Waspadai Potensi Bencana di DIY, MTs Ali Maksum Adakan Penyuluhan Sekolah Siaga Bencana

Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) merupakan salah satu daerah yang dikategorikan sebagai daerah rawan bencana. Hal ini dikarenakan keadaan geografis di Provinsi DIY, dimana di sebelah utara terdapat gunung api dan di sebelah selatan dikelilingi oleh Laut Selatan. Menurut pengamatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY sebagaimana dimuat dalam krjogja.com (19/07/19), bahwa DIY mempunyai empat ancaman bencana besar yang perlu diantisipasi, yaitu gempa bumi, gunung meletus, tsunami, dan kegagalan teknologi misalnya pesawat jatuh atau kegagalan bendungan.

Madrasah Tsanawiyah Ali Maksum berada di Dusun Krapyak, Bantul yang selama 15 tahun terakhir ini juga terjadi bencana dan dampaknya yang cukup dahsyat, yaitu gempa Bantul pada 2006 dan erupsi Gunung Merapi pada 2010. Provinsi DIY juga sering merasakan dampak getaran akibat gempa di beberapa daerah, misalnya gempa di Tuban pada 19 September 2019 lalu juga terasa.
Musibah atau bencana dapat datang kapan saja dan menimpa siapa saja. Namun, tidak semua orang mengetahui bagaimana cara menghadapi ketika terjadi bencana. Pada masyarakat umumnya, ketika terjadi bencana akan muncul rasa kepanikan. Hal ini tidak jarang berakibat pada kesalahan menanggapi bencana, sehingga dapat menimbulkan banyak korban.

Oleh karena itu, dirasa perlu memberikan penyuluhan tanggap bencana kepada siswa-santri Madrasah Tsanawiyah Ali Maksum yang berasal dari berbagai daerah dengan berbagai perbedaan kondisi geografis daerahnya. Hal ini bertujuan untuk menanamkan karakter siaga dan tanggap terhadap gejala maupun bencana yang ada di sekitarnya, sehingga para siswa-santri memahami langkah yang harus diambil ketika terjadi bencana.

Penyuluhan sekolah siaga bencana diselenggarakan pada hari Rabu-Kamis, 18-19 September 2019 di Yayasan Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak. Materi penyuluhan disampaikan oleh Bapak Wujud dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi DIY mengenai potensi ancaman bencana di DIY dan langkah-langkah yang harus dilakukan pada saat terjadi bencana. Materi penyuluhan difokuskan pada siaga dan tanggap bencana gempa bumi dan kebakaran, dengan alasan dua ancaman bencana tersebut paling dekat dengan siswa-santri yang berada di pondok selama 24 jam. Bapak Wujud juga berharap agar di madrasah dan pondok ini bisa disetting sebagai tempat yang benar-benar siaga bencana, misalnya dengan adanya rambu-rambu jalur evakuasi, titik kumpul, dan lain-lain.

Melalui penyuluhan tersebut diharapkan para siswa-santri memahami resiko dan langkah yang harus dilakukan ketika terjadi bencana yang bisa datang kapan saja. Pentingnya penyuluhan sekolah siaga bencana juga disampaikan oleh A. Hanis Thoriq, S.H.I., M.S.I selaku Waka Kesiswaan Madrasah Tsanawiyah Ali Maksum, bahwa materi yang disampaikan oleh pemateri sangat penting dan bermanfaat untuk kita mengenai kesiapan mengambil langkah pada saat terjadi bencana karena kita tinggal di daerah yang mempunyai ancaman bencana cukup besar.

Pada saat terjadi bencana tidak jarang menimbulkan korban, sehingga diperlukan upaya pertolongan pertama demi keselamatan korban. Pertolongan pertama sangat diperlukan bagi setiap orang yang membutuhkan pertolongan dalam berbagai keadaan, baik masalah kesehatan, karena kecelakaan, ataupun dampak dari adanya bencana. Oleh karena itu, kegiatan penyuluhan sekolah siaga bencana dilanjutkan dengan pemberian skill pertolongan pertama pada siswa yang disampaikan oleh pemateri dari Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Yogyakarta.

Pemberian skill pertolongan pertama diawali dengan beberapa hal yang menyebabkan timbulnya korban atau seseorang membutuhkan pertolongan, kemudian dilanjutkan dengan pentingnya pemberian pertolongan pertama pada korban yang dilanjutkan dengan simulasi/praktik cara penanganan korban. Hal ini dimaksudkan untuk menumbuhkan sikap peduli terhadap kondisi teman di lingkungan sekitar anak atas dasar kemanusiaan.

Harapan besar para penyelenggara kegiatan penyuluhan dan latihan ini adalah terciptanya madrasah-pondok yang selalu siaga terhadap bencana, sehingga mengetahui langkah yang harus dilakukan ketika bencana terjadi untuk meminimalisir adanya korban. Selain itu, terbentuk karakter peduli terhadap kondisi di lingkungan sekitar pada saat terdapat teman yang membutuhkan bantuan untuk memberikan pertolongan atas dasar kemanusiaan.
(Khoiriyaningsih)

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

About humaid