KRAPYAK.org – Pada zaman yang penuh gejolak, di abad ke-12 saat perang salib terjadi, di tengah-tengah kabut peperangan antara kaum Muslim dan Kristen, terdapat cahaya harapan yang bersinar di bawah pimpinan sang panglima perang, Salahuddin Al-Ayyubi. Dalam perjuangannya, ia tidak hanya bertempur dengan senjata, tetapi juga dengan cara yang dapat membangkitkan semangat.
Ketika itu, Salahuddin Al-Ayyubi, menyerukan kepada para sultan untuk merayakan Maulid Nabi, dengan tujuan bukan sekadar sebagai perayaan ritual saja, melainkan sebagai bentuk penyemangat bagi kaum Muslim yang tengah padam mentalnya pada masa itu untuk dapat kembali berjihad membela Islam.
Atas usulannya, lalu ditetapkanlah 12 Rabiul Awwal sebagai Peringatan Maulid Nabi. Bentuk peringatan tersebut dilakukan dengan cara pembacaan Maulid Nabi, yang mana isi dari Maulid Nabi tersebut didapatkan dari hasil sayembara yang dilakukan oleh Salahuddin Al-Ayyubi. Sehingga, terpilihlah karya Syekh Ja’far bin Hasan Bin Abdul Karim Al-Barzanji Asy-Syafi’i yang berjudul Maulid Barzanji karena dinilai memiliki prosa yang indah.
Nama Barzanji sendiri dinisbatkan dari salah satu nama kota di Kurdistan yang pada masa ini menjadi medan pertempuran Irak dan bangsa Kurdi. Atas terpilihnya maulid tersebut, kemasyhurannya tersebar hingga kawasan Afrika, Eropa, dan Asia. Dari kemasyhuran tersebut, kemudian memuncullah karya-karya lain, seperti Burdah karya Imam Bushiri dan Simtudduror karya Habib Ali al-Habsyi.
Keberhasilan kebangkitan umat muslim pada masa itu, terdorong salah satunya atas diadakannya Peringatan Maulid Nabi yang hingga kini menjadi adat kaum muslim yang terus dilakukan dalam bentuk memperingati hari kelahiran nabi. KH Hilmy Muhammad menegaskan, bahwasannya merayakan (membaca) Maulid Nabi itu hukumnnya hanya memperingati, namun jika kita mempelajari dan memahami isi dari Maulid Nabi (Shalawat) tersebut, kita akan mendapat ganjaran atasnya.
Keistimewaan lain dari Maulid Barzanji tidak hanya dari keindahan prosa dan nuansa mahabbah yang tinggi pada Nabi, kitab ini juga dikenal para ulama sebagai karya maulid yang paling ilmiah jika dilihat dari sisi konten sejarahnya.
Dikutip dari pengajian Ramadhan KH Hilmy Muhammad | Kitab Maulid Barzanji | 15 Maret 2024
Pawarta: Keisha Yasmin (XI MA) | Foto: Aldi Hardi