Berita

Gus Baha: Sanad Keilmuan itu Harus Diulang-Ulang

 

“Saya tidak bosan-bosannya belajar (kitab) Hujjah Ahlus Sunnah wal Jama’ah,” ungkap KH. Baha’uddin Nur Salim atau akrab disebut Gus Baha’ dalam Majelis Haul KH. Ali Maksum ke-32 yang dihelat secara terbatas pada Rabu, 23 Desember 2020. Kitab Hujjah merupakan salah satu kitab karangan dari KH. Ali Maksum yang berisikan argumentasi-argumentasi paham ahlus sunnah wal jama’ah (aswaja). Dalam kitab tersebut, Mbah Ali terkadang memuji dan bersepakat dengan Ibnu Taimiyyah. Namun pada bagian lain, Mbah Ali mengkritik Ibnu Taimiyyah, seperti tentang ziarah kubur.

Dalam kitab tersebut, Mbah Ali pun menuliskan perihal Imam Syafi’i yang selalu ke makam Abu Hanifah untuk tawasul. Padahal Imam Syafi’i acap kali mengkritik Abu Hanifah dalam tatanan Fiqih. Namun Imam Syafi’I tau betul bahwa Abu Hanifah adalah orang yang sangat sholeh. Mengenai hal ini, Gus Baha’ berpesan agar santri tidak hanya mengkaji kitab-kitab Fiqih. Kalau hanya mengaji dan mengkaji Fiqih, Abu Hanifah seolah-olah sangat tidak ahli hadits.

Dengan mempelajari kitab Hujjah, kita menjadi tahu di balik banyaknya kritik yang dilakukan oleh Imam Syafi’i, beliau ternyata sangat hormat pada Abu Hanifah. Jika menilik pada kitab-kitab kewalian, Abu Hanifah adalah orang yang sangat mukasyafah. Beliau dapat mengetahui dosa-dosa yang diperbuat seseorang ketika melihat air wudlu yang jatuh dari orang tersebut.

Tradisi hujjah (berargumentasi) juga tampak pada ulama-ulama Nusantara dulu. “Dulu ulama kelihatannya sederhana tapi kalau berargumentasi hebat,” tutur Gus Baha’. Hal ini tercermin pada KH. Hasyim Asy’ari yang mengharamkan kentong dan menuangkannya dalam karangan kitab beliau.

Kitab ini kemudian dikritisi oleh KH. Faqih Maskumambang yang menyatakan kentong di Indonesia itu untuk wedhus dicolong (kambing yang dicuri) sehingga sama sekali tidak ada persamaan dengan kentong milik orang Nasrani. “Tradisi keilmuan itu harus dijaga dengan hujjah dan dengan tadwin, pembukuan,” tergas Gus Baha’. Bagus jika seorang kyai “berdebat” dengan kyai lain. Artinya bukan berarti kedua kyai tersebut bermusuhan. Namun mentradisikan pemikiran-pemikiran kritis, tradisi hujjah.

Ada sebuah kisah menggelitik yang terjadi ketika KH. Hasyim Asy’ari mengunjungi KH. Dimyathi Tremas. Menjelang kedatangan KH. Hasyim Asy’ari, KH. Dimyathi mendawuhi santrinya untuk menyembunyikan semua kentong yang ada. Ketika akhirnya rawuh, KH. Hasyim Asy’ari senang karena KH. Dimyathi bersepakat dengan beliau perihal keharaman kentong.

Tak dinyana, seorang santri datang dan matur kepada KH. Dimyathi bahwa kentong sudah aman disembunyikan semua ketika KH. Hasyim Asy’ari berada di situ pula. Hilang “kepedean” KH. Hasyim Asy’ari ketika mendengar hal tersebut.

Selanjutnya, Gus Baha’ menyampaikan tentang pentingnya dzuriyyah (keluarga, keturunan) karena dzuriyyah lah yang memberikan status kepada leluhurnya. Gus Baha’ menuturkan ketika beliau menziarahi makan Nabi Ya’qub, makam tersebut dikemuli (diselimuti) dengan bendera Israel. Gus Baha’ juga menyampaikan bahwa makam Nabi Ibrahim itu dekat dengan sinagog. Keturunan Nabi Ibrahim dan Nabi Ya’qub pun menstatuskan keduanya sebagai seorang Yahudi. Nabi Ibrahim bahkan sampai “dibela” oleh Al-Qur’an dengan ayat

مَا كَانَ إِبْرَٰهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَٰكِن كَانَ حَنِيفًا مُّسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ

“Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.”

 

Gus Baha’ pun kembali berkisah tentang “persaingan” antara KH. Ali (bin) Maksum Yogyakarta dengan KH. Maksum bin Ali (Kwaron) dalam Ilmu Shorof. Keduanya merupakan ulama yang mengarang kitab Shorof yang sama-sama masyhur di pesantren-pesantren. “Pemenang” dari persaingan ini tergantung dzuriyyahnya, bagaimana merawat, mengkaji, dan mengajarkannya.

Seseorang yang alim akan membuat orang-orang mencari tau siapakah bapaknya, siapakah mbahnya. Ketika seorang keturunan tidak alim, orang tidak akan lagi tertarik mencari tau tentang leluhurnya karena dianggap “selesai”. Keturunan seorang ulama juga adalah orang yang melestarikan sanad keilmuan.

Sanad keilmuan ini harus terus-menerus diulang-ulang sebab jika tidak, kita akan berpikir sendiri untuk menafsirkan sesuatu. Konteks yang ada pada zaman dulu berbeda dengan yang ada pada zaman sekarang. Suatu tindakan tidak dapat ditafsirkan secara tunggal, harus dengan melihat konteks pada masa itu. Pada akhir tausiyahnya, Gus Baha’ kembali menegaskan pentingnya tradisi hujjah dan sanad keilmuan.

 

(Yasmeen Mumtaz)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *