Halaqah Tematik “Pesantren Era 4.0” Bahas Peran dan Peluang UMKM Pesantren untuk Perekonomian Nasional

Pada Hari Sabtu, 4 Januari 2020 diadakan Halaqah Tematik “Pesantren Era 4.0” sebagai bagian dari rangkaian acara menyambut Haul Al-Maghfurlah KH. Ali Maksum ke-31 di Aula SMA Ali Maksum. Turut hadir dalam acara tersebut adalah Kepala Badan Koordinator Penanaman Modal (BKPM), Bapak Bahlil Lahadalia, S.E serta Ketua RMI PBNU Bapak KH. Abdul Ghofarrozin.

Acara dibuka dengan sambutan yang disampaikan oleh Ibu Ny. Hj. Hindun Anisah sebagai perwakilan keluarga. Beliau menyampaikan bahwa acara ini diadakan dengan tujuan menemukan insight mengenai UU Pesantren dan implementasinya di Era 4.0, terutama mengenai posisi komunitas pesantren, bagaimana menyikapinya dan bagaimana pesantren dapat berperan dan berkiprah dalam menyukseskan UU Pesantren tersebut.

“Forum ini diharapkan dapat menjadi wadah kontribusi dan partisipasi. Selamat berhalaqah, semoga bermanfaat bagi pesantren dan masyarakat global,” ujarnya seraya menutup sambutan.

Dalam diskusi yang dimoderatori oleh Pak Mashuri, Pak Bahlil Lahadalia, S.E fokus membahas mengenai peran investasi dan UMKM demi menunjang stabilitas perekonomian Indonesia. Ia menyatakan bahwa di tengah-tengah krisis ekonomi dan ketidakstabilan politik yang disebabkan oleh perang dagang antara Amerika dan China, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih bisa bertahan karena bertumpu pada industri UMKM lokal. Oleh karena itu, BKPM terus berupaya melibatkan pengusaha lokal dan UMKM demi memajukan investasi, contohnya dengan menerapkan kebijakan-kebijakan pro-UMKM seperti aturan pembentukan usaha yang harus menggandeng pengusaha lokal/UMKM, atau peraturan usaha luar yang berada di Indonesia wajib menyuplai bahan baku maupun jasa operasional minimal 20% dari pengusaha lokal/UMKM.

Dalam aspek ini, Pak Bahlil Lahadalia berpendapat bahwa pesantren memiliki peluang besar dalam memajukan industri UMKM karena di dalamnya, komunitas pesantren juga turut menyumbang peran, baik dalam aspek produksi maupun aspek konsumsi. Walaupun sudah ada beberapa pesantren yang melakukan pemberdayaan di bidang ekonomi, namun ternyataitu belum cukup karena kesadaran akan pentingnya pemberdayaan ekonomi belum terlalu populer di kalangan pesantren, sehingga upaya penguatan ekonomi keummatan di kalangan pesantren masih harus lebih gencar diajarkan dan diimplementasikan.

“Pesantren sudah betul menjadi basis kita belajar agama, namun pesantren juga harus memiliki pengetahuan ekonomi untuk dibekali kepada santri, karena tanpa daya dan pemberdayaan ekonomi, kita hanya akan menjadi karyawan politik. Tolong juga ajarkan kepada santri bahwa menjadi pengusaha juga merupakan pekerjaan yang mulia. Ingat, yang punya kata mabrur itu hanya 2, yaitu haji mabrur dan pengusaha mabrur,” tegasnya. (Sulfa/Rosfalianti)

About humaid