Menapaki Transisi Hidup dalam Ridha Allah, Hikmah Surat Al Mu’minun Ayat 29

KRAPYAK.org – Pernahkah kita merasa bukan lagi pribadi yang sama, meski tak tahu sejak kapan perubahan itu terjadi? Ataukah kita juga menyadari bahwa diri ini menjadi lebih dewasa dalam menyikapi suatu hal? Hal-hal yang kita alami tanpa disadari ini sering kali menjadi tanda adanya perubahan atau transisi dalam kehidupan.

Tidak dapat dipungkiri bahwa perubahan dan pertumbuhan merupakan bagian dari perjalanan hidup setiap manusia. Meski demikian, fase transisi pada setiap individu berlangsung dalam waktu yang berbeda-beda. Pepatah menyebutkan, hidup adalah pilihan. Ungkapan ini dapat dihubungkan dengan titik transisi seseorang, karena pada fase tersebut manusia dihadapkan pada pilihan: melangkah menuju perubahan atau tetap bertahan pada pola hidup yang lama.

Dalam masa transisi, manusia berada di ambang kondisi baru, namun belum sepenuhnya meninggalkan kebiasaan sebelumnya.

Pada masa transisi, berbagai perasaan kerap muncul secara bersamaan, seperti keraguan, harapan, ketakutan, serta keinginan untuk tumbuh. Perubahan lingkungan, tanggung jawab, dan peran sosial menuntut seseorang untuk menata ulang cara berpikir, cara menyikapi permasalahan, serta cara bertindak. Perpindahan jenjang pendidikan, seperti dari sekolah dasar ke sekolah menengah atau dari sekolah menengah menuju perguruan tinggi, merupakan contoh nyata masa transisi yang dipengaruhi oleh lingkungan sosial yang baru. Tidak jarang seseorang merasa asing dan canggung, sehingga mau tidak mau harus menjalani proses penyesuaian diri.

Sebagai umat Islam, kita meyakini bahwa segala sesuatu dalam kehidupan telah diatur sedemikian rupa oleh Allah Ta’ala, termasuk masa transisi yang dijalani manusia. Meski demikian, keyakinan terhadap ketetapan Allah tidak menjadikan manusia berdiam diri tanpa usaha. Ikhtiar tetap menjadi bagian penting dalam menjalani setiap perubahan. Seperti yang dapat kita pelajari dari Surat Al-Mu’minun ayat 29 yang berisi doa Nabi Nuh:

وَقُلْ رَبِّ أَنْزِلْنِي مُنْزَلًا مُبَارَكًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْمُنْزِلِينَ

 “Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkahi, dan Engkau adalah sebaik-baik pemberi tempat.”

Doa Nabi Nuh yang memohon tempat yang baik dan penuh keberkahan menunjukkan bahwa setiap perubahan besar dalam hidup membutuhkan keterlibatan Allah. Ayat ini menegaskan bahwa keselamatan dan keberhasilan dalam masa transisi tidak cukup dicapai melalui usaha semata, melainkan harus disertai ikhtiar dengan doa, tawakkal, serta keyakinan penuh kepada Allah Ta’ala.

Dengan demikian, pemahaman bahwa hidup adalah pilihan menjadi semakin penting. Seseorang dapat memilih untuk terpuruk dalam kebingungan atau menjadikan perubahan sebagai sarana pendewasaan diri. Ketika pilihan tersebut dilandasi dengan iman dan doa, kehidupan tidak hanya sekadar berjalan, tetapi juga memiliki tujuan serta arah yang jelas.

Pewarta: Annisa Maulidia Salma (XII IPA C) | Dikutip dari Pengajian Ramadan 1447 H Kitab Ad Du’a Al Qur’aniyah oleh Ibu Nyai Fatma Zuhrotun Nisa 16 Februari 2026