Berita

Gus Baha’: Kelebihan KH. Atabik Ali dari Segi Ushul Fiqih

“Saya hanya ingin matur tentang fadhoil pak Atabik dari segi keilmuan ushul fiqih,” ungkap KH. Bahauddin Nursalim atau akrab dipanggil Gus Baha’ dalam majelis Tahlil dan Doa Bersama virtual 7 Harian KH. Atabik Ali pada Jum’at (12/02).

“Kenangan saya setiap ketemu beliau selalu guyon, meskipun dalam keadaan sakit beliau tetap guyon. Terakhir ketemu juga guyon waktu haul mbah kyai Ali Maksum”. Imam Ghozali yang terkenal khusyu’, terkenal sufi di antara yang diriwayatkan adalah

“Rasulullah bersabda: Sesungguhnya di antara umat pilihanku adalah mereka yang tertawa lepas di tengah ramai karena yakin akan luasnya rahmat Allah. Dan di dalam sepi, mereka menangis karena takut akan siksaan Allah”. Ketawa itu perlawanan terhadap setan. Bersyukur tak mesti rumit. Tertawa, guyon, bersenda gurau, adalah aksi paling kongkrit dan sederhana untuk menggaungkan rasa syukur di hadapan sesama mahluk. Yang repot, kalau di tempat sepi malah tertawa sendiri.

Karena tawa adalah tanda terima dan ridha terhadap jalan-Nya. Meski nasibnya buruk, melarat, hancur, tapi tetap bahagia dengan tertawa.

Ada riwayat, “Tidak ada sesuatu yang bisa menghancurkan iblis dibanding guyonnya orang mukmin”. Maka dari itu, banyak ulama yang mau meninggal itu ya guyon. Umar bin Abdul Aziz yang terkenal khomisul khulafa sampai meninggal juga guyon.

Gus Baha’ mengutarakan pentingnya Ushul Fiqih, “Ini penting saya utarakan tradisinya ushul fiqih. Jadi, ketika seseorang itu tidur dari malam sampai subuh, kamu jangan mengira orang itu meninggalkan qiyamul lail. Mbok sekali-kali husnudzon ini tarku ma’ashi (meninggalkan maksiat)”. Tidur itu istimewa, bisa istirahat, meninggalkan maksiat, dan lain-lain.

“Saya minta, guyonnya pak atabik itu menjadi sarana kita mendekatkan diri kepada Allah karena guyon itu adalah kebahagiaan. Paling tidak melawan godaanya setan, seperti halnya beliau diberikan cobaan sakit.” tutur Gus Baha’.

Saya masih ingat perkataan dari Abu al-Hasan As-Syazili, makna Al wash wash pada ayat min syarril wash washil khonnat. Jadi, yang dikatakan wash wash itu adalah anda mengingat seolah-olah zaman akhir itu sudah rusak, banyak maksiat.

“Saya harap, putra putri nya pak Atabik dan cucu-cucunya, guyonnya pak kyai Atabik itu dijadikan fiqih”. Pesan Gus Baha’.

Saya baru saja belajar, dan itu diantara satu dokumen di kitab Tambihul Mukhtarin karangan Imam Sya’roni yang dinukil oleh Syekh Nawawi sarah Sulamun Taufiq. Yang isinya “Termasuk suil khuluq yaitu ketika seorang tokoh atau kita masuk ke keluarga (anak-istri) sedang guyon, karena kita masuk terus mereka berhenti guyon. Karena bahagia itu mahal, sampai menjadi perintah khusus oleh Allah, dan paling gampangnya bahagia itu ya guyon”.

(Meyreza Dwi Savitri)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *