Ngaji RamadanPengajian OnlineQashidah Burdah

(Ngaji Qashidah Burdah) Bait 21 – 24

وَرَاعِهَا وَهْيَ فِيْ الأَعْمَالِ سَآئِمَةٌ ۞ وَإِنْ هِيَ اسْتَحْلَتِ الْمَرْعَى فَلاَتُسِمِ
“Jagalah hawa nafsumu sebagaimana engkau menjaga hewan ternakmu. Ketika ia merasa nyaman di tempat penggembalaan, maka pindahkanlah”

Dalam bait ini, penyair menggambarkan hawa nafsu sebagai hewan ternak. Sebagaimana umumnya, hewan ternak merupakan hewan yang sudah jinak. Meskipun begitu, ia tetaplah hewan yang tidak berakal sehingga tidak dapat membedakan, misalnya, halal dan haram. Maka kita perlu untuk mengarahkan dan menjaganya untuk berbuat baik.

Namun, penyair menganjurkan apabila sudah merasa nyaman maka pindahkanlah. Maksudnya ketika kita sudah merasa terbiasa melakukan suatu ibadah sunnah, maka hendaknya berpindah ke ibadah lain, dalam artian menambah ibadah sunnah yang lain. Berbeda dengan ibadah wajib yang harus ditampakkan supaya jelas, ibadah sunnah harus ditutup-tutupi. Tujuan penyair menganjurkan untuk berpindah atau menambah ibadah sunnah adalah supaya kita tidak menjadi sombong dan berbangga diri serta merasa sudah baik dengan ibadah yang telah kita lakukan.

كَمْ حَسّنَتْ لَذّةً لِلْمَـــــــرْءِ قَاتِلَةً ۞ مِنْ حَيْثُ لَمْ يَدْرِ أَنّ السَّمَّ فِي الدَّسَمِ
“Betapa banyak kenikmatan justru membunuh karena tidak menyadari bahaya racun yang terkandung di dalamnya”

Bait ini memberi alasan mengapa kita perlu berpindah ketika sudah merasa nyaman. Hal yang terasa nikmat tanpa kita sadari ternyata mengandung racun di dalamnya. Contohnya adalah makanan berlemak yang terasa lezat dikonsumsi tetapi membawa penyakit ketika terlalu banyak. Maka dari itu, dalam Al-Qur’an disebutkan untuk mengonsumsi makanan halalan thoyyiban, makanan yang tidak hanya halal namun baik pula untuk kesehatan.

وَاخْشَ الدَّسَائِسَ مِنْ جُوعٍ وَّمِنْ شَبَعِ ۞ فَرُبّ مَخْمَصَةٍ شَرُّ مِنَ التُّخَمِ
“Waspadalah terhadap tipu daya kelaparan dan kekenyangan. Begitu banyak kelaparan itu lebih berbahaya daripada kekenyangan”

Di antara bahayanya orang lapar yaitu orang lapar itu sensitif, mudah marah, dan mudah curiga. Sebaliknya, orang kenyang pun berbahaya sebab orang kenyang menjadi malas, lalai, dan tidak produktif. Namun orang lapar lebih berbahaya dibandingkan orang kenyang, sebab selain melakukan maksiat, mereka pula bisa menjual aqidah. Contohnya adalah mereka yang kelaparan kemudian diberi sembako dengan syarat berpindah agama. Dari kasus ini kita seharusnya sadar untuk lebih peduli terhadap sesama umat Islam.

Bait ini memiliki makna bahwa dalam hidup kita harus seimbang, makan sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang. Tolak ukur lapar dan kenyang ini tidak hanya berlaku dalam urusan makanan saja. Namun bisa diaplikasikan pada hal lain. Semisal orang lapar diartikan sebagai orang yang kurang ilmunya sedangkan orang kenyang diartikan sebagai orang yang merasa pandai.

وَاسْتَفْرِغِ الدَّمْعَ مِنْ عَيْنٍ قَدِ امْتَلَأَتْ ۞ مِنَ الْمَحَارِمِ وَالْزَمْ حِمْيَةَ النَّدَمِ
“Tumpahkanlah air matamu yang sudah penuh akan keharaman dan tetapkanlah hatimu dalam penyesalan”

Bait ini menjelaskan tentang salah satu syarat taubat yaitu menyesal. Kata اسْتَفْرِغِ pada bait di atas menggunakan wazan istaf’ala yang memiliki makna menangis butuh diusahakan. Maksudnya, bait ini memerintahkan supaya menyesal sampai menangis. Di antara sekian dosa, bait ini menekankan pada dosa yang bersumber dari mata sebab banyaknya dosa yang disebabkan oleh mata. Termasuk dosanya mata adalah melihat yang haram dan melihat dengan pandangan merendahkan.
(YM)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *