H. Fadloli Yasin: Barokah Hilangnya Gigi Mbah Ali

Pada rangkaian acara Bincang Alumni Pondok Pesantren Krapyak edisi Santri Ndalem di Halaman Asrama Sakan Thullab Sabtu 4 Januari 2020, hadir salah satu santri terdekat Mbah Ali pada tahun 80-an yaitu Bapak H. Fadloli Yasin. Tidak hanya menjadi santri pada era kepengasuhan Mbah Ali, hingga kini beliau juga masih aktif berkecimpung menjadi pengajar di MA Ali Maksum Krapyak. Beliau mengatakan, sejak awal mondok di Krapyak beliau ingin sekali ber-khidmah atau mengabdi kepada KH. Ali Maksum. Namun kala itu, ketika beliau menyampaikan niatnya, Mbah Ali justru menolaknya.

“Ah rasah, wis koe ngaji wae.” Mbah Ali pun mengganti permintaan beliau dengan tugas menyapu depan halaman hingga lapangan badminton setiap pagi.

Pada Haul KH. Munawwir (mertua Mbah Ali) tahun 1980an, diceritakan oleh Bapak Fadloli bahwa gigi palsu milik Mbah Ali hilang. Selama tiga hari berturut-turut seluruh santri Mbah Ali mencarikan gigi tersebut hingga ke tempat pembuangan sampah barat masjid, namun hasilnya tetap nihil.

Sehingga Mbah Ali pun membuat sebuah sayembara, “Sopo sing iso nemokke untuku, tak upahi duit 150 ewu”. Hadiah uang yang ditawarkan Mbah Ali kala itu terbilang banyak, karena untuk memesan sebuah gigi palsu yang baru saja kurang lebih seharga 200 ribu.

Setelah Bapak Fadloli mencari-cari gigi tersebut, ternyata gigi palsu Mbah Ali ditemukan di bawah bantal dengan keadaan sudah dikerubungi semut. Sebelum mengetahui bahwa gigi palsunya telah ditemukan, Mbah Ali sudah terlanjur memesan gigi palsu baru dan juga sudah membayar uang muka. Maka pada saat itu, Ibu Ny Hj Ida Rufaida Ali (putri bungsu Mbah Ali) mengingatkan kembali akan janji ayahnya tentang sayembara yang telah diumumkan. “Yo ra keno ngono bapak iku wis ngendiko kok dibatalke, Fadloli iku dikei, nek Fadloli ra gelem nompo yo kekno aku gelem, hehehe”. Mengiyakan ucapan puterinya, Mbah Ali pun meminta Pak Fadloli untuk menerima hadiah tersebut meskipun beliau sudah memesan gigi yang baru. Namun Pak Fadloli bersikeras tidak mau menerima uang pemberian Mbah Ali. Pada akhirnya Mbah Ali menggantinya dengan makan gratis di dapur ndalem selama 3 tahun, dan Pak Fadloli pun sendiko dawuh.

Sementara itu, setelah menjalani rutinitas makan di ndalem Mbah Ali, Pak Fadloli merasa tidak nyaman apabila hanya ikut makan tanpa ikut membantu barang sedikit. Berhubung kala itu Kang Ja’far dan Kang Mushlih yang menjadi juru masak di dapur Mbah Ali, maka setiap setelah makan beliau ikut membantu mencuci piring dan lain-lain. Sejak itulah, yang tadinya Pak Fadloli datang untuk ber-khidmah kepada Mbah Ali namun tidak diterima, akhirnya secara tidak langsung menjadi santri ndalem beliau bermula dari sebuah gigi palsu yang hilang.

Itulah salah satu karomah beliau KH. Ali Maksum Allahuyarham berdasarkan pengalaman Bapak H. Fadloli Yasin. (yf)

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

About admin