KH. Zaky Muhammad: Bentuk Mencintai Kanjeng Nabi di Masa Kini

Pada rangkaian acara memperingati maulid Nabi Muhammad Saw. Jum’at (7/10/22) KH Zaky Muhammad menyampaikan mauidhoh hasanah yang cukup singkat namun sangat berbobot isinya. Pada kesempatan tersebut KH Zaky Muhammad membungkus mauidhoh hasanah dengan menceritakan sejarah hidupnya bersama Simbah KH Ali Maksum dan pengalaman yang beliau miliki.

Dulu ketika Kiai Zaky masih menjadi siswa madrasah tsanawiyah pernah bertanya kepada Mbah Ali Maksum mengenai hukum minum minuman beralkohol. Pada waktu itu sedang ada bahtsul masail di Masjid Krapyak mengenai hukum hal-hal yang beralkohol, entah itu makanan, minuman, parfum, maupun hal yang lainnya.

 “Karna saya masih kecil, ki ngomong opo?” Ungkapnya melucu. Akhirnya kemudian Kiai Zaky menemui Mbah Ali di kamarnya Mbah Ali dengan maksud untuk menanyakan hal tersebut, dan melihat ada sprite di kamar Mbah Ali. Kiai Zaky bertanya kepada Mbah Ali. “Mbah, hukumnya minum minuman beralkohol apa?”, tak langsung menjawab, Mbah Ali Maksum mengambil botol sprite yang ada di tangan Kiai Zaky, dan meminum sprite itu. “Enak kok ora oleh.” Responnya tanpa memberikan alasan. Suatu Ketika Kiai Zaky bertanya lagi kepada Mbah Ali Maksum. Bolehkan kita sekarang sholat ghoib kepada kanjeng nabi yang sudah bertahun-tahun wafat. Jawabnya singkat, “boleh.”

Untuk perkara yang pertama, Kiai Zaky menyadari ternyata yang namanya alkohol, di mana-mana ada;  apel, pisang, kopi, teh pasti ada alkoholnya walaupun sangat sedikit. Yang penting pakai kaidah kanjeng nabi كُلُّ مُسْكِرٍ خَمْرٌ, setiap yang memabukkan haram.

Untuk perkara yang kedua mengenai sholat ghaib, “sholat ghaib itu niatnya bagaimana?  أُصَلِّي عَلَى مَيِّتِ . Sedangkan Kalau sholat isya أُصَلِّ فَرْضَ العِشَاءِ  tidak ada ‘عَلَى’. Dan kalau sholawatan pakai ‘عَلَى’ maka kesimpulannya sholat ghaibnya kita kepada kanjeng nabi adalah dengan sholawatan. Kalau sholat ghaib biasanya sekali, tapi kalau sholawatan berkali-kali. Iki bedane. Masyaallah.” Penjelasan rinci Kiai Zaky kepada seluruh yang hadir dalam majelis.

Kemudian mauidhoh hasanah yang beliau sampaikan mengenai mahallul qiyam. Beliau menanyakan dalil mengenai mahallul qiyam kepada Habib Ali bin Alwi bin Ali Al Habsyi, cucunda Habib Ali Al Habsyi, pengarang Maulid Simthudurror. Dijawab singkat oleh Habib Ali “laa daliilun”, tidak ada dalil. Beberapa bulan kemudian Kiai Zaky baru paham bahwa Ketika kita ingin mahallul qiyam tidak perlu dalil. “Nek seneng ngadek”, jika senang dengan Kanjeng Nabi bersholawatlah.

 

 

Pewarta : Qonita KH

Editor : Meyreza DS

Fotografer : Galih A