Ngaji RamadanPengajian OnlineQashidah Burdah

(Ngaji Qashidah Burdah) Bait 25 – 28

وَلاَ تُطِعْ مِنْهُمَا خَصْمًا وَلاَحَكَمًا ۞ فَأَنْتَ تَعْرِفُ كَيْدَ الخَصْمِ وَالْحَكَمِ
“Lawan dan tentanglah nafsu dan setan. Kalaupun keduanya memberi nasihat, maka curigailah.”

Bait ini masih berkaitan dengan bait kemarin, yang disebutkan bahwa syarat utama taubat adalah menyesal. Pada bait ini, syarat yang kedua dari taubat adalah dia harus bisa menghindar dari dosa dan menahan diri dari godaan. Godaan bisa dari internal diri kita sendiri, yaitu nafsu ammarah. Nafsu yang bisa mengajak ke hal-hal negatif. Godaan juga bisa dari eksternal, yaitu bisikan setan, yang harus kita waspadai. Cara kita menentang keduanya adalah menyaring dengan menggunakan akal kita, sebelum melakukan harus menimbang dengan akal kita.

Melawan hawa nafsu adalah inti dari kebahagiaan. Dalam surat an-nazi’at ayat disebutkan, “Orang yang bisa menahan diri dari hawa nafsu, maka akan mendapat kemungkinan tempat kembali di surga”. ini juga berlaku ketika kita bisa melawan godaan setan. Keduanya merupakan sesuatu yang tidak tampak, maka kita harus curiga dan waspada.

وَلاَ تُطِعْ مِنْهُمَا خَصْمًا وَلاَحَكَمًا ۞ فَأَنْتَ تَعْرِفُ كَيْدَ الخَصْمِ وَالْحَكَمِ
“Jangan engkau patuh pada nafsu dan setan, baik sebagai musuh atau sebagai hakim (pengadil). Sebab engkau tahu kecanggihan muslihat dari keduanya”

Bait ini menganjurkan kehati-hatian kita terhadap hawa nafsu dan setan, karena kejelasan bahwa keduanya mengajak pada keburukan. Kalau sebagai musuh, keduanya sudah jelas. Menjadi repot, ketika nafsu dan setan sebagai pengadil. Ketika kita sedang dilema antara dua pilihan, kita harus berhati-hati. Kita yang harus menyadari dengan memaksimalkan potensi akal kita, agar tidak ada peran nafsu dan setan menguasai diri kita.

Dalam bait ini, Imam Busyiri juga ingin memberikan isyarat bahwa beratnya menjadi seorang hakim. Rasulullah Saw juga bersabda, “Bahwa di antara tiga orang hakim, dua orangnya masuk neraka, satu orang masuk surga”. Hakim yang tidak mengikuti hawa nafsu subjektifitasnya, tidak karena keinginannya terhadap sesuatu.

أَسْتَغْفِرُ الَّلهَ مِنْ قَوْلٍ بِلاَعَمَــلٍ ۞ لَقَدْ نَسَبْتُ بِهِ نَسْلً لِذِي عُقُمِ
“Aku memohon ampun kepada Allah, dari ucapan yang tidak disertai pengamalan. Sungguh aku seperti menisbatkan anak kepada orang yang mandul”

Sesudah penyair diberikan saran-saran taubat, maka kemudian penyair menyatakan taubatnya kepada Allah. Dengan mengatakan, “Ya Allah, saya memohon ampun terhadap segala bentuk ampunan yang tidak ada bukti pengamalannya.” Beliau merasa nasihat-nasihat yang diberikan orang lain, menjadi nasihat yang kosong, karena beliau tidak mengamalkan nasihat tersebut.

Hal ini dinisbatkan dengan perumpaan, “menyandarkan anak, kepada orang yang tidak bisa punya keturunan.” Ucapan kita ini seperti anak kita sendiri, dimana anak atau ucapan itu terikat dengan diri kita. Omongan yang tidak bukti pengamalan termasuk dusta, dan dusta adalah dosa. Jadi, dalam bait tersebut penyair menuliskannya dengan lafal istighfar.

أَمَرْتُكَ الْخَيْرَ لٰكِنْ مَا ائْتَمَرْتُ بِهِ ۞ وَمَا اسْتَقَمْتُ فَمَا قَوْلِ لَكَ اسْتَقِمِ
“Aku memerintahkanmu berbuat baik, sedangkan aku tidak melakukannya. Maka apalah arti ucapanku kepadamu, sedang aku sendiri tidak istiqomah”.

Bait ini memperkuat penjelasan bait sebelumnya. Buktinya, bait ini tidak menggunakan huruf “wawu” yang bermakna “dan”. Ketika dua kata bersambung dan tidak pakai “dan” itu menunjukkan kamalul ittishod, keterkaitan dua kata yang sangat kuat (Dalam Ilmu Balaghah).

وَلاَ تَزَوّدْتُ قَبْلَ المَوْتِ نَافِلَــةً ۞ ولَمْ أُصَلّ سِوَى فَرْضٍ وَلَمْ أَصُمِ
“Saya tidak punya bekal apapun sebelum saya kematian datang. Dan saya tidak sholat dan puasa, kecuali ibadah yang fardu atau diwajibkan”

Bait ini menjadi pengakuan penyair. Dalam hidup ini kita harus punya bekal, dan bekal yang paling baik adalah taqwa. Selain ibadah fardu, kita juga harus melakukan ibadah sunnah. Karena ibadah sunnah menjadi tolok ukur derajat kita. Semakin banyak ibadah sunnah (sebab ibadah fardu merupakan ukuran standar minimal) yang kita lakukan, maka semakin tinggi pula derajat kita.
(LM)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *