Temu Alumni dan Halaqoh Pengasuh Pesantren Krapyak, Teguhkan Nilai Keulamaan dan Peran Ulama di Tengah Masyarakat

KRAPYAK — (16/10/2026) Dalam rangka mangayu bagya Haul ke-38 Almaghfurlah K.H. Ali Maksum, Temu Alumni dan Halaqoh Pengasuh Pesantren menjadi momen penting dalam mempererat jalinan silaturahmi alumni pondok krapyak sekaligus meneguhkan warisan nilai-nilai keulamaan pesantren. Mengusung tema “Penguatan Nilai-Nilai Keulamaan”, kegiatan ini mempertemukan para alumni dan pengasuh pesantren untuk melihat lebih dalam nilai-nilai dan peran ulama sebagai tokoh rujukan umat. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian haul sekaligus ruang pertemuan untuk mendiskusikan keberlanjutan nilai-nilai keulamaan dalam kehidupan pesantren.

Diawali dengan tawasul dan hadhoroh fatiha yang dipimpin oleh KH Muhtarom Busyro. Kemudian, sambutan pengasuh Pondok Pesantren Krapyak Yayasan Ali Maksum Yogyakarta, Ibu Nyai Hj. Ida Rufaida Ali menyampaikan terima kasih kepada para alumni dan pengasuh pesantren yang telah menyempatkan diri untuk mengikuti kegiatan Temu Alumni dan Halaqoh Pengasuh Pesantren.
“Panjenengan semua di sela kesibukan mengelola lembaga pendidikan atau lembaga apa saja tapi ketika panjenengan semua rawuh wonten krapyak, rasanya panjenengan semua kembali muda karena kembali bertemu dengan teman teman sekelasnya” Demikian sambutan Ibu Nyai Hj. Ida Rufaida Ali.
pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pertemuan alumni bukan sekadar ajang silaturahmi dan mengenang masa lalu, tetapi juga menjadi ruang untuk mempererat kembali ikatan keilmuan dan nilai-nilai yang telah tumbuh selama menimba ilmu di pesantren. Hal ini selaras dengan tema Penguatan Nilai-Nilai Keulamaan yang diangkat dalam Halaqoh Pengasuh Pesantren, yakni merefleksikan kembali nilai-nilai keulamaan yang diwariskan pesantren agar tetap hidup dan relevan dalam menjalankan peran di tengah masyarakat.

Memasuki sesi utama, Yusman Khadzik, M.E.I., moderator acara, mengantarkan jalannya forum menuju sesi pemaparan narasumber. Forum ini menghadirkan K.H. Abdul Ghofur Maimoen dan K.H. Ahmad Said Asrori sebagai narasumber. Keduanya menyampaikan pandangan mengenai sikap-sikap yang seharusnya dimiliki oleh sosok ulama di era sekarang ini serta relevansinya bagi kehidupan pesantren.
Dalam pemaparannya, K.H. Abdul Ghofur Maimoen menjelaskan

دور العلماء في اصلاح الرعاة

Atau peran para ulama dalam memperbaiki rakyat/umat. Ia menguraikan bahwa tugas seorang ulama adalah bagaimana dirinya bisa menembus akses kepada pemimpim atau orang-orang nomor satu, ulama harus mampu melalui benteng-benteng yang dibangun oleh para pemimpin. Dalam menyoroti hal itu sosok yang dikenal dengan sebutan Gus Ghofur tersebut menyampaikan bahwa sosok ulama harus memiliki kejujuran, pengalaman yang baik juga karismatik agar bisa menelanjangi laporan-laporan yang tidak benar. Gus Ghofur mengatakan bahwa dimanapun tempatnya dan bagaimanapun kabinet pemimpinnya akan selalu ada golongan orang-orang baik dan orang-orang yang tidak baik. Maka sebagian tugas dari para ulama adalah mengkoordinir yang baik agar lebih memiliki peran
Sementara itu, K.H. Ahmad Said Asrori menyampaikan relevansi nilai-nilai keulamaan dengan dunia pesantren. Dalam paparannya, ia menekankan bahwa untuk mencari sosok figur ulama seperti KH Ali Maksum di era sekarang ini seperti halnya mencari burung gagak berwarna putih, sedikit sekali kemungkinannya. Maka Kiai Said menguraikan untuk mencari nilai sosok seperti KH Ali Maksum bukan lagi mencari sosok personalanya melainkan menjadikan pesantren sebagai rujukan melalui metode pengajaran dan jalan dakwah yang dimilikinya.

“Kita sebagai alumni pesantren, mari berusaha keras, kita perlu membuat anak anak masuk pesantren juga. Karena sek penting iku ngajine. Alumni Pesantren kok tidak memondokkan anak-anaknya berarti alumni yang kapok sesuai ngendikane mbah moen zubair” tuturnya dalam pemaparan materi penguatan nilai-nilai keulamaan yang mengahdirkan para alumni pondok pesantren krapyak sebagai audiensnya.
Salah satu poin penting yang mengemuka dalam forum ini ialah saat salah satu peserta bertanya pada forum diskusi mengenai cara paling efektif agar ulama bisa turut memberikan nasihat kepada pemimpin seperti yang telah dipaparkan oleh pemateri. Dalam konteks tersebut Kiai Said menyampaikan bahwa cara menyampikan nasihat kepada para pemimpin bukan lagi tentang personal, melainkan bersama-sama dalam menyuarakan kebaikan. Sementara itu, Gus Ghofur merujuk kepada pernyataan Imam Ghozali bahwa Sebaik baiknya pimpinan adalah yang dekat dengan ulama, seburuk buruknya ulama yang dekat dengan penguasa. Sehingga cara paling efektif sebagai ulama untuk memberikan nasehat kepada pemimpin adalah tidak menampakkan kedekatan secara fisik namun memiliki akses untuk dapat menyampaikan nasehat kepadanya. Sebab, saat fisik tampak dekat maka akan mustahil untuk bisa memberikan nasehat kepadanya.

Rangkaian Temu Alumni dan Halaqoh Pengasuh Pesantren ditutup dengan doa yang dipimpin oleh K.H. Mas’ud Masduqi. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Haul ke-38 Almaghfurlah K.H. Ali Maksum di Pondok Pesantren Krapyak Yayasan Ali Maksum Yogyakarta, yang menghadirkan ruang pertemuan antara alumni dan pengasuh pesantren untuk membahas penguatan nilai-nilai keulamaan di tengah transformasi pesantren