KH. Ihsanuddin: Saya Diwasiati Mbah Ali untuk Tetap Khidmah di Krapyak

KH. Ihsanuddin (Pengasuh Pondok Pesantren Binaul Ummah Pleret, Bantul) hadir di Pondok Krapyak bersama keluarga dan kedua menantunya, sebagai salah satu narasumber dalam acara bincang alumni ‘Kisah Kasih Santri Kinasih Mbah Ali’ di mata santri ndalem yang dilaksanakan pada Sabtu, 4 Januari 2020 di Halaman Asrama Sakan Thullab.

Sebelum beliau dipersilahkan menuju panggung, KH Ali Muhsin sebagai moderator menggantikan H. Majidun yang tidak dapat hadir karena adanya suatu halangan, menyampaikan pandangannya mengenai sosok KH Ihsanuddin sebagai salah satu santri kinasihnya simbah KH Ali Maksum.

Beliau, Kiai Ihsan menceritakan pertama kalinya masuk Pesantren Krapyak pada tahun 1972. Dan pada waktu itulah pertama kali nya pula beliau menatap wajah Mbah Ali yang baginya begitu menyejukkan. Beliau sangat senang ketika di dawuhi sesuatu oleh Mbah Ali, baik perintah maupun cerita.

Uniknya, ketika Mbah Ali tidak kunjung mendawuhi beliau, Kiai Ihsan tak segan-segan datang kepada Mbah Ali, meminta agar didawuhi.

‘’Bedo karo santri saiki nek didawuhi kiaine malah mblayu” Tuturnya sembari mengusap air mata rindu.

Mbah Ali sebagai salah satu ulama nusantara memiliki sifat zuhud yang luar biasa, sampai-sampai kamar tidurnya tidak terurus apalagi dikeramik. Bagi Mbah Ali, yang penting bisa untuk tidur.

Pada suatu ketika, Kiai Ihsan pernah didiamkan oleh Mbah Ali selama seminggu. Hal itu terjadi karena beliau mendaftar kuliah di IAIN Sunan Kalijaga tanpa sepengetahuan Mbah Ali. Seringkali beliau disindir dalam pengajiannya Mbah Ali. Singkat cerita, berkat keta’dziman Kiai Ikhsan, Mbah Ali mendaftarkan beliau kuliah di Madinah. Karena ada beberapa kriteria yang tidak dipenuhi, beliau pun didaftarkan di Makkah, hingga akhirnya berhasil kuliah di Baghdad. Ternyata, dibalik perintah beliau agar Kiai Ihsan tidak perlu kuliah, karena Mbah Ali punya rencana lain, yakni menguliahkannya ke luar negeri.

Saat di Baghdad, beliau disurati Mbah Ali dalam Bahasa Arab yang jika diartikan dalam Bahasa Indonesia “Wahai anaakku Ihsanuddin, semoga Allah menjagamu” kemudian Kiai Ihsan diceritakan mengenai perkembangan Pondok Krapyak selama beliau kuliah di Makkah. Simbah KH Ali Maksum juga berpesan kepada Kiai Ihsan untuk berziarah ke makam Syaikh Abdul Qodir Jaelani dan memohonkan do’a agar keluarga Mbah Ali senantiasa diberikan keberkahan, kesehatan, dan umur panjang.

“Nek kuliahmu wes rampung koe ora tak olehke kerjo neng Jakarta , tapi koe tak wajibke ngabdi neng Krapyak.” Pesan Mbah Ali sepulangnya Kiai Ihsan dari Makkah. Sehingga jika dihitung, kini Kiai Ihsan telah mengabdi di Pondok Krapyak selama 40 tahun lebih. Beliau juga diijazahi sebanyak 110 doa dari Mbah Ali agar dibaca dari bangun tidur hingga tidur lagi.

“Ngantik ono doa piye carane pengin entuk anak lanang” Ujar Kiai Ihsan disambut tawa hadirin.

Di samping itu, syair-syair Mbah Ali selalu menghiasi hidup beliau dan para santrinya pada masa itu. Bahkan di depan kamar tamu, ditulisi syair-syair yang kaitannya dengan tasawuf. Selain itu, syair yang kaitannya dengan sosial juga senang ditulis oleh Mbah Ali. Setiap orang yang mengetahui banyaknya harta yang Mbah Ali diinfakkan pasti mengucapkan Masya Allah sebagai bentuk takjubnya. Setelah Mbah Ali wafat, Kiai Ihsan menerima bagian berupa sarung dan uang sebesar dua puluh lima ribu rupiah. Sempat tidak percaya memang, tapi begitulah wasiat Mbah Ali.

Dikisahkan beliau nderek di ndalem Mbah Ali selama enam tahun, Kiai Ikhsan menyertai Mbah Ali, keberkahan-pun banyak beliau rasakan hingga saat ini. sebagai bentuk cinta Kiai Ihsan kepada Mbah Ali serta untuk menyambung silaturahmi, Kiai Ihsan pun memondokkan putra-putrinya di Pondok Pesantren Krapyak.(Qonita)

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

About admin