Ngaji RamadanPengajian OnlinePesantrenQashidah Burdah

(Ngaji Qashidah Burdah) Bait 1 – 3

مَوْلَايَ صَلِّي وَسَلِّـمْ دَآئِــماً أَبَـدًا ۞ عَلـــَى حَبِيْبِـكَ خَيْــرِ الْخَلْقِ كُلِّهِمِ
“Wahai pelindung, limpahkanlah cinta dan keselamatan atas kekasih-Mu yang sebaik-baik makhluk terus-menerus selamanya”

Bait ini merupakan bait tambahan yang bukan ditulis oleh Imam Busiri namun selalu dilantukan ketika memulai dan mengakhiri pembacaan burdah. Maula berarti pemimpin atau pelindung. Gusti Allah menyebut dirinya sendiri dengan “Maula” seperti dalam Ali Imran ayat 150
بَلِ ٱللَّهُ مَوْلَىٰكُمْ ۖ وَهُوَ خَيْرُ ٱلنَّٰصِرِينَ
“Tetapi hanya Allah lah pelindungmu, dan Dia penolong yang terbaik”

Dalam bait ini kita memohon kepada Gusti Allah supaya mencurahkan cinta dan keselamatan kepada Kanjeng Nabi secara terus menerus (daiman) dan selamanya (abadan). Daiman artinya berlaku setiap zaman sedangkan abadan artinya tidak ada lagi pembatasan zaman. Pembatasan zaman contohnya seperti yang dinamakan pagi hari itu jam 6 sampai jam 11. Kanjeng Nabi dituliskan sebagai kekasih-Mu dengan menggunakan kata habib. Terdapat perbedaan antara habib dan khalil yang artinya juga kekasih. Kata khalil seperti yang disematkan pada Nabi Ibrahim as maksudnya adalah kekasih yang mencari sedangkan kata habib maksudnya kekasih yang dicari.

أَمِنْ تَذَكُّرِ جِيْرَانٍبِذِيْ سَــــلَــمٍ ۞ مَزَجْتَ دَمْعًا جَرَيْ مِنْ مُقْلَةٍ بِـــدَمِ

“Apakah karena teringat tetangga dari Dzi Salam engkau mengalirkan air mata yang bercampur dengan darah dari pelupuk mata?”

Kata tetangga (jiran) pada bait ini memiliki dua makna yaitu haqiqi dan majazi. Makna haqiqi (denotasi) kata tetangga adalah tetangga pada umumnya yaitu orang yang tempat tinggalnya dekat. Kedua, makna majazi (konotasi) yaitu tetangga yang dimaksud adalah kekasih yang seperti tetangga karena selalu dekat dan sering bersama. Kekasih di sini tak lain dan tak bukan adalah Kanjeng Nabi Muhammad saw.
Tadzakkur (mengingat) maksudnya adalah mengingat kembali memori. Dari memori atau kenangan yang kita miliki, kita bisa belajar. Pentingnya mengingat masa lalu karena dengan mengingat masa lalu kita menjadi tenang. Ketika mengalami masa susah, kita mengingat kembali di masa lalu juga pernah mengalami kesulitan sehingga merasa kuat untuk melewatinya kembali.

أَمْ هَبَّتِ الرِّيْحُ مِنْ تِلْقَاءِ كَاظِمَـــةٍ ۞ وَأَوْمَضَ الْبَرْقُ فِيْ الْضَمَآءِ مِنْ إِضَـمِ

“Ataukah karena semilir angin dari arah Kadzimah (Madinah) atau kilat yang bersinar dalam kegelapan malam di lembah Idlom?”

Madinah disebut dengan Kadzimah yang artinya sesuatu yang menahan. Maksudnya diharapkan penduduk Madinah menahan dari marah dan menjadi orang yang ramah. Bait ini menyebutkan dua keadaan dan dua waktu yang berbeda. Semilir angin menggambarkan keadaan tenang dan waktu siang sedangkan kilat yang bersinar menggambarkan keadaan gelisah dan waktu malam. Baik ketika tenang maupun gelisah, ketika siang maupun malam, selalu teringat dengan Sang Kekasih yang dirindukan.

Angin (al-riih) merupakan angin yang membawa kepedihan. Maksudnya adalah tidak selamanya cinta itu menyenangkan. Ada saat-saat dimana cinta terasa pedih karena rindu. Dalam cinta pula terkandung pengorbanan yang menyakitkan.

فَمَا لِعَيْنَيْكَ إِنْ قُلْتَ اكْفُفَا هَمَتَــا ۞ وَمَا لِقَلْبِكَ إِنْ قُلْتَ اسْتَفِقْ يَهِـــــمِ

“Ada apa dengan kedua matamu yang ketika engkau berkata ‘Cukuplah’ justru ia berlinangan? Ada apa pula dengan hatimu yang ketika engkau berkata ‘Tenanglah’ ia justru gundah?”

Bait ini menggambarkan betapa penulis tidak dapat menahan apa yang dia miliki. Matanya adalah miliknya namun ia tidak dapat menahan tangisnya. Begitu pula hatinya yang tidak dapat ia tenangkan. Bait ini pula menggambarkan hubungan komunikasi antara mata dan hati dimana cinta itu turun dari mata ke hati. Bahkan mata bisa menunjukkan perasaan yang tersimpan dalam hati.
(YM)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *