KH. Suadi Abu Amar: dari Santri Kinasih hingga Menjadi Besan Mbah Ali

“Sakderenge ngapunten, niki kulo namung badhe cerita, sanes ceramah, dados santai mawon”, ujar KH. Suadi di awal pembicaraan. Pada acara bincang alumni dalam rangka haul Almaghfurlah KH. Ali Maksum yang ke 31 kali ini dihadiri oleh lima alumni santri ndalem, yakni salah satunya adalah Bapak KH. Suadi Abu Amar.

Kiai Suadi sekarang telah menjadi kiai di Pasuruan. Beliau adalah pengasuh pondok pesantren Ar-Raudhah, Pasrepan Pasuruan. Menurut pengakuan Kiai Ali Muhsin, keistimewaan Kiai Suadi adalah menjadi sosok yang sangat istiqomah, tidak pernah masuk sekolah tapi sekarang menjadi kiai. Dari perjalanan nyantri pada Mbah Ali, beliau tidak hanya menjadi santri kinasih Mbah Ali, namun kemudian menjadi besan Kiai Ali Maksum, yang mana putri beliau -Ning Fauziah Salamah- dinikahkan dengan almarhum Gus Kelik.

Kiai Suadi pada kesempatan ini menceritakan, pelajaran pertama yang di dapat dari Mbah Ali adalah dengan menyusun genteng hingga akhirnya ditawari menjadi sopir pribadi Mbah Ali. “Kabeh dawuhe lan utusane Mbah Ali tak lakoni kanti roso seneng, pokoke manut dawuhe kiai”, ungkap beliau. Suatu ketika saat Ujian Akhir Sekolah Madrasah Aliyah, beliau tidak diperbolehkan mengikuti ujian, kemudian beliau ditimbali Mbah Ali maksum dan diberi surat yang diberi nama ‘Surat Sakti’ untuk diberikan kepada pengurus TU Aliyah. Setelah itu, kiai Suadi diajak Mbah Ali Maksum bepergian dan diminta membawa persediaan baju yang banyak, bukannya ujian justru diajak keliling jawa dari Serang sampai Banyuwangi, 15 hari lamanya. Akhirnya ketika kembali ke Pondok Pesantren Krapyak, semua santri sudah pulang liburan semester.

Perhelatan ujian yang justru malah ‘mbolang’ bersama sang kiai kemudian berlanjut pada kisah selanjutnya, dimana beliau juga diminta menjadi tukang bangunan di daerah Jogokariyan. Beberapa profesi ketika nyantri yang dilakoni Kiai Suadi semakin menambah kedekatan dengan Mbah Ali. Misalnya, menjadi tukang pijet pribadi di sela-sela nyopir.

Cerita lain yang menarik mengenai Kiai Suadi dan mbah Ali yang beliau ceritakan, yakni beliau diminta pulang oleh bapaknya dan berangkat haji, setelah haji tidak langsung pulang tapi sowan ke Kiai Ali justru diminta pulang. Setelah pulang, Kiai Suadi akan dinikahkan oleh bapaknya dengan wanita pilihan beliau, namun Kiai Suadi justru sowan ke Mbah Ali sambil menangis,

“Kiai, kulo pripun niki? Kulo teseh remen mondok, dereng pengen nikah. Kulo teseh pengen ngabdi nyantri dumateng jenengan”, kata Kiai Suadi sambil memijit kaki Mbah Ali karena masih ingin mondok dan hurmat dating Kiai Ali.

Akhirnya Kiai Ali dawuh “kalo kamu takdzim dumateng bapakmu podo karo takdzim marang aku”. Meskipun sudah menikah, beliau tetap sowan Mbah Ali 15 hari sekali, entah untuk khidmah nyuci piring ataupun hal lainnya.

Setelah beberapa tahun kemudian Kiai Suadi diminta ayahandanya untuk menikah lagi yang kedua kalinya. Setelah sehari pernikahan dengan istri kedua, Kyai Suadi diminta untuk pergi ke arah barat kemudian memutuskan untuk berangkat ke Yogyakarta. Uniknya, Mbah Ali memberikan kunci kamar tamu sebagai peristirahatan dengan istri kedua dengan maksud lain agar dapat bulan madu. Bukan tanpa alasan, namun karena istrinya masih perawan muda. “Saya cinta kepada istri-istri saya sebagai wujud takdzim kepada orangtua saya dan Kiai Ali” begitu ungkap beliau.

Kiai Suadi juga mengungkapkan bahwa apapun yang dilakukan didasarkan pada takdzim kepada orang tua dan kiai-kiai beliau, niat besok di akhirat ingin nebeng pahala oleh beliau-beliau. Harapan beliau semoga apapun yang dilakukan karena takdzim dan memberikan manfaat kepada sesama manusia, bangsa dan negara. Cara Mbah Ali mendidik santrinya dengan cara kekeluargaan bukan dengan teori salaf seperti daerah jawa timur.

(Ayu Maun/Santri komplek hindun)

About admin