Diskusi Rutin: Sharing Paper Santri Krapyak Lolos dalam Muktamar Pemikiran Santri Nasional ke-II

Santri Mahasiswa Pondok Pesantren Krapyak Yayasan Ali Maksum Yogyakarta kembali mengadakan diskusi rutin pada Sabtu, (19/10) dengan mengangkat tema “Santri Pengemban Amanah Pengetahuan Penggerak Kebudayaan”. Pada kesempatan ini diskusi menghadirkan lima narasumber santri Krapyak dengan paper yang telah lolos dan dipresentasikan dalam Muktamar Pemikiran Santri Nusantara 2019 pada 28-30 September lalu di Pondok Ash-Shiddiqiyyah, yaitu Irsyadul Ibad (Santri Komplek H), Muhammad Wahyu Arif (Santri Komplek Sakan Thullab), Dewi Rosfalianti Azizah (Santri Komplek Asrama Putri), Muhammad Nabil Fahmi (Santri Komplek Taman Santri), Nur Alfasanah (Santri Komplek Taman Santri).

Ketua Yayasan Pondok Pesantren Krapyak Kiai Afif Muhammad, MA. dalam diskusi ini sebagai keynote speaker. Kiai Afif menyampaikan, diskusi kali ini diadakan pada pekan Hari Santri Nasional, yang mana hari santri itu adalah hari rayanya para santri. Menurutnya, santri adalah kunci perdamaian dunia. Dengan adanya forum-forum perubahan, seperti: forum pemikiran-pemikiran yang membangun.

(Full paper dapat diakses pada bit.ly/MPSNSantriKrapyak2019)

Paper pertama dipresentasikan oleh Irsyadul Ibad dengan judul “Memaksimalkan Kontribusi Pesantren dalam Perdamaian Dunia: Studi terhadap Pesantren Krapyak Yogyakarta”. Ibad menyampaikan, bagaimana nilai-nilai pesantren yang dipelajari setiap hari diperkuat untuk menjadi ide-ide yang sifatnya tidak hanya eksklusif di pesantren, tapi ide itu bisa menjadi sebuah ide yang universal, diterapkan pada masyarakat dunia dalam rangka mewujudkan perdamaian dunia.

Maksudnya, peran pesantren yang kemudian saat ini banyak difasilitasi oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sebagai organisasi yang lahir dan besar di komunitas pesantren pada isu-isu Internasional terutama pada kampanye perdamaian dunia menjadi sangat strategis. Dalam kehidupan di pesantren mengenal empat prinsip: tasamuh, tawasuth, hifzud diin, dan hifzun nas”.

Paper kedua dipresentasikan oleh Muhammad Wahyu Arif dengan judul “Peranan Strategis Media Dakwah Bangkitmedia.com dalam Perang Siber dan Kampanye Perdamaian”. Wahyu Arif menyampaikan, di balik keberagaman dan perbedaan di Indonesia ini bisa dipakai sebagai target namun juga bisa dipakai sebagai pemicu konflik, baik itu konflik antar-agama, antar-suku, atau antar-ideologi.

Adanya peristiwa konflik akan otomatis mengundang media untuk datang meliput, karena sebuah isu memang sangat menarik bagi suatu pers. Pemateri mengambil media online, Bangkitmedia.com yang pernah terlibat perang siber dengan media-media milik organisasi terlarang HTI. Puncak konflik ini terjadi pada saat pembakaran bendera HTI di Garut pada Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2018.

Tidak melulu terlibat perang siber Bangkitmedia.com sebagai media yang dikelola oleh santri, berusaha menampilkan wacana alternatif yang penuh rahmat dan pesan damai.

Paper ketiga dipresentasikan oleh Muhammad Nabil Fahmi dengan judul “Indigenousitas, Pendidikan Karakter dan Upaya Menumbuhkan Nasionalisme Santri”. Peran santri sangat besar dalam memperoleh ilmu pengetahuan dengan wawasan yang luas. Dilihat dari kondisi pemuda saat ini, dimana bangsa kita ini mengalami krisis identitas, status mereka adalah rakyat Indonesia tetapi mereka tidak merasa sebagai rakyat Indonesia.

Hal tersebut dipengaruhi banyak hal juga, salah satunya pengaruh globalisme, liberalisasi pendidikan. Hal ini patut untuk kita selesaikan bersama, masa dimana Negara saling terhubung satu dengan yang lain lewat globalisasi, ideologi, paham-paham, nilai-nilai Islam yang nasional yang masuk ke lembaran suatu bangsa. Jika tidak difilter dengan hati-hati, maka dampaknya akan mempengaruhi salah satunya ideologi suatu bangsa.

Metode pendidikan di pesantren merupakan metode yang asli. Suatu program pendidikan yang strategis, mampu membangun karakter santri dalam menumbuhkan nilai-nilai nasionalisme dalam karakter santri.

Paper keempat dipresentasikan oleh Dewi Rosfalianti Azizah dengan judul “Islam Nusantara: Konstruksi Narasi Islam Rahmatan lil Alamin di Media Digital”. Pada Muktamar Nahdlatul Ulama ke-33 di Jombang, Jawa Timur 2015 lalu, NU secara resmi menggulirkan Islam Nusantara sebagai bentuk dakwah Islam sekaligus bentuk perlawanan terhadap gerakan Islam Transnasional dan Islam puritan yang membawa spirit beragama radikal dan intoleran.

Dalam praktiknya, konstruksi wacana mengenai Islam Nusantara dijalankan secara simultan dan sporadik dengan memanfaatkan unsur-unsur kultural dan struktural NU sebagai suatu organisasi Islam terbesar di Indonesia.

Dewi memaparkan target audiens narasi Islam Nusantara: Muslim kalangan kelas menengah dan perkotaan, karena paling banyak mendapatkan terpaan informasi keagamaan. Kalangan anak muda, dengan spirit-spirit dakwah yang sesuai tantangan zaman. Kaum muslim awam dengan keagamaan yang kuat, karena perlu dituntun agar semangat keislamannya tidak mengarah ke bentuk yang instan dan hanya mementingkan penampilan.

Paper kelima dipresentasikan oleh Nur Alfasanah dengan judul “Santri, NU dan Perdamaian Papua”. Perdamaian merupakan kesejahteraan hidup bagi kita, pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial, saling bersosialisasi dan tidak mungkin bisa hidup tanpa bersosialisasi dengan makhluk lainnya. Kebijakan perdamaian sendiri tidak lepas dari konflik beberapa minggu yang lalu tentang konflik di Papua. Sebenarnya pemerintah dalam hal ini sudah berupaya untuk mendamaikan konflik yang terjadi di Papua.

Di sinilah peranan santri sangat berpengaruh dalam perdamaian dunia. Mendamaikan dunia dengan lisan yang baik, tutur kata yang santun, sikap yang indah. Santri tidak lepas dari pondok pesantren, tempat yang menumbuhkan karakter santri yang unggul dalam berbagai bidang sampai tumbuhnya rasa nasionalisme dalam diri santri.

(Meyreza/ilm)

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

About admin