Seminar Literasi, Meriahkan Hari Santri Pondok Krapyak

Rangkaian acara peringatan Hari Santri Pondok Pesantren Krapyak sudah dimulai. Ahad (13/10) tim redaksi majalah Khoirul Ummah (Khoum) yang dipayungi oleh MA Ali Maksum berkesempatan mengadakan seminar bertajuk “Santri Millenial Menjawab Tantangan Literasi di Era Digital”. Acara ini menjadi acara pembuka dari keseluruhan rangkaian acara peringatan Hari Santri Nasional di Pondok Pesantren Krapyak. Acara ini dihadiri oleh tiga narasumber, diantaranya: Joni Ariadinata (Sastrawan), Edi Mulyono (Direktur Diva Press), dan Kalis Mardiasih (Penulis).

Acara ini diikuti oleh siswa-siswi Madrasah Aliyah Ali Maksum, khususnya redaktur Majalah Khoum, juga perwakilan santri mahasiswa per komplek dari Ali Maksum dan Al-Munawwir.

Edi Mulyono, penulis kelahiran Sumenep ini memberikan poin penting sebelum memulai materi pembahasan literasi. Beliau mengatakan bahwa orang yang bertanya pada sesi tanya jawab nanti adalah orang yang melangkah lebih jauh untuk menjadi penulis. Hal ini disebabkan karena penanya mempunyai pikiran kritis dan mentalitas lebih daripada lainnya, yang kedua hal tersebut nantinya akan menjadi batu loncatan dalam perjalanan kepenulisannya.

Direktur Penerbit Diva Press ini melanjutkan bahwa santri sangat beruntung tinggal di lingkungan yang mempunyai tradisi literasi cukup intensif. Keberadaan santri di pondok akan menggiring mereka melakukan literasi, karena atmosfir lingkungan yang mereka tinggali. Bahkan guyonan sepele yang dilakukan santri seperti menashrif nama temannya menunjukan adanya proses literasi. Hal ini juga menjadi jejak intelektualitas yang pernah dilaluinya.

Edi menyarankan supaya mengambil inspirasi dari para penulis ulung. Setiap penulis -lanjutnya- pasti memiliki fase jatuh-bangun, salah dan keliru. Seharusnya kita dapat mengambil hikmah dari perjalanan panjang para penulis agar bisa dijadikan motivasi kita dalam meningkatkan semangat literasi kita.

Materi selanjutnya disampaikan oleh Joni Ariadinata. Sastrawan ini memulai pembahasan dengan mengatakan bahwa betapa beruntungnya santri tidak diperkenankan membawa gadget. Karena gadget zaman sekarang banyak dipakai untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Akibatnya waktu terbuang sia-sia. Oleh karena itu, santri memiliki potensi yang sangat besar untuk meningkatkan literasinya.

Joni memberikan kiat-kiat menjadi penulis. Menurutnya, untuk bisa menulis hanya dituntut untuk membaca. Menulis juga membutuhkan ketekunan dan kesabaran. Beliau juga mengatakan bahwa penulis dikatakan gagal ketika ia berhenti menulis. Artinya, selama seseorang terus menulis maka kata ‘gagal’ belum melekat pada dirinya.

Narasumber pamungkas pada acara seminar ini adalah Kalis Mardiasih, seorang kolumnis di detik.news.com. Kalis menyampaikan, bahwa inspirasi yang mendorongnya menjadi penulis adalah ayahnya. Hal serupa dikatakan oleh Edi Mulyono, bahwa sebaiknya kita mengambil hikmah atau inspirasi dari orang lain untuk memotivasi kita dalam menulis.

Menurut Kalis, orang-orang zaman sekarang lebih menyukai cerita ketimbang berita. Hari ini, media sosial seperti youtube bisa menjadi tolak ukur rendahnya literasi yang terjadi. Begitu banyak youtuber yang kontenya tidak memenuhi standar kualitas dan memiliki subscriber jutaan. Hal ini menunjukan rendahnya semangat literasi yang dimiliki masyarakat.

“Seharusnya yang kita lakukan adalah terus membaca, untuk menambah wawasan dan membuka cakrawala pemikiran kita. Ketika kita mempunyai banyak bacaan dari orang-orang yang memiliki pemikiran berbeda, maka kita bisa memadukan pemikiran-pemikiran tersebut dan menyesuaikannya dengan kondisi zaman kita”, pungkas Kalis.

(Gaza, Santri MA Ali Maksum)

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

About admin