Berita

Memori Kolektif tentang KH. Atabik Ali

Sabtu malam Ahad (13/02/2021) KH Agus Maftuh Abegebriel, Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi hadir secara virtual dalam acara tahlilan 7 hari KH Atabik Ali Bin Ali Maksum. Par Kiai, santri dan alumni turut melantunkan tahlil baik yang datang langsung maupun secara virtual di kediaman masing-masing.

Dalam tausiahnya, Pak Agus membingkai sebuah narasi dengan judul الذّاكرة الجماعية ”  “, sebuah memori kolektif tentang KH Atabik Ali. Dalam tausiahnya ini, beliau menyampaikan bahwa nama “Atabik” bukanlah nama yang berasal dari Bahasa Arab akan tetapi laqob dari Bahasa Turki yang artinya panglima. KH Atabik dalam pandangan Pak Agus adalah الكياىء العالم العصرني الرقمي قبلَ عَصْرِالأسرنية ، atau dalam bahasa Indonesia Kiai Atabik adalah seorang kiai yang alim, berpikiran modern, serta satu-satunya kiai yang sangat akrab dengan dunia digital sebelum adanya zaman digital. Pak Agus menambahkan cerita bahwa pada tahun 1990-an, Kiai Atabik awwalul quyuh (kiai yang pertama kali akrab dengan dunia komputer)  yang jauh melampaui merk komputer yang dimiliki orang-orang pada waktu itu. Pak Bik sadar betul bahwa masa depan santri akan ditentukan dengan penguasaan terhadap ilmu digital. Dengan software yang beliau kuasai, beliau berhasil menciptakan kamus. Bahkan Pak Agus menyatakan bahwa Kiai Atabik adalah kiai yang sangat aneh karena memiliki teknologi yang sangat luar biasa, menggauli zamannya.

“Tidak berlebihan kalau saya dalam bidang ini menyebut beliau فريد عَصْرِهِ ووحيد زَمَنِهِ ،  atau satu-satunya kiai yang sangat gharib di masanya. ”

Kiai Atabik merupakan monitor perkembangan internasional dan manca negara melalui parabola di kamarnya menggunakan DVD recorder. Beliau sangat hafal dengan kondisi politik-sosial di luar negeri. Semua berita dan narasi-narasi yang diucapkan oleh tokoh besar luar negeri sangat dihafal oleh Kiai Atabik.

Kiai Atabik pernah ngendika kepada Pak Agus “Kula kepingin merealisasikan mimpi bapak (KH Ali Maksum) untuk mengembangkan Pondok Pesantren Krapyak. Bahkan untuk biaya menggambar rancangan pesantren beliau keluarkan sebesar 80 juta. Pola pikir Kiai Atabik adalah mudhori’ datang saat ini dan masa yang akan datang. Proyek besar beliau adalah menginginkan Pondok Pesantran Krapyak menjadi pondok pesantren kekinian dan pondok pesantren yang bisa menjawab tantangan masa depan. Buah dari perjuangan tersebut, Kiai Atabik yang dibantu keluarganya berhasil merintis Yayasan Ali Maksum dan membangun SMP-SMA Ali Maksum Boarding School.

Usai mendengar tausiah yang disampaikan oleh KH Agus Maftuh Abegebriel, Daimatun Nafi’ah salah seorang santriwati Pondok Pesantren Krapyak Yayasan Ali Maksum mencurahkan keinginannya mengajak santri yang lain berjuang bersama-sama mewujudkan cita-cita mulia KH Ali Maksum yang diteruskan oleh KH Atabik Ali dan para keturunannya.

(Qonita Khoirunnisa)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *