Berita

Ketua RMI Sebut Era 4.0 Tantangan dan Peluang bagi Pesantren

Terdapat akselerasi pada revolusi industri yang berkembang pesat di tahap terbarunya yaitu 4.0. Revolusi industri 4.0 bahkan menghasilkan istilah “new normal”, di mana suatu temuan menjadi hal yang normal dan tidak lagi mengejutkan masyarakat. Pernyataan itu disampaikan oleh KH. Abdul Ghofarrozin, atau yang akrab dipanggil dengan Gus Rozin, selaku Ketua RMI PBNU dalam acara Halaqah Tematik “Dinamika Pesantren 4.0” dalam rangka menyambut Haul Al-Maghfurlah KH. Ali Maksum ke-31, Sabtu, 4 Januari 2020.

Dalam paparannya, Gus Rozin menyampaikan bahwa dinamika perkembangan teknologi yang dihasilkan oleh Revolusi Industri 4.0 menjadi suatu tantangan sekaligus peluang bagi komunitas pesantren. Menurutnya, tantangan tersebut hadir dalam bentuk proses penyesuaian pesantren dengan berbagai bentuk teknologi yang muncul, mengingat bahwa masih banyak komunitas pesantren yang masih menjaga jarak dengan teknologi.

“Hal ini berkaitan dengan cara padang, melihat gadget, teknologi, sebagai ancaman daripada sebuah wasilah. Padahal santri sekarang bukan lagi generasi M atau milennial, tetapi generasi Z, yang mana sejak bangun tidur sudah ditontonkan Youtube oleh orangtuanya,” jelasnya.

Generasi Z sebagai native user dari teknologi tidak dapat dipisahkan secara keseluruhan dari dunia digital. Maka alih-alih dijauhkan dengan teknologi, justru santri harus dibekali dengan kemampuan dan pengetahuan penggunaan teknologi secara bijak. Hal itu juga berkaitan dengan kebiasaan generasi Z yang cenderung mencari rujukan melalui media digital, sedangkan perang narasi dan maraknya hoax dapat menjadi ancaman jika santri tidak memiliki kemampuan untuk memfilter dirinya dari konten-konten negatif tersebut.

“Saatnya paradigma dibalik, membekali santri dalam penggunaan teknologi dengan bijak harus diajarkan oleh kita, bukan oleh pihak lain,” ujarnya.

Selain itu, Gus Rozin juga menjelaskan besarnya peluang santri untuk terlibat dalam perkembangan global dengan dukungan pemerintah melalui disahkannya UU Pesantren tahun lalu. Ia menjelaskan, bahwa UU Pesantren fokus pada 4 hal. Yang pertama mengembalikan pesantren pada 3 fungsi utamanya yaitu sebagai lembaga pendidikan, lembaga pemberdayaan masyarakat dan juga lembaga dakwah. Mengapa penting? Karena itulah yang membuat pesantren mengakar secara kultural di masyarakat. Yang kedua adalah pengakuan (rekognisi) pesantren salaf. Sebelumnya, pemerintah memang sudah mengeluarkan peraturan mengenai Pendidikan Muadalah dan Pendidikan Diniyah Formal, namun tidak semua pesantren salaf terakomodir oleh kebijakan pemerintah. Oleh karena itu dengan UU Pesantren diharapkan pesantren salaf dapat diakui pemerintah dengan kondisi-kondisi tertentu.

Yang ketiga adalah dukungan pembiayaan fungsi pesantren. Yang mengatur tentang anggaran pengembangan pesantren dan juga mengatur tentang bantuan dana (hibah) dari luar negeri untuk pesantren yang harus diatur oleh negara. Sedangkan yang keempat yaitu tentang majelis masyayikh. Hal ini berkaitan dengan kondisi keragaman pesantren yang tidak bisa diseragamkan dengan birokrasi dan standardisasi pemerintah, namun tetap harus bisa diukur untuk membuktikan efektivitas implementasi kebijakannya. Maka diperlukan suatu majelis masyayikh yang terdiri dari perwakilan pesantren yang berfungsi untuk menentukan apakah kitab, sistem dan operasional pesantren sudah memenuhi batas minimal atau tidak tanpa harus mereduksi keragaman dan unsur khas pesantren.

“Empat hal itu tidak semua termaktub secara eksplisit di UU. Maka komunitas pesantren perlu untuk mengawal UU ini dengan mengamati betul turunan peraturan dari pemerintah, apakah kebijakannya berpotensi mereduksi independensi pesantren atau tidak. Selain itu komunitas pesantren juga perlu mengawal perda-perda yang ada di daerah masing-masing agar match dengan UU Pesantren. Kesadaran ini dibangun dengan tujuan bahwa pesantren harus mandiri; mandiri secara tradisi, mandiri secara politik dan mandiri secara ekonomi,” tegasnya. (Rosfalianti/Sulfa)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *