KRAPYAK.org – Pada puncak acara majelis Haul Almaghfurlah KH Ali Maksum ke-37, Pondok Krapyak mengundang salah satu alumni terbaiknya, yaitu Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2021 – 2026, KH Yahya Cholil Staquf. Dalam sambutannya atas nama PBNU, beliau menyampaikan perjalanan Nahdlatul Ulama (NU) dan peran pesantren di tengah tantangan zaman.
Secara terbuka beliau menyebutkan bahwa “Ketua Umum” PBNU yang hakiki ialah KH Said Aqil Siradj. “Saya sendiri ini hanyalah pengganti. Pengganti kalau merujuk istilah pondok itu namanya naibul fa’il. Fa’il hakikinya itu Kiai Said. Naibul Fa’il itu asalnya maf’ul. Sebetulnya saya ini maf’ul-nya Kiai Said, produknya Kiai Said. Saya berkhidmah di bawah kepemimpinan beliau selama 10 tahun,” terang KH Yahya Cholil Staquf.
Di bawah kepemimpinan KH Said Aqil Siradj, Nahdlatul Ulama berkembang luar biasa pesat, bahkan mendominasi lanskap masyarakat Indonesia. Hal tersebut dibuktikan dengan data statistik pada laporan survey pada tahun 2005 yang menarik kesimpulan bahwa terdapat sejumlah 27% dari populasi masyarakat Indonesia yang menyatakan dirinya sebagai NU.
Delapan belas tahun berselang, di tahun 2003 dilaksanakan kembali survey yang mencatatkan bahwa sudah terdapat 56,9% populasi masyarakat Indonesia yang menyatakan diri mereka sebagai Nahdlatul Ulama. Sehingga selama kepemimpinan KH Said Aqil Siradj jumlah penduduk di Indonesia yang menyatakan sebagai bagian dari Nahdlatul Ulama bertambah dua kali lipat lebih. KH Yahya Cholil Staquf juga menyatakan bahwa di kepemimpinan KH Said Aqil Siradj pengembangan Nahdlatul Ulama dilakukan secara besar-besaran, nashru Nahdlatul Ulama. Bukan hanya di Indonesia saja, melainkan juga di dunia internasional.
Selanjutnya, KH Yahya Cholil menegaskan pentingnya menjaga sanad muttasil, yaitu rantai keilmuan yang bersambung hingga Rasulullah SAW sebagai fondasi utama pesantren. Seperti Hadrotus Syekh KH Hasyim Asy’ari saat mengajak para ulama untuk bergabung ke dalam Jam’iyah Nahdlatul Ulama. Beliau secara jelas menyatakan kriteria ulama yang diajak untuk bergabung oleh KH Hasyim Asy’ari yaitu para ulama yang mendapatkan keilmuannya dengan sanad yang muttasil.
Beliau menjelaskan dengan analogi bahwa ketika orang hendak masuk rumah harus melalui pintu, bukan jendela. Begitu pula dalam hal mencari ilmu agama, harus melalui jalur guru yang ber-sanad muttasil. Supaya kita semua ketika mempelajari keilmuan agama dengan melalui pintu yang seharusnya. “Ini merupakan prinsip untuk kita semua,” jelas KH Yahya Cholil Staquf.
Beliau kemudian mengutip pesan dari Imam ibn Sirin:
إن هذا العلم دين، فانظروا عمن تأخذون دينكم
Bahwa ilmu merupakan bagian dari agama, maka sudah sepatutnya kita berhati-hati dari siapa kita mengambilnya. Harus melalui orang-orang yang memang betul-betul memiliki wewenang, menjamin membawakan keilmuan agama yang sebenar-benarnya dengan tulus dan jujur. Sebagaimana keilmuan agama yang dahulu di-tabligh-kan oleh Sayyidur Rasul, Nabi Muhammad Sholallahu Alaihi Wassalam.
KH Yahya Cholil Staquf juga berpesan kepada para hadirin untuk meneguhkan agama yang dijalankan, karena pasti akan diperlihatkan kemuliaannya oleh Allah Ta’ala. Allah berjanji, walladzi arsala rasulahu bilhuda wa diinil haq, liyudzhirahu alad dini kullih. Apa pun yang orang katakan, Allah mengutus nabi untuk membawakan agama dengan liyudzhirahu alad dini kullihi walau karihal musyrikuun, maka kita tidak sepatutnya untuk berkecil hati.
Pewarta: Zulfa Lailatus Sofa | Foto: Aditama Galih