Bincang Alumni di Haul 31: Kisah Kasih Santri Kinasih Mbah Ali, Edisi Santri Ndalem

Dalam rangka Haul Al-Maghfurlah KH. Ali Maksum ke-31, Pondok Pesantren Krapyak Yayasan Ali Maksum menyelenggarakan Bincang Alumni pada Sabtu, 4 Januari 2020 di Halaman Asrama Sakan Thullab. Acara bertajuk “Kisah Kasih Santri Kinasih Mbah Ali” ini menghadirkan KH. Ihsanuddin (Pengasuk Pesantren Binaul Ummah, Wonolelo Bantul), KH. Muslih Ilyas (Pengasuh Pesantren Bangunjiwo Bantul), KH. Sua’di Abu Umar (Pengasuh Pesantren Ar-Roudhoh, Pasrepan Pasuruan) dan H. Fadloli Yasin (Wakil Kepala Sarpras MA ALi Maksum) sebagai pembicara pada kesempatan tersebut.

Registrasi peserta diiringi penampilan Tim Gambus El-Nida MA Ali Maksum menjadi pembuka acara pada siang hari. Selaku pengasuh Pondok Pesantren Krapyak. Ny. Hj. Ida Rufaida Ali dalam sambutannya menceritakan sosok KH. Ali Maksum dalam kenangan pribadinya. Sebelum kesehatan beliau mulai memburuk, mbah Ali pernah berkata bahwa beliau ingin memiliki sangu yang banyak untuk akhirat (amal jariyah). Mbah Ali ingin wasiat yang biasanya sepertiga harta itu dibalik menjadi sepertiga untuk ahli waris sedangkan dua pertiga untuk kepentingan pondok. Beliau pun meminta putra putri beliau untuk berikrar terhadap wasiat tersebut. Ketika mbah Ali meninggal, dua pertiga dari harta peninggalannya itu salah satunya menjadi Komplek Q dan Komplek Huffadh, Pondok Pesantren Al-Munawwir.

Lebih lanjut, Bu Nyai Ida mengenang beberapa perkataan mbah Ali yang dulu sering membuat putra putri beliau risih tapi nyatanya ilmiah. Mbah Ali adalah orang yang tidak repot dalam urusan makanan. “Nggawe tai ojo angel angel,” komentar mbah Ali, karena makanan seenak apapun, semahal apapun makanan akan menjadi feses juga. Mbah Ali pun pernah berkata seandainya makan itu bisa dijamak. Karena menurut beliau, betapa repotnya kalau sedikit-sedikit harus makan. Satu ungkapan mbah Ali yang sangat terkenal adalah bahwa orang itu hakikatnya WC berjalan. WC berjalan kok suombong. Sesungguhnya di balik kulit yang membungkus terdapat berbagai macam hal menjijikkan yang ada dalam tubuh kita.

Selanjutnya acara dimoderatori oleh KH. Ali Muhsin, pengasuh PP. Darul Ulum Jombang yang merupakan alumni PP. Krapyak tahun 1988. Terlebih dahulu Kyai Muhsin memperkenalkan tiap pembicara. Mengawali acara inti Bincang Alumni, KH. Ihsanuddin menceritkan awal mula beliau mondok di Krapyak yaitu tahun 1972. Kyai Ihsan mengaku ketika pertama kali melihat mbah Ali itu terlihat nikmat, terpancar hal yang sulit untuk diungkapkan. Demi selalu melihat wajah mbah Ali, beliau selalu sholat tepat di belakang mbah Ali dan bahkan mengikuti sampai keluar dari masjid. Kyai Ihsan juga bercerita tentang kezuhudan mbah Ali yang tidak melapisi lantai kamarnya dengan tegel. “Alah, dunyo iku muk sepiro suine,” kata mbah Ali ketika disarankan untuk mentegel lantai kamarnya.

Berikutnya, KH. Su’adi Abu Amar menceritakan kisahnya dari menjadi santri mbah Ali sampai menjadi besan beliau. Ketika Kyai Ihsan bercerita, Kyai Su’adi tampak membuat catatan di hapenya yang kemudian menjadi bahan cerita beliau. Di antara yang beliau ceritakan adalah ketika menjadi supir mbah Ali sekaligus mijeti, diajak berkeliling dari Banten sampai Banyuwangi, perihal Muktamar di Situbondo, sorogan Taqrib, nyolong ayam, pulang haji, pamitan rabi. “Carane mbah Ali ndidik kulo niku coro kekeluargaan, koyok sahabat,” tutur Kyai Su’adi mengakhiri ceritanya.

Menyambung kisah Kyai Su’adi, KH. Muslih Ilyas menyampaikan perihal sifat demokratis mbah Ali. Suatu ketika, mbah Ali diminta untuk mengisi mauidloh pada penutupan Pekan Ma’arij di Pondok Pesantren Tambak Beras. Selepas acara, mbah Ali ingin bertemu KH. As’ad Situbondo dan meminta ridlo santri-santri yang nderekke beliau. Lain waktu mbah Ali menanyakan pendapat Kyai Muslih terhadap suatu hal. Kyai Muslih menjawab nderek karena takut suul adab terhadap gurunya. “Takoni nderak nderek! Takoni ki njawab. Nek iyo alesane opo, nek ora alesane opo?” tegur mbah Ali.

“Yang pertama, bahwa sejak saya mondok di Krapyak ini selain ngaji, ingin sekali khidmah dengan Kyai Haji Ali Maksum,” kata Hj. Fadholi Yasin. Tugas pertama Pak Fadloli adalah untuk menyapu halaman selama setahun penuh. Pak Fadloli pun bercerita, tiap mbah Ali lewat tidak ada santri yang tidak lari karena pasti diberi pekerjaan. Entah itu nyabut rumput, ngeluruske paku, nyambung kabel, atau nyapu halaman.

Kyai Muhsin menambahi dengan kisah karomah-karomahnya mbah Ali. Di antaranya mbah Ali pernah menyuruh seluruh santri untuk mengambil jambu di vespa beliau. Tidak ada santri yang sadar bahwa muatan motor vespa itu hanya sedikit. Namun nyatanya seluruh santri mendapatkan jambu. Pernah pula ketika membangun, ada batu yang tidak bisa dipindahkan oleh siapapun sampai kemudian mbah Ali sendiri yang turun tangan.

Sabagai pamungkas, KH. Zaim Ahmad (Pengasuh Pesantren Kauman, Lasem) menyampaikan bahwa karomah mbah Ali berasal dari kejujuran beliau. Kyai Zaim yang turut hadir dalam acara Bincang Alumni menyampaikan dua cerita terkait kejujuran mbah Ali. Acara ditutup dengan doa oleh KH. Abdul Ghofur Maimoen (PP. Al-Anwar, Sarang). (Yasmeen Mumtaz).

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

About humaid