PWNU DIY, 210 Kiai dan Bu Nyai se-DIY, juga turut hadir Rektor Universitas Alma Ata Bapak Prof. Dr. H. Hamam Hadi, MS., Sc.D., Sp.GK.

Acara dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh saudara Luqman (Santri Tahfidz MA Ali Maksum), dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Ya Lal Wathon. Selanjutnya sambutan yang disampaikan oleh bapak KH. Nilzam Yahya (Pengasuh Pondok Pesantren Krapyak) selaku ketua RMI PWNU DIY. Beliau mengucapkan selamat datang dan terima kasih kepada tamu undangan yang hadir. Beliau menyampaikan bahwa dalam forum ini kita bisa mendapatkan silaturahmi dan bisa merealisasikan program yang sedang viral saat ini yaitu pesantren ramah anak dan perempuan. “Mengawal keberpihakan UU Pesantren untuk pondok-pondok NU mulai hal-hal yang sifatnya administrative (NSPP, UHU) hingga hal-hal yang sifatnya substansil terkait kebijakan pondok yang ramah lingkungan, anak, dan perempuan, sistem pengajaran, kurikulum, dan lainnya”.

DAMPARAN adalah forum komunikasi Kiai dan Bu Nyai pimpinan ponpes NU se-DIY, forum musyawarah untuk merespon berbagai problematika yang ada di sekitar lingkungan pesantren. Melalui forum musyawarah ini, seluruh pesantren se-DIY tidak hanya dapat bermusyawarah di level kebijakan pesantren, dan forum musyawarah di level implementasi kebijakan yang akan dilaksanakan di forum komunikasi lurah pondok se-DIY.

Bapak Kiai Nilzam juga menyampaikan program RMI pada bulan Oktober mendatang, yakni Hari Santri, Pendampingan Undang-undang Pesantren yang mana RMI akan silaturahmi ke pondok pesantren DIY dalam bidang UU Pesantren, Mensyiarkan atau membiasakan Bahtsul Masail di Pondok Pesantren. Sedangkan program RMI yang sudah berjalan diantaranya UHU, Pesantren Ramah Anak dan Perempuan, Pembentukan Forkom Lurah Pondok se-DIY.

Kemudian dalam sambutan kedua dari Prof. Dr. H. Hamam Hadi, MS., Sc.D., Sp.GK (Rektor Universitas Alma Ata) selaku Shohibul Bayt. Mengucapkan ahlan wa sahlan dan terima kasih kepada para tamu undangan yang hadir. Beliau juga berharap bahwa acara ini tidak terpisahkan dari sederetan perjuangan Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari. “Meneruskan tongkat pertama dari kiai Hasyim Asy’ari, suatu kehormatan yang luar biasa atas terpilihnya Universitas Alma Ata sebagai tuan rumah, guna bermanfaat bagi kaum muslimin dan NU”. Ungkap beliau.

Prof. Hamam Hadi juga menjelaskan salah satu program Universitas Alma Ata yaitu LPD, yang mana dipercaya unutk melatih peningkatan kapasitas kepala sekolah, dan baru saja Alma Ata melakukan pemberangkatan asistensi mengajar, ratusan mahasiswa untuk mengisi dibeberapa Sekolah Dasar Kecamatan Kasihan. Yang mana program ini sebagai bentuk dukungan Alma Ata kepada NU khususnya organisasi-organisasi di bawah NU. Terakhir, beliau meminta doa restu semoga semua keluarga besar Universitas Alma Ata selalu diberikan kekuatan, kemudahan, keberkahan untuk selalu bisa berkhidmah bagi umat muslim dan keluarga NU.

Selanjutnya diskusi yang dibuka oleh moderator yaitu KH. Khoiron Marzuqi. Kiai Khoiron Marzuqi menyampaikan beberapa hal yang perlu diperhatikan pada fotum ini yaitu terkait UU Pesantren, Kurikulum Pesantren, Fenomena Masjid yang kurang memperhatikan tajwid dan lebih mengedepankan lantunan suara yang merdu, hingga trend-trend berita terkini seputar pesantren yang telah melakukan empat pembaruan yaitu substansi, metodologi, kelembagaan, dan juga fungsi.

Pada kesempatan ini KH. Dr. Hilmy Muhammad, MA (pengasuh Pondok Pesantren Krapyak) anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia (RI) sebagai pembicara pertama mengungkapkan bahwa tema yang diusul semoga benar-benar bisa mengusahakan kesejahteraan atau pemerataan pembangunan pada pondok pesantren DIY. “Tema ini sangat penting untuk mengawali hal yang baik. Memajukan bersama, menolong pesantren-pesantren yang kurang maju, sejahtera bersama-sama bergotong royong. Apa yang sudah di programkan oleh RMI DIY untuk selalu didukung.” Ungkap beliau.

Beliau juga menyampaikan, dulu ketika beliau menjabat sebagai kepala Madrasah Aliyah Ali Maksum, Gus Hilmy (sapaan akrab beliau) mempunyai idealis bahwasanya yang nama nya santri itu harus bisa baca kitab kuning. Membuka beberapa jurusan tapi harus tetap mempunyai standar bahwa santri itu harus bisa baca kitab kuning. “Sekarang kita harus menyiapkan santri untuk bisa memasuki perguruan tinggi negeri seperti UGM, UNY, UI, dan lain sebagainya. Kalau jurusan IPA dan IPS tidak kita kelola dengan baik, artinya bekal mereka akan kurang.” Tambah Gus Hilmy.

Saat ini MAN Insan Cendikia adalah SMA terbaik se-Indonesia, 90% santri nya bisa masuk perguruan tinggi negeri. Terbukti dengan strategi yang dilakukan oleh MAN IC salah satunya yaitu Potret Diri berupa kegiatan penggali potensi minat dan bakat siswa oleh psikolog professional, serta pedampingan pengelolaan emosional siswa. “Selama ini kita mengajarkan anak tentang etika, tapi yang harus kita ajarkan adalah etika moral, bagaimana anak itu harus diajarkan untuk bersikap jujur, agar kelak santri dapat menjadi calon pemimpin yang berakhlak dan beradab.” Terang beliau.

Pembicara kedua oleh KH. A. Kharis Masduki (pengasuh Pondok Pesantren Darul Qur’an Wal Irsyad), berbicara tentang empat item tema pada pertemuan ini beliau menekankan bahwa kiai-kiai terdahulu bisa mewujudkan 4 item ini dan kalau kita meniru para kiai kita terdahulu maka seharusnya kita bisa mewujudkannya. Beliau menyampaikan perubahan situasi baik sosial maupun politik yang ini memerlukan untuk menyikapi agar pondok pesantren tetap eksis. “Banyak hal yang harus kita pikirkan untuk menuju itu, bagaimanapun kita harus bisa beradaptasi dengan tuntutan zaman.” Tambah beliau.

Banyak sekali pesantren-pesantren yang maju tapi sekarang hanya tinggal nama, salah satu penyebabnya karena kurangnya manajemen pesantren. “Problem pesantren saat ini menjadi rumit maka diperlukan pemikiran yang serius. MSDM dan MLKU (manajemen lembaga keuangan) sangat dibutuhkan sekali, agar kemandirian pondok pesantren bisa terjaga.” Ungkap beliau.

 

Pewarta: Meyreza DS

Fotografer: Amar dan Fikru

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *