Talkshow Santri Millenial: Mencintai Perbedaan, Menghadapi Keberagaman Narasi Keislaman di Media Sosial

Pondok Pesantren Krapyak Yayasan Ali Maksum mengadakan Talkshow pada hari Ahad, (24/11) dengan mengangkat tema “Mencintai Perbedaan, Menghadapi Keberagaman Narasi Keislaman di Media Sosial”. Acara ini merupakan bagian dari acara diskusi rutinan yang diinisiasi oleh Forum komunikasi antar mahasiswa Pondok Pesantren Krapyak.

Pada kesempatan ini, talkshow menghadirkan dua narasumber, yaitu Sayyid Husein Ja’far Al Hadar (Bib Husein) Muslim Youth Influencer Content Creator “Jeda Nulis”, dan Widyawan, Ph.D (Gus Widy) Direktur DSSDI UGM sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta. Diskusi dibuka dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan lagu Ya Lal Wathon.

“Talkshow ini penting dalam konteks keislaman di Indonesia, terkait moderasi Islam, di dalamnya terdapat juga radikalisme yang menjajah kaum sekarang ini, baik yang berpendidikan maupun tidak”, tutur Gus Widy dalam sambutannya mewakili pengasuh Pondok Pesantren Krapyak.

Laily Usriya, sebagai moderator dalam acara talkshow ini menyampaikan, yang melatar belakangi diadakannya acara dengan tema ini, yaitu bermula dari keresahan forum komunikasi antar mahasiswa, melihat sekarang telah maraknya media digital khususnya media sosial, yang tidak bisa terlepas dari kita, dan juga menemukan narasi-narasi yang sangat beragam.

Pada sesi pertama, Bib Husein menyampaikan, media sosial jika diisi oleh orang-orang yang berkemauan tapi tidak berkemampuan, maka kecelakaan akan terjadi kepada umat. Jika kita mencari informasi-informasi tentang Islam di google, 2 dari 10 website teratas itu dari NU dan tidak radikal, 8 di antaranya merupakan website yang radikal. PR bagi kita untuk mengisi konten-konten di media sosial dengan nilai-nilai keislaman yang moderat dan lain sebagainya, karena data dari akses sekitar 150 juta orang menggunakan media sosial di Indonesia, sekitar 56% itu data terendahnya, artinya separuh masyarakat Indonesia menggunakan media sosial setiap harinya.

Rata-rata media sosial yang digunakan oleh masyarakat Indonesia adalah Instagram. Menggunakan media sosial bukan hanya dengan kemampuan, tetapi juga dengan kecerdasan dalam hal tersebut. Cara masuk ke media sosial menurut Bib Husein yaitu dengan kemampuan public speaking. Dalam menggunakan media sosial, kita juga harus mempunyai akses. Seperti akses kepada kiai, akses kepada guru, akses kepada santri dan masyarakat.

“Media sosial berbeda dengan dunia santri. Jadi jangan mengajak orang-orang untuk ngaji dengan cara yang tidak santai, tapi diajak ngaji dengan santai dan dengan cara yang asyik,” imbuh Bib Husein.

Selanjutnya Gus Widyawan, Ph.D dalam sesi pertama ini menjelaskan, bahwa faktor mengapa website yang bukan dari Islam moderat lebih banyak, tersebut dikarenakan kesadaran mereka akan kebutuhan dan tersedianya teknologi sekarang ini. Syiar melalui youtube yang dilakukan oleh Bib Husein adalah cara yang cukup jitu. Santri dan mahasiswa ini dalam waktu yang pas, karena tahu apa yang dibutuhkan anak muda, santri juga punya akses dan keilmuan yang mumpuni, juga masih punya waktu luang dan ruang yang mendukung untuk bergerak dalam bidang media digital ini.

“Indonesia mayoritas umat muslim, maju mundurnya Indonesia tergantung umat Islam. ini yang menyebabkan, segala sesuatu yang terkait keislaman menjadi populer. Agama juga provokasi yang paling murah dan mudah, karena itu agama mempunyai panggung besar di depan publik. Ini yang cukup diresahkan mengapa santri masih kurang tampil di permukaan, padahal sudah tersedia panggung dan ruang dakwah yang besar,” ujar Bib Husein.

Menurut Bib Husein, orang-orang radikal mau dan berani menampilkan pendapatnya. Secara mendasar, mereka sudah salah kaprah dalam menyampaikan agama Islam dengan keras. Tapi mereka berani mengisi media sosial, padahal kita sama-sama punya kesempatan mengisi media sosial dengan cara kita. Tidak hanya mereka yang bisa melakukan provokasi, kita juga bisa melakukan provokasi positif terhadap masyarakat di sosial media. Kita bisa buat konten dengan cara kita sendiri. Mereka berdakwah mengeluarkan dalil-dalil, kita bisa berdakwah dengan kemasan yang lebih asyik, seperti dengan menggunakan komedi, misalnya.

Sebagai santri yang sudah terbiasa dalam lingkungan homogen, maka beberapa langkah yang harus dilakukan ketika berhadapan dengan lingkungan yang heterogen di luar ada;lah, Pertama, membuka pikiran. Kedua, biasa untuk tidak memonopoli kebenaran. Ketiga, tidak menggurui. Kita boleh radikal dalam iman, tapi harus terbuka dalam pikiran. Kalau kata sufi, jika dalam keadaan sendiri, harus iman secara radikal. Namun, ketika berhadapan dengan orang lain, kita harus toleran.

Setelah acara berakhir, sewaktu bincang santai dengan santri Krapyak, Bib Husein juga menyampaikan pesan, sebagai generasi intelektual muslim, untuk membuat konten-konten dakwah positif di media sosial. Hal ini dikarenakan kita tidak bisa terus menerus terpaku pada perihal konstestasi gagasan terkait perbedaan cara pandang memahami dan mengamalkan agama. Walisongo telah mengajarkan berdakwah yang sejuk, dengan merangkul masyarakat serta toleran atas segala perbedaan.
(LM)

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

About admin