Hj. Hindun Anisah: Mbah Ali itu Sosok yang Hubbul Ilm, Humoris dan Fleksibel

Sebagai bagian dari rangkaian haul ke-31 almaghfurlah KH. Ali Maksum, diselenggarakan acara sholawatan dan manaqib KH. Ali Maksum pada jum’at malam (3/1) di lapangan Ali Maksum yang diikuti oleh seluruh santri dilingkungan Pondok Pesantren Krapyak. Dalam kesempatan itu, Hj. Hindun Anisah berkenan memberikan mauidhoh hasanah.

Senada dengan yang disampaikan KH. Afif Muhammad, Hj Hindun Anisah menyampaikan bahwa Kiai Ali adalah sosok yang sangat hubbul ilm. Kecintaan beliau terhadap ilmu tidak hanya diucapkan oleh lisan semata, tetapi harus dibuktikan sesuai dengan ketentuan ta’lim al-muta’allim.
Hj. Hindun dalam kesempatan kali ini mengutip syiir legendaris “الْعِلْمَ تَنَالُ لَا اَلَا” sekaligus men-syarah-I nazham tersebut.

Menurut syiir tersebut, ada 6 perkara yang harus dimilki oleh orang yang menuntut ilmu. Pertama, ذَكَاءٍ yaitu kecerdasan, maksudnya bukanlah memiliki IQ yang tinggi, melainkan menggunakan potensi akal yang telah diberikan oleh Allah untuk mempelajari ilmu. Kedua, حِرْصٍ atau motivasi, dalam menuntut ilmu harus mempunyai motivasi. Kiai Ali memiliki motivasi yang tinggi untuk menuntut ilmu. Hal ini dapat dilihat dari semangat mondok yang dimiliki oleh Kiai Ali. Ketiga, اِصْطِبَارٍ, harus disertai dengan kesabaran. Kiai Ali menuntut ilmu sampai bertahun-tahun lamanya. Maka dari itu kita harus mencontoh kesabaran Kiai Ali dalam menuntut ilmu. Keempat, بُلْغَةٍ, adalah bekal materiil yang diperlukan untuk mencari ilmu. Kiai Ali berpindah dari satu pondok ke pondok yang lainnya tentu menggunakan biaya. Kelima, أُسْتَاذٍ إِرْشَادِ, bimbingan guru. Kiai Ali selalu mencari ilmu lewat perantara guru. Walaupun pada saat beliau ke Mekah ilmu yang dimilki sudah banyak, beliau tetap mencari bimbingan guru, dibuktikan lewat mondok-nya beliau kepada beberapa guru di Mekkah, seperti Sayyid Muhammad bin ‘Alawi Al-Maliki Al-Hasani. “Misalkan kalian mendapati suatu tulisan dari google atau yang lain, baiknya di tashih atau di verifikasikan terlebih dahulu kepada guru, kiai, atau bu nyai.” Nasehatnya. Keenam, الزَمَانِ طُوْلِ, lama masanya. Kiai Ali tidak pernah mencontohkan mencari ilmu secara instan. Segala sesuatu yang instan dianggap memiliki akibat yang tidak begitu baik.

Selain men-syarah-i syiir الْعِلْمَ تَنَالُ لَا اَلَا , Hj. Hindun juga menceritakan bahwa setiap beliau mendengar Kiai Ali mengatakan sesuatu, pasti perkataan tersebut didasari oleh ilmu pengetahuan. Kiai juga dikenal tegas dalam berprinsip, serta logis dalam setiap tindakan. Ketegasan berprinsip beliau terlihat dalam organisasi Nahdlatul Ulama.

Meskipun begitu, lanjut Hj. Hindun, Kiai Ali juga sosok yang sangat humoris. Bahkan tertawa beliau sangat khas sampai sulit untuk dilupakan dan melekat dalam pikiran. Fleksibel juga menjadi ciri khas Kiai Ali. Fleksibel, dijelaskan oleh Nyai Hj. Hindun seperti المُطَابَقَةُ لِمُقْتَضَى الْحَالِ, sesuai dengan situasi-kondisi. Kiai Ali bisa menyesuaikan diri dengan situasi serta kondisi yang ada dengan tetap memegang prinsip-prinsip yang beliau pegang.

Pada akhir mauidhah, Hj. Hindun mengatakan bahwa Kiai Ali tidak pernah lepas dari berdoa. Salah satu doa yang diajarkan oleh Kiai Ali kepada beliau adalah
اَللَّهُمَّ ارْزُقْنَا فَهْمَ النَّبِيِّيْنَ وَحِفْظَ الْمُرْسَلِيْنَ وَإِلْهَامَ الْمَلَائِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ
“Saya doakan kalian istiqomah, sabar, dan yang terpenting selalu mencari bimbingan guru. Semoga ilmu yang telah kalian peroleh menjadi ilmu yang bermanfaat dunia akhirat. Amin.” tuturnya sebelum mengucapkan salam penutup.
(Gz)

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

About admin