Artikel

Gus Baha’: Ziarah Kubur Menurut Kitab Hujjah Ahlus Sunnah wal Jamaah Karangan KH. Ali Maksum

Haul Al-Maghfurlah KH. Ali Maksum ke-33 masih dilaksanakan secara daring dengan hadirin terbatas. Tamu undangan antara lain sanak saudara dan pengasuh pondok pesantren. Di antara yang hadir adalah KH. Ahmad Baha’uddin Nur Salim (Gus Baha’) yang turut menyampaikan mauidloh hasanah. Pada kesempatan tersebut, Gus Baha’ menjelaskan perkara ziarah kubur yang kerap dipersoalkan sebagian orang. Penjelasan tentang ziarah kubur beliau nukil dari Kitab Hujjah Ahlus Sunnah wal Jama’ah karangan KH. Ali Maksum.

Kyai Ali menulis kitab tersebut ketika terjadi polemik orang-orang yang melarang ziarah. Kyai Ali mengungkapkan, “Apakah saya ini sudah gila dengan menghalangi umat bertemu dengan Rasulullah SAW?” Logika yang beliau bangun sederhana; orang yang melarang ziarah kubur sama saja dengan menahan pertemuan antara Kanjeng Nabi dengan umatnya.

Sayyid Muhammad ketika mengarang Kitab Haulal Ihtifal bi Maulidir Rasul mengatakan

“Jika anda menyoal Maulid Nabi (kelahiran Nabi) itu sama saja dengan pertanyaan ‘Kenapa anda senang dengan Nabi?’ Padahal seorang anak yang dari lahir “nakal” dan “menyusahkan” orang tuanya, memiliki masa depan yang belum jelas kelahirannya tetap disambut dengan gembira. Sementara Kanjeng Nabi sudah jelas lahir untuk menyelamatkan umat. Mengapa harus dipertanyakan mengapa senang dengan Kanjeng Nabi? 

Selanjutnya, Gus Baha’ memberikan penjelasan tentang hadits La’ana Allahu zawwaratil kubur. Dalam hadits ini terdapat sighot mubalaghoh. Kata zawwarat artinya perempuan-perempuan yang terlalu sering ziarah, bukan hanya pernah. Oleh karena terlalu sering ziarah, ia melupakan kewajiban-kewajiban sebagai istri. Inilah yang dilarang oleh Kanjeng Nabi. 

Seandainya semua peziarah perempuan haram, tidak mungkin ada riwayat seperti ini. Pun andaikan semua ziarah haram, Kanjeng Nabi tidak mungkin menjawab pertanyaan Aisyah. Dalam sebuah riwayat, Sayyidah Aisyah bertanya apa yang perlu ia baca ketika ziarah. Pertanyaan tersebut lantas dijawab oleh Kanjeng Nabi bahwa bacaan ketika ziarah adalah Assalamu’alaikum ahlad diyaril mukminin. Artinya Kanjeng Nabi memperbolehkan Sayyidah Aisyah ziarah dan tentu kita tau bahwa Sayyidah Aisyah adalah seorang perempuan. 

Riwayat lain juga menyebutkan bahwa Kanjeng Nabi juga sering bertemu perempuan yang menunggui atau ziarah ke makam putranya dan tidak mengingkarinya. Disebutkan juga bahwa Sayyidah Fatimah juga berziarah ke makan Sayyid Hamzah setiap Jum’at. 

(Yasmeen Mumtaaz)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *