Sosok Mbah Ali dalam Kenangan Kiai Hilmy

Disela kesibukan acara haul Mbah Ali ke-31 dan menerima kunjungan santri dan alumni, KH. Hilmy Muhammad yang merupakan salah satu cucu mbah Ali menceritakan kenangan-kenangan beliau bersama sang kakek.

Allahuyarham Mbah Ali merupakan kiai yang menurut KH. Hilmy bukan hanya sebagai kakek, tetapi juga sebagai bapak dan seorang guru. Teladan mengenai kecintaan pada ilmu, semangat mengabdi, berbakti dan tanggungjawab tentu saja spiritnya, beliau dapatkan langsung dari sosok mbahnya, KH. Ali Maksum.

“Mbah Ali itu suka sekali ngaji, jam berapapun pulang pasti ngaji. Kalau habis subuh itu ngaji sorogan mulai habis subuh sampai jam 08.00 pagi. Semakin siang semakin banyak yang ngantri ngaji sorogan sama mbah Ali. Kalua habis maghrib itu ngaji Bandongan.” Kenang bapak KH. Hilmy mengenang Mbah Ali.

Sebagaimana yang kita ketahui, Mbah Ali pernah berkonstribusi dalam dunia perpolitikan, menurut kisah Kia Hilmy, Mbah Ali pernah menjadi anggota konstituante mewakili DIY se-Jawa Tengah menggantikan Abahnya yaitu mbah Maksum.

“Mbah Ali dipilih oleh para ulama Nahdlatul Ulama Jawa Tengah. Mbah Ali menjabat sebagai anggota konstituante hanya satu periode. Kemudian beliau menjadi Rois ‘Am pada tahun 1981 hingga mengundurkan diri ditahun 1984 di Mukhtamar Situbondo”.

Kenangan tentang betapa Mbah Ali sangat menjunjung Pancasila yaitu ketika Mbah Ali sering bersilaturrahmi dengan para ulama dan berdiskusi. “Mbah Ali itu sangat menjunjung pancasiala, dan sering berkata kepada para kiai pada forum diskusi betapa petingnya Pancasila sebagai asas tunggal kebangsaan. Pancasila itu bukan agama dan tidak bertentangan dengan agama”.

Kenangan lainnya tentang sosok Mbah Ali untuk KH. Hilmy Muhammad yang masih diingat oleh beliau.

“Ketika mendekati haul dan saat itu musim hujan, saya sedang bermain bola plastik di halaman depan sakan dan dipanggil oleh Mbah Ali sambil ngendiko dungo yo mugo-mugo haul nya ora hujan”. Itu merupakan suatu amanat yang menurut bapak KH. Hilmy Muhammad sangat berharga karena pada saat itu beliau masih kecil.

Kenangan yang lainnya, ketika ngaji sorogan. Bapak KH. Hilmy Muhammad mulai sorogan dengan mbah Ali sejak beliau kelas 2 SD. Mulai dari kitab Safinah, Taqrib, Jurumiyah, At-Tazhib, hingga kitab Tafsir Jalalain. Bapak KH. Hilmy Muhammad sering dikasih PR oleh Mbah Ali,

“Waktu ngaji sorogan, mbah Ali itu sering ngasih PR, mulai dari Shorof, I’lal, I’rob, hingga menulis Sya’ir-sya’ir. Saya juga belajar menulis tulisan arab dengan Mbah Ali, seperti kalimat Alhamdulillah, Bismillah, dan Allahu Akbar. Kalimat pertama kali yang saya tulis dengan menggunakan pegon adalah “tuku buku ning toko buku. Mbah Ali sering mengasih PR karena menurut mbah Ali PR itu suatu tolok ukur kemampuan seorang sanri.”.

Kenangan itu sangat melekat diingatan cucu tertua Mbah Ali. Tidak heran sistem dan gaya mengajar ngaji sorogan KH. Hilmy Muhammad sangat mirip dengan sistem mengajar Mbah Ali. Bapak KH. Hilmy Muhammad juga sering ikut mbah Ali dalam rangka bersilahturrahmi dengan para ulama dan para kiai, tugas bapak KH. Hilmy Muhammad yaitu memegang dan menjada tas kecil mbah Ali sambil mendengarkan mbah Ali berdiskusi dengan para kiai lainnya. (Meyreza)

About humaid