Dua Hal yang Tidak Dapat Menjadi Satu Kesatuan, Kebohongan dan Kewibawaan

KRAPYAK.org – Di tengah kehidupan sosial hari ini, kepercayaan menjadi nilai yang kian mahal. Setinggi apa pun jabatan seseorang, kepercayaan tidak pernah lahir dari janji-janji manis di awal, melainkan dari tindakan nyata yang bersih dari kebohongan. Ketika dusta menjadi kebiasaan, kepercayaan pun perlahan runtuh. Pertanyaannya kemudian, bagaimana seseorang dapat membiasakan diri pada hal-hal baik?

Hubungan antarmanusia pada dasarnya dibangun oleh kata. Jika kata yang diucapkan berisi kebenaran, hubungan akan terjaga. Namun, ketika kebohongan menyusup ke dalam ucapan, kerusakan menjadi keniscayaan. Di antara sekian banyaknya anggota tubuh yang Allah ciptakan, lisan menempati posisi yang sangat istimewa. Dengan lisan, manusia dapat melantunkan dzikir, membaca Al-Qur’an, bahkan mengikrarkan kalimat tauhid lā ilāha illallāh. Karena itulah, Allah Ta’ala tidak senang jika ucapan tak pantas yang keluar dari lisan seseorang, apalagi kebohongan.

عَوِّدْ لسانك قًوْلَ الصِّدْق تَحْظَ به

إنّ الّلسان لما عَوَّدْتَ مُعتادُ

Biasakanlah lisanmu berkata jujur, niscaya engkau akan mulia karenanya. Sesungguhnya lisan itu akan terbiasa dengan apa yang sering engkau biasakan. Syair ini menegaskan bahwa kebiasaan seseorang terbentuk dari apa yang terus-menerus ia latih atau biasakan. Ketika lisan (perkataan) dibiasakan untuk mengucap kebaikan, maka kebaikan pula yang akan mengalir darinya.

Sebaliknya, bohong merupakan antitesis dari kejujuran. Dalam Kitab Mabādi’ Khair Ummah, bohong didefinisikan sebagai perilaku menyampaikan suatu kabar yang tidak sesuai dengan kenyataannya. Sekilas tampak sepele, namun satu kebohongan saja dapat merusak banyak aspek kehidupan. Seperti integritas yang runtuh tidak tercapai, munculnya keretakan dalam hubungan, dan hilangnya kepercayaan. Lebih berbahaya lagi, bohong memiliki sifat adiktif, candu: sekali dilakukan, ia cenderung diulang dan dipelihara.

Terdapat dua hal yang tidak dapat menjadi satu kesatuan, yakni kebohongan dan kewibawaan. Wibawa adalah suatu kehormatan yang tidak akan hilang, tetap melekat, meski dihadapan orang yang lebih tua. Menyadari keduanya tak dapat disatukan, kejujuranlah satu-satunya cara menjadi orang yang berwibawa. Sebab, seperti yang kita ketahui, satu kebohongan saja maka akan hilang pula seribu kepercayaan. Orang dinilai ‘hidup’ karena ucapannya. Ketika ucapan tak lagi dipercaya, ia seperti berbicara tanpa pendengar. Hidup, namun tak lagi didengar.

Kejujuran, bukan hanya perkara ucapan atau lisan saja, melainkan tindakan juga satu hal yang tak lepas dari apa yang dikatakan. Ketika lisan dibiasakan berkata jujur, ia akan menjaga pemiliknya dari ucapan yang tak pantas, apalagi kebohongan yang tak memiliki dasar kebenaran.

Pewarta: Naila Nafisatul Aufa (XII Bahasa B) | Dikutip dari Pengajian Ramadan 1447 H Kitab Mabādi’ Khair Ummah oleh KH Hilmy Muhammad 16 Februari 2026