Fungsi Pesantren dalam Menghadapi Tantangan 4.0

Temu alumni dan Sarasehan merupakan rangkaian acara dalam rangka memperingati haul ke-81 KH. Al Munawwir bin Abdillah Ar-Rasyad, dilaksanakan pada Selasa, 04 februari 2020 dengan mengusung tema “Penguatan Tradisi Keilmuwan Pesantren dan Tantangannya di Era 4.0”. Tema ini diangkat karena beberapa alumni merasakan kajian-kajian kitab di pesantren mengalami penurunan. Disisi lain, terdapat kesenjangan antara kitab yang dipelajari di pesantren dengan tantangan baru yaitu era 4.0.

Ketua IKPPAM, KH. Muhtarom Ahmad, S.Si. dalam sambutannya mengatakan, bahwa tujuan dari acara temu alumni dan sarasehan ini adalah untuk membangkitkan ghirrah dari para alumni khususnya, serta para peserta majelis ta’lim untuk belajar kembali.

Acara sarasehan ini dimoderatori oleh Ustad Muhammad Ihsanuddin, M.Si. Penyampaian materi pertama oleh Prof. H. Abdul Mustaqim, M.Ag , selaku alumni Pondok Pesantren Krapyak dan Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dalam acara tersebut, beliau menyampaikan bahwa eksistensi pesantren di era 4.0 memang menghadapi tantangan yag semakin berat terutama tantangan globalisasi dan kompetisi pasar bebas. Riset menunjukkan bahwa tradisi turrots keilmuan pesantren mulai melemah. Oleh sebab itu, penguatan tradisi keilmuan pesantren menjadi tanggung jawab kita bersama sebagai santri.

Prof. Mustaqim juga mengatakan bahwa fungsi pokok pesantren itu ada tiga. Fungsi yang pertama, sebagai lembaga tafaqqoh fiddin. Lembaga ini bertujuan untuk mendalami ilmu agama. Dalam penjelasannya, beliau menyebutkan bahwa kategori santri itu ada empat macam. Pertama santri mukim, yaitu santri yang tinggal dipesantren dan ikut mengaji dengan kyai. Yang kedua yaitu santri kalong yaitu santri yang tinggal di rumah dan hanya ke pesantren untuk mengaji. Yang ketiga yaitu santri live in yaitu santri yang tinggal beberapa hari saja di pesantren. Yang keempat yaitu santri kampret, yaitu santri yang tidak mau mengaji.

Fungsi yang kedua yaitu pesantren sebagai lembaga dakwah. Hal ini juga menjadi tantangan tersendiri bagi santri karena di era digital yang begitu cepat ini, terdapat banyak narasi-narasi yang begitu mudah dikonsumsi tanpa disaring terlebih dahulu. Oleh sebab itu, tantangan para santri adalah bagaimana bisa menyampaikan pesan-pesan agama dalam kajian ilmu kepesantrenan yang shahih dan sesuai sanad, dengan memanfaatkan media sosial yang ada.

Fungsi yang ketiga, yaitu pesantren sebagai lembaga pemberdayaan umat, seperti halnya yang dilakukan para kiai dan santri terdahulu . disamping mereka menuntut ilmu, mereka juga melakukan pemberdayaan umat, baik di bidang ekonomi, bidang keahlian, dan sebagainya. Jadi apabila ketiga fungsi pesantren ini bisa direvitalisasi, maka kita akan tetap bisa eksis dalam menghadapi era 4.0. Seperti gerakan ‘ayo mondok’ atau gerakan ‘nggak mondok nggak keren’ menjadi tantangan bagi santri untuk menjadikan pesantren menjadi alternatif dalam rangka membekali para generasi bangsa ini ke depan, untuk menjadi generasi yang hebat, pintar, dan berkarakter.

Tantangan santri yang pertama yaitu globalisasi, salah satunya yaitu penyebaran berita hoax, seperti penyebaran meme yang tidak dapat dipertanggungjawabkan dalam dunia maya. Tantangan yang kedua yaitu gerakan radikalisasi. Untuk menghadapi tantangan tersebut, maka turost pesantren harus diperkuat untuk menyebarkan ajaran-ajaran islam supaya karakter islam tidak luntur.

Untuk dapat menghadapi tantangan- tantangan di era 4.0, santri dapat menghadapinya dengan tiga hal. Pertama yaitu sikap mental atau mental attitude, dalam bahasa agama yaitu iman dan taqwa. Kedua, pengetahuan atau knowledge. Penguatan-penguatan turost di satu sisi serta al-mu’ashiroh atau kontemporaritas di sisi lain juga menjadi tugas kita sebagai santri. Mengutip ucapan KH. Muhtarom Ahmad, “Di satu sisi kita tetap menjaga tradisi lama yang masih layak dan menerima nilai-nilai baru yang lebih maslahah.” Yang ketiga yaitu al maharroh atau keahlian, baik soft skill maupun hard skill. Jadi tidak hanya mengaji, tetapi juga memiliki keterampilan yang dapat dihubungkan dengan era 4.0 seperti dakwah melalui media sosial yang dapat dinikmati tidak hanya santri, tetapi juga oleh masyarakat umum.

(Akyisna Al ‘Aisya)

About admin