Pondok Pesantren Krapyak Terima Penghargaan pada MHQ Disabilitas Internasional 2025

Jakarta, KRAPYAK.org – Ibu Nyai Hj. Ida Rufaida Ali mewakili Pondok Pesantren Krapyak menerima apresiasi penghargaan dari Kementerian Agama sebagai nominasi Lembaga Pemerhati Al-Qur’an dalam acara Musabaqoh Hifdzil Qur’an (MHQ) Disabilitas Netra Tingkat Internasional. Acara tersebut diselenggarakan di gedung Spike Air Dome, Pantai Indah Kapuk, Jakarta, (6/12).

MHQ ini merupakan ajang perdana yang diinisiasi oleh Kementerian Agama bekerja sama dengan Muslim World League (MWL) untuk para hafidz disabilitas di seluruh penjuru dunia. Sebanyak 15 negara, termasuk Indonesia, berpartisipasi dalam perhelatan yang berlangsung selama empat hari (3 – 6 Desember). Tampak sejumlah tokoh muslim nasional hadir, di antaranya Menteri Agama Prof. Nasaruddin Umar, para duta besar, pimpinan lembaga negara, dan pejabat pemerintahan.

Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Ketua MPR RI, Ahmad Muzani kepada Ibu Nyai Ida Rufaida Ali menjelang penutupan acara. Usai menerima penghargaan, Ibu Nyai Ida menyampaikan rasa syukur dan ucapan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada Pondok Pesantren Krapyak.

Masyallah, sistem Program Tahfidz Krapyak dihusnudzoni sedemikian rupa se-Indonesia,” ujar beliau menanggapi penghargaan tersebut.

Ibu Ida mengaku terharu dan bangga, mengingat hanya dua pondok pesantren yang menerima penghargaan dalam ajang tersebut. Pondok Pesantren Krapyak dan Pondok Pesantren Yanbu’ul Kudus. Pasalnya, penghargaan ini menjadi penanda bahwa sistem pengajaran Al-Qur’an dan tahfidz yang dikembangkan Pondok Krapyak, tak hanya diapresiasi pemerintah, melainkan juga diakui oleh dunia.

Lebih lanjut, Ibu Ida menegaskan bahwa penghargaan ini merupakan hasil jerih payah para pendahulu Pondok Pesantren Krapyak dalam membangun sistem pengajaran Al-Qur’an dan tahfidz. Mengutip sebuah qaul ulama, “Al-Fadhlu lil Mubtadi” (Keutaaman itu tetap milik para perintis), Ibu Nyai Ida menyebut para pendahulu Pondok Krapyak seperti Mbah Munawwir, Mbah Najib Abdul Qadir, serta almarhumah Ibu Nyai Durratun Nafisah Ali sebagai variabel penting atas keberhasilan Krapyak hingga hari ini.

Sebagai penerus, beliau mengaku tambah merasa optimis setelah mendapatkan penghargaan ini.  “Bu Nafis menerapkan sistem pengajaran Al-Qur’an yang luar biasa bagus, sehingga kami, sebagai penerus merasa nyaman, mudah, dan semangat meneruskannya,” tutur beliau.

Di balik kemegahan dan kemeriahan acara penutupan, ada kisah menakjubkan sekaligus mengharu-birukan perasaan Ibu Nyai Ida. Momen itu terjadi ketika peserta asal Palestina tampil dengan kemampuan yang luar biasa, meski dalam kondisi fisik yang terbatas dan lingkungan yang masyaqqoh. Menurut penuturan beliau, peserta tersebut tidak hanya hafal 30 juz, tapi juga hafal Aliyyah Ibn Malik.

“Aku terharu, merinding, bahkan sampai nangis melihat para peserta di sana”, ungkap beliau. Perasaan ini tentu bukan tanpa alasan. Pasalnya, dengan keterbatasan yang mereka miliki justru melampaui banyak orang yang terlahir dalam kondisi fisik yang sempurna.

Di balik semua ini, Ibu Ida menyadari bahwa Pondok Krapyak membawa beban yang sangat berat. Sebab hal ini termasuk bagian dari kepercayaan masyarakat terhadap Pondok Pesantren Krapyak. “Di satu sisi, ini adalah beban berat bagi kita, tetapi di sisi lain, ini juga jadi semangat kita untuk terus ikhtiar berkhidmat pada Qur’an”, ungkap beliau.

Menutup pernyataanya, beliau meyakinkan kepada para wali santri agar tidak merasa ragu terhadap keberlanjutan dan kualitas sistem pendidikan Al-Qur’an di Krapyak, meskipun sejumlah pengasuh tahfidz seperti Ibu Nyai Nafis, KH. Najib Abdul Qadir, dan lainnya telah wafat. Sebab, sistem yang telah dibangun oleh para pendahulu akan terus dijaga dan dikembangkan oleh generasi penerus.

Pewarta: Ifana Dewi