ArtikelJamaah Sholawat Dibaiyyah bil-Mushtofa

Majelis Sholawat Bil Musthofa, Spesial Haul KH. Ali Maksum ke-33

Majelis sholawat Bil Musthofa yang rutin dilaksanakan setiap Rabu malam, kali ini terasa lebih spesial karena bertepatan dengan rangkaian acara Haul Simbah KH. Ali Maksum yang ke-33. Pada hari Rabu 15 Desember 2021, masyarakat berbondong-bondong menghadiri majelis sholawat Bil Musthofa yang pada malam itu dimeriahkan oleh Cucu Habib Muhammad Luthfi bin Yahya Pekalongan, beliau Habib Zaidan bin Yahya, dan juga Ustadz Sholeh Ilham Yogyakarta.

Setelah pembacaan maulid, acara dilanjut dengan manaqib Simbah KH. Ali Maksum oleh alumni-alumni yang dahulu berinteraksi langsung dengan Simbah KH. Ali Maksum. Cerita pertama disampaikan oleh KH. Maimoen Mabarrun. Beliau menceritakan bahwa dahulu beliau pernah merasa marah dengan Simbah Ali karena suatu kesalahpahaman, lalu beliau bolos sorogan selama beberapa hari, hingga akhirnya beliau dipanggil Mbah Ali melalui seorang santri, dengan malas beliau membaca kitab di hadapan Mbah Ali. Ketika selesai Mbah Ali memberikan sebuah tulisan kepada beliau yang isinya kalimat pujian atas arti nama beliau. Karena terlalu senang, beliau langsung lari tanpa pamit dan salim terlebih dahulu kepada Mbah Ali, dan memberitahukan kepada seluruh santri di kompleknya atas apa yang Simbah Ali tuliskan untuk beliau. Semenjak hari itu beliau selalu mengikuti kemana pun Simbah Ali pergi, karena besarnya rasa ta’dzim beliau kepada Simbah KH. Ali Maksum.

Cerita kedua disampaikan oleh KH. Ihsanuddin, Lc., beliau menyampaikan bahwa Simbah KH. Ali Maksum merupakan sosok familiar terutama kepada santri, hampir tidak ada santri yang tidak dikenal oleh Mbah Ali. Beliau juga menyebutkan bahwa Mbah Ali adalah sosok yang sederhana, yang beranggapan bahwa waktu di dunia hanyalah sementara, jadi segala sesuatu itu dinikmati jangan dibuat ribet, hal inilah yang harus diteladani oleh para santri.

Selanjutnya KH. Habib Syakur menyampaikan bahwa KH. Ali Maksum ibarat Matahari yang menyinari masyarakat Krapyak, karena pada saat itu hanya Mbah Ali satu-satunya kyai yang ada di Krapyak sepeninggal Simbah Moenawwir, Simbah Zainal, Simbah Warson. Beliau juga menyebutkan bahwa Mbah Ali merupakan cahaya di atas cahaya. Ilmu itu cahaya, setiap kyai yang membawa ilmu juga termasuk cahaya. Dari sekian banyaknya kyai yang ada, Mbah Ali merupakan sosok yang lebih terang cahayanya dibandingkan kyai lain, karena Mbah Ali yang telah mengarahkan beliau ke jalan yang benar.

Bapak Munawwir sebagai anggota DPR (baca DaPuR) yang dulunya selalu mengikuti Simbah KH. Ali Maksum menceritakan bahwa ada satu maqalah yang disampaikan oleh Mbah Ali, yang beliau baru paham artinya setelah beberapa tahun setelahnya, yang ternyata mengandung pesan bahwa “ketika menjadi kyai/pemimpin, jangan sembarang bicara, pikirkan dulu apa yang akan disampaikan, jangan sampai menyakiti hati orang lain”. Hal ini beliau pahami maknanya hampir sama dengan makna blangkon bagi masyarakat Jogja yang merupakan peninggalan dari Sunan Kalijaga. Beliau juga menambahkan jika Mbah Ali merupakan sosok yang romantis kepada istrinya Mbah Nyai Hasyimah, dengan beberapa kisah yang sebelumnya telah beliau tulis dalam buku cerita mengenai Simbah Ali Maksum. Hal ini menandakan bahwa romantisme itu penting dalam kehidupan, baik itu kehidupan rumah tangga maupun kehidupan dengan masyarakat dan lingkungan sekitar.

Sebagai pemungkas manaqib, KH. Henry Sutopo mengutip dari buku beliau yang berjudul “Catatan Seorang Santri” halaman 267 mengenai syafa’atul udzma. Di sini beliau mengisahkan bahwa Mbah Ali memandang santri sebagai Mujahid fii sabilillah yang tidak boleh dikecewakan dan harus dibahagiakan. Dahulu Mbah Ali sering meluluskan santri yang aslinya tidak lulus, hal inilah yang disebut dengan syafa’atul udzma. Beliau merasa harus meluruskan permasalahan tersebut supaya tidak terulang di masa yang akan datang. Kemudian beliau menawarkan diri sebagai ketua panitia ujian yang biasanya bertugas sowan ke Mbah Ali untuk melaporkan santri yang tidak lulus. Atas kegigihan beliau, dengan dasar bahwa meluluskan santri yang tidak seharusnya lulus merupakan perbuatan dzolim, maka beliau berhasil meyakinkan Mbah Ali untuk tidak meluluskan santri-santri yang memang seharusnya tidak lulus.

Kemudian acara dilanjut dengan Tahlil dan Doa yang dipimpin oleh KH. Ihsanuddin, Lc., dan ditutup dengan Doa yang dipimpin oleh KH. Zaky Muhammad Hasbullah.

(Zulfa Tsaqilatul Muna/Santro Gedung Putih)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *