KH. Ghofur Maimoen: Mbah Ali Memiliki Keahlian Mendidik Luar Biasa

KH. Ghofur Maimoen hadir dan bersedia memberikan mauidhoh hasanah pada kesempatan haul ke-31 almaghfurlah KH. Ali Maksum pada sabtu (4/1).

Beliau menyampaikan bahwa Mbah Ali merupakan sosok yang sangat piawai mendidik santri. Kemampuan ini dalam pandangan Gus Ghofur, demikian panggilan akrab beliau, dipengaruhi setidaknya oleh tiga sosok penting. Pertama, abahnya sendiri, KH. Maksum Ahmad, pengasuh pondok Soditan Lasem. Sosok yang terkenal ‘alim ‘allamah dan sangat ahli dalam mendidik santri. Menyitir kesan abahnya, Almarhum Almaghfurlah KH. Maimoen Zubair, bahwa Maksum adalah sosok yang begitu mencintai mulang (mengajar) santri. Mbah Maksum merupakan salah satu diantara kiai yang begitu dicintai abahnya.

“Maka, saat wafatnya Mbah Maksum, orang-orang sangat heran, banyak kiai besar hadir dan semuanya mengaku sebagai santrinya mbah Maksum”, jelas beliau.

Bahkan, Gus Ghofur pernah didawuhi untuk hadir, diingatkan untuk hurmat haul Mbah Maksum, padahal waktu itu beliau sedang berencana mengisi pengajian di Sumenep, Madura. Mbah Moen pun, dalam kesaksian putranya ini, selalu meluangkan waktu hadir saat haul Mbah Ali Maksum, yang kita tahu hingga tahun terakhir sebelum kewafatan beliau, hadir meskipun dalam kondisi yang tidak begitu sehat, di kursi roda.

Yang kedua, sosok yang mempengaruhi Mbah Ali adalah gurunya, KH. Dimyati, Pengasuh Pondok Pesantren Tremas Pacitan. Saat itu, tumpuan santri-santri yang kelak menjadi kyai besar, nyantri kepada mbah Dimyati Tremas. Kita tahu, teman-teman nyantri mbah Ali diantaranya adalah KH. Hamid Pasuruan, KH. Muslih Mranggen dan sebagainya. KH. Dimyati merupakan Adik dari Ulama terkenal asal Indonesia yang bermukim dan wafat di Makkah, KH. Mahfud at-Tarmasi. Keduanya dalah putra KH. Abdullah bin Mannan pendiri pondok Tremas. Perkembangan pondok Tremas dibawah kepengasuhan KH. Dimyati, guru utama saat Mbah Ali mondok disana. “Pertemuan-pertemuan santri besar ini dibawah bimbingan mbah Dimyati, melahirkan sosok seperti mbah Ali ini” lanjut Gus Ghofur.

Sosok ketiga menurut Gus yang juga turut membentuk kepribadian Mbah Ali, adalah mertuanya sendiri: KH. Muhammad Munawwir.
“Kita tahu, sanad-sanad Qur’an di Nusantara ini banyak diambil dari mbah Munawwir. Mbah Munawwir juga ahli mendidik santri”.

Maka, melihat penjelasan itu, tidak heran menurut Gus Ghofur kalau kemudian dari tangan Mbah Ali, banyak lahir santri-santri Krapyak yang berjuang dan berdakwah di banyak profesi. Mbah Ali sudah membuktikan itu, kemampuan dan cara mendidik santrinya, luar biasa.
(h.a.s)

About admin