Mengenang Seratus Hari Wafatnya Ibunda Nyai Hj. Durroh Nafisah Ali

KRAPYAK.org – Tepat pada Kamis malam, 9 Oktober 2025 atau 15 Rabi‘ul Akhir 1447 H Keluarga Besar Pondok Pesantren Krapyak menggelar acara seratus hari wafatnya Ibunda Nyai Hj. Durroh Nafisah Ali.

Selain para santri dan civitas akademika, acara ini turut dihadiri para alumni, masyarakat sekitar, hingga sejumlah pejabat pemerintahan. Seperti Bapak KH Agus Maftuh Abegebriel selaku mantan Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi dan Organisasi Kerjasama Islam tahun 2016 – 2021 dan Bapak Kaisar Abu Hanifah anggota DPR RI fraksi Partai Kebangkitan Bangsa.

Acara dibuka dengan pembacaan Maulid Barzanji oleh Bil musthofa yang dipimpin oleh KH Zaky Muhammad. Diteruskan dengan pembacaan ayat suci Al -Qur’an oleh Ananda Najwa Kamila santriwati Komplek Hindun-BETA dan pembacaan tahlil yang dipimpin oleh KH Abdul Hamid Abdul Qodir.

Selanjutnya, Ibu Nyai Hj. Hindun Anisah, putri tunggal almarhumah menyampaikan sambutan sebagai perwakilan keluarga besar. Dalam sambutannya, beliau mengucapkan banyak terima kasih kepada seluruh hadirin yang berkenan menyempatkan waktunya untuk hadir pada acara, juga kepada para santri yang selama beberapa hari sebelumnya telah menggelar Sima’an Al-Qur’an di sejumlah titik, seperti Mushala Komplek N, Komplek Hindun, Asrama Beta, dan Asrama Sakan Thullab.

Sedikit berbeda dengan acara mengenang tujuh dan empat puluh harian sebelumnya, ini diisi dengan pembacaan manaqib oleh tiga santri alumni yang mengaji dan turut membersamai Ibu Nyai Hj. Durroh Nafisah.

Dalam manaqib tersebut, masing-masing dari beliau menceritakan momen-momen paling tak terlupakan saat bersama almarhumah. Dari ketiganya, sepakat bahwa sepanjang interaksinya dengan Ibu Nafis, selalu ada ilmu dan hikmah kehidupan yang bisa dipetik. “Bahkan, di setiap sudut dari ndalem ibu adalah ilmu”, ujar salah satu alumni.

Momen seratus hari ini menjadi tambah spesial dengan perasaan haru biru penuh kerinduan. Pasalnya, para santri dan alumni berhasil menerbitkan sebuah buku yang berjudul Mengukir Insan Menyemai Teladan. Buku tersebut berisi kumpulan kisah-kisah dan momen personal para santri dan alumni sepanjang berinteraksi dengan almarhumah. Kehadiran buku tersebut menjadi bukti cinta dan penghormatan bagi sosok yang dicintai.

“Dalam waktu 100 hari ini, kami berhasil mencetak buku ini (Mengukir Insan Menyemai Teladan). Ini saya anggap suatu karya yang luar biasa. Setiap kali saya membaca lembar demi lembar buku ini, seperti saya baru kenal ibu saya. Banyak cerita yang saya tidak tahu. Banyak sisi dari ibu saya yang saya tidak tahu. Malah saya tahunya ketika saya membaca buku ini.” Kenang Ibu Nyai Hj. Hindun Annisah.

Pewarta: Ifana Dewi | Foto: Mustarih Amar