KH. Mas’ud Masduqi: Di Tengah Gempuran Zaman, Identitas Santri Tak Boleh Luntur

KRAPYAK.org – Udara pagi di Krapyak masih terhirup segar saat ketika ribuan santri berbondong-bondong memadati Halaman Asrama Selatan Pondok Pesantren Krapyak, Rabu (22/10/2025). Lantunan shalawat dan Mars Hari Santri terus menggema, mengiringi peringatan Hari Santri Nasional yang berlangsung khidmat dan penuh semangat.

Acara tersebut dihadiri segenap pengasuh, civitas akademika, serta perwakilan PWNU DIY. Dalam rangkaian acara tersebut, KH. Mas’ud Masduqi, selaku Rais Syuriah PWNU DIY, memberi beberapa pesan dan amanat kepada para santri.

Dalam membuka amanatnya, KH. Mas’ud Masduqi menegaskan bahwa hari santri adalah hari di mana para santri meneguhkan kembali jati dirinya sebagai santri. Beliau menekankan bahwa identitas santri tidaklah boleh luntur. Sampai kapanpun, dimanapun berada, dan dalam keadaan apapun, santri adalah santri,” dawuhnya.

Sekurangnya, ada 3 pesan yang dapat dirangkum dalam amanat yang disampaikan oleh KH. Mas’ud Masduqi dalam acara peringatan Hari Santri Nasional kali ini.

Menjunjung Tinggi Ilmu dan Ahli Ilmu

Dalam pandangan KH. Mas’ud Masduqi, kemuliaan seorang santri tidak terletak pada gelarnya, melainkan pada bagaimana ia menjunjung tinggi ilmu serta para pembawanya, yakni para guru, kiai, dan ulama.

Sebab, hanya melalui merekalah, seorang santri mengenal ilmu yang tidak bisa didapatkan secara otodidak. Merekalah perantara santri dalam memperoleh ilmu yang terus terhubung dengan para ulama terdahulu sampai kepada Nabi.

Mengutip kalam hikmah seorang ulama, “laula murabbi maa araftu rabbi”. Yang artinya, kalau bukan guruku, maka aku tak akan mengenal Tuhanku. Oleh karena itu, Kiai Mas’ud berpesan agar sesama santri harus saling menguatkan dan menautkan ruhnya dengan para masyayikh, kiai, guru, dan alim ulama.

Berkhidmat pada umat dan bangsa

KH. Mas’ud Masduqi juga mengingatkan, santri bukan hanya sosok yang tafaqquh fi al-din, tetapi juga insan yang tafakkur dan berkhidmat bagi umat serta bangsa. Dalam penyampaiannya, berulang kali beliau menegaskan bahwa tugas seorang santri adalah menebar kemanfaatan.

Santri tetaplah santri. Mengaji dan berkhidmat adalah tugas moral setiap santri di manapun, kapanpun, dan dalam keadaan apapun. Itu sebabnya, nilai-nilai resolusi jihad yang kita peringati setiap tanggal 22 Oktober ini, harus senantiasa menjadi komitmen para santri.

Tidak Mudah Lelah dan Goyah

Perlu diingat, bahwa tugas moral ini tidak hanya dibebankan pada santri zaman sekarang saja. Sedari dulu, bahkan jauh sebelum kemerdekaan, para santri juga mengemban tugas moral yang sama; setia dan berjuang menjaga agama, bangsa, dan negara.

Menjalani tugas dan mengemban amanah ini memang tidaklah mudah. Tapi yang perlu diketahui, bahwa seorang santri, dalam perjuangannya, memilih untuk tidak mudah lelah dan putus asa. Terlebih hancur oleh keadaan.

Sementara itu, di saat yang bersamaan, seorang santri tidak boleh goyah. Terlebih, jika hal itu menyangkut komitmen terhadap eksistensi santri sebagai penjaga akidah, syari’ah, dan akhlak karimah.

Gambaran Dhamir Naa pada Diri Seorang Santri

Sebagaimana filosofi yang dikutip oleh KH. Mas’ud Masduqi dalam nadzam Alfiyyah Ibn Malik, beliau menjelaskan bahwa seorang santri seyogyanya memiliki sikap yang sama seperti dhamir naa pada bait “Lirraf’i wa nashbi wa jarrina shalah, Ka a’rif bina fainnana nilnal minah”.

Dalam penjelasannya, beliau menganalogikan dhamir naa sebagai seorang santri. “Bahwa dalam keadaan posisi rofa’, identitas kita tetaplah santri. Pun ketika dalam keadaan yang mengharuskan nashab dan jar, maka kita pun tetap santri.”

Maksudnya adalah, bahwa prinsip santri harus melekat dalam hati dan jiwa. Tidak boleh luntur, baik dalam keadaan suka maupun duka. Prinsip sebagai seorang yang menjunjung tinggi ilmu, ulama, dan harkat martabat seorang santri. Sebagai penerus perjuangan ulama dalam menjaga marwah agama dan bangsa.

Di akhir amanatnya, beliau kembali menegaskan, bahwa peringatan hari santri adalah momentum kita untuk meneguhkan kembali semangat perjuangan dalam meneruskan estafet ulama dalam menjaga marwah agama dan bangsa. Baik di kehidupan sekarang, maupun yang akan datang.

Pewarta: Ifana Dewi | Foto: Alfianida