Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji’un: Ibu Nyai Hajjah Durrah Nafisah Ali, Sang Quran Berjalan, Telah Berpulang ke Rahmatullah

KRAPYAK.org Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji’un. Pondok Pesantren Krapyak kembali berselimut duka yang mendalam. Salah satu lentera qur’annya, Ibu Nyai Hajjah Durrah Nafisah Ali, seorang ibu, guru, sekaligus teladan bagi ribuan santri, telah berpulang ke haribaan Sang Ilahi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Beliau wafat pada hari Sabtu, 29 Juni 2025 pukul 04.30 WIB di RS Dharmais Jakarta, setelah beberapa waktu terakhir mengalami sakit. Beliau wafat pada usia 71 tahun.

Dari Jakarta, jenazah Almarhumah dibawa ke komplek Pondok Pesantren Krapyak untuk dishalatkan dan dimakamkan pada malam hari itu juga, di pemakaman keluarga Dongkelan, Bantul.

Jejak Hidup dan Perjalanan Ilmu

Ibu Nyai Hajjah Durrah Nafisah Ali, yang akrab disapa Ibu Nafis, adalah putri ketiga dari Almaghfurlah KH Ali Maksum dan Ibu Nyai Hajjah Hasyimah Munawwir. Lahir pada 18 Agustus 1954, beliau tumbuh dan terbentuk di lingkungan ilmu, Al-Qur’an, dan Pondok Pesantren Krapyak. Sejak kecil, beliau telah mengaji berbagai keilmuan yang secara langsung beliau dapatkan dari kedua orang tuanya, Mbah Ali dan Mbah Hasyimah.

Menginjak usia dewasa, beliau melanjutkan perjalanan thalabul ilmi ke berbagai pesantren dan lembaga pendidikan. Di antaranya, beliau pernah mondok di Lasem—tempat kelahiran sang ayahanda KH Ali Maksum—lalu di Pondok Kempek Cirebon, hingga menempuh pendidikan di Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta.

Beliau sempat menikah dengan KH Nasih Hamid, salah satu putra dari KH Hamid Pasuruan. Dari pernikahannya, beliau dianugerahi seorang putri tunggal bernama Dr. Hindun Anisah MA., yang saat ini aktif sebagai pengasuh Pondok Pesantren Hasyim Asy’ari Bangsri Jepara sekaligus menjabat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat mewakili Jepara.

Peran, Kiprah, dan Keteladanan

Selama hidupnya, Ibu Nafis, merupakan sosok yang perilakunya berlandas pada apa yang beliau bawa, yakni Al-Qur’an. Beliau adalah Pengasuh Pondok Pesantren Krapyak Yayasan Ali Maksum, khususnya di Komplek Hindun Beta. Kepada santrinya, beliau mendidik dan mengayomi dengan penuh kesabaran dan kelembutan. Hampir-hampir tak pernah menunjukkan kemarahan. Beliau selalu punya cara tersendiri dalam memberikan teguran dalam bentuk takziran bagi santri yang melanggar aturan. Biasanya seperti meminta mereka membersihkan area ngaji.

Kiprah beliau tidak hanya terbatas dalam lingkup Pondok Krapyak saja. Keaktifan beliau terlihat dalam berbagai acara kegiatan keagamaan, seperti JMQH (Jam’iyyatul Huffazh wal Qurra’) dan JPPPM. Menurut penuturan salah seorang santri pendampingnya, “Ibu sangat kerso dan remen (sangat suka) kalau mendapat undangan yang berbau sima’an Al-Qur’an.” Hal ini menunjukkan kecintaan beliau yang mendalam terhadap Al-Qur’an dan para penghafalnya. Beliau juga baru-baru ini dilantik menjadi A’wan Syuriah PBNU pada perayaan 1 Abad Nahdlatul Ulama silam di Jakarta.

Salah satu sifat yang paling menonjol dan menjadi keteladanan bagi keluarga serta para santrinya adalah keramahan beliau dalam menjamu dan memuliakan tamu. Tamu-tamu yang datang berasal dari berbagai kalangan, bahkan yang hanya datang untuk meminta bantuan, selalu beliau persilakan masuk untuk duduk seraya meminta santri ndalemnya untuk menyediakan suguhan.

Ibu Nafis juga dikenal sebagai ahli sedekah yang dermawan. Santrinya kerap menyaksikan beliau selalu melebihkan uang kepada para pedagang dan tukang parkir. “Sedekah kui diniati tolak bala, sebab sedekah iso ngedemke murkane Gusti Allah”, dawuh Ibu. Inilah yang menjadi motivasi beliau dalam bersedekah.

Tak hanya itu, beliau juga terkenal sebagai ahli silaturahmi dengan jiwa sosial dan toleransi yang sangat tinggi. Hal ini dibuktikan dari pertemanan beliau yang beragam—lintas kalangan, etnis, hingga agama. Beliau sering meminta santri ndalem-nya untuk menemani perjalanan silaturahmi, dan terutama untuk menyimak bacaan qur’an beliau selama perjalanan. Menurut kesaksian santri pendereknya, kawan yang dikunjungi beliau bukan hanya dari kalangan keluarga pesantren, tetapi juga teman-teman SD, teman-teman Muslimat, hingga teman-teman niaganya di pasar waktu muda dulu. Ruang lingkup sosialnya yang luas tak ayal membuat beliau memiliki banyak teman dari etnis Tionghoa dan penganut Kristiani.

Kini, sosok yang sabar, dermawan, bersahaja, dan penuh keilmuan itu telah berpulang ke sisi Allah Ta’ala dengan membawa Al-Qur’an yang beliau cintai sepanjang hidupnya. Beliau meninggalkan nilai-nilai keteladanan yang akan terus hidup dalam hati dan memori kami semua. Beliau adalah Sang Al-Qur’an Berjalan, yang mengajarkan Al-Qur’an bukan hanya dengan lisan, tetapi dengan tindakan.

Teruntuk guru dan panutan kami, Ibu Nyai Hj. Durrah Nafisah Ali, Al-Fatihah.

Semoga segala amal ibadah beliau diterima di sisi Allah SWT, diampuni segala dosanya, dan ditempatkan di jannah-Nya yang paling mulia. Semoga keteladanan yang beliau ajarkan terus mengalir dalam setiap langkah para santri dan keluarga besar Pondok Pesantren Krapyak. Aamiin.

Pewarta: Ifana Dewi