Perjalanan Nabi Ibrahim dalam Mendidik Anak dan Keluarga

Oleh: KH. Muhammad Nilzam Yahya, M. Ag.*)

Pendidikan atau tarbiyah yang diterapkan kepada putra beliau Nabiyullah Ismail dalam Alquran telah dikisahkan melalui perjalanan panjang, dramatis, serta penuh pengorbanan, Nabi Ibrahim ketika itu, atas perintah Allah meninggalkan dan memondokkan putra beliau, Nabiyullah Ismail dan istri beliau Sayyidati Hajar disuatu tempat yang jauh dari keramaian, asing dan bahkan belum ada sedikitpun orang yang mendiami daerah tersebut, ditandai dengan perjalanan nabi Ibrahim yang terus pergi dan berjalan sampai tiba di bukti Tsaniyah, tempat dimana putra beliau nabiyullah Ismail dan sayyidati Hajar ditinggalkan berdua sendirian.

Ketika mereka berdua sudah tidak dapat dilihat kembali sejauh mata memandang, nabiyullah Ibrahim memanjatkan doa sebagai mana dikisahkan dalam al-Quran:
(رَّبَّنَاۤ إِنِّیۤ أَسۡكَنتُ مِن ذُرِّیَّتِی بِوَادٍ غَیۡرِ ذِی زَرۡعٍ عِندَ بَیۡتِكَ ٱلۡمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِیُقِیمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱجۡعَلۡ أَفۡـِٔدَةࣰ مِّنَ ٱلنَّاسِ تَهۡوِیۤ إِلَیۡهِمۡ وَٱرۡزُقۡهُم مِّنَ ٱلثَّمَرَ ٰ⁠تِ لَعَلَّهُمۡ یَشۡكُرُونَ)

dengan mengangkat kedua tangan dan perasaan yang sangat teramat berat nabiyullah Ibrahim berdoa:

“Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah rezeki mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” ( ibrahim 37).

Sebuah perjuangan dan pengorbanan yang sangat berat bagi keluarga Nabiyullah Ibrahim, karena harus meninggalkan keluarga kecil beliau ditenggah gurun yang sepi tidak ada teman sama sekali
perjalanan panjang Nabiyullah Ibrahim, ketika meninggalkan putra beliau dan sayyidati Hajar tidak lepas dengan bekal rasa tawakal dan kepasrahan tinggi, dengan menyerahkan sepenuhnya dan sedalam-dalamnya semua urusan kepada Allah
(رَبَّنَاۤ إِنَّكَ تَعۡلَمُ مَا نُخۡفِی وَمَا نُعۡلِنُۗ وَمَا یَخۡفَىٰ عَلَى ٱللَّهِ مِن شَیۡءࣲ فِی ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِی ٱلسَّمَاۤءِ)

“Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami tampakkan; dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit”.[surat Ibrahim,38]
Ayat ini menunjukkan kegalauan beliau nabiyullah Ibrahim atas apa yang tersimpan didalam hati, kerinduan dan perpisahan dengan orang-orang yang dicintai, Tapi kepasrahan dan tawakal beliau sangat kuat sehingga beliau yakin Allah subhanahu wa taala pasti akan menjaga, merawat sekaligus mendidiknya dengan pendidikan terbaik disamping Baitullah

Dalam titian hari hari beliau, Nabiyullah Ibrahim tidak hentinya selalu berdoa untuk putra beliau dan sayyidati hajar, atas harapan besar dari seorang bapak kepada anak2, keluarga, dan kaum pengikutnya, doa ini tertulis dalam Al-quran surat Ibrahim 40-41:

(رَبِّ ٱجۡعَلۡنِی مُقِیمَ ٱلصَّلَوٰةِ وَمِن ذُرِّیَّتِیۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلۡ دُعَاۤءِ)
(رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لِی وَلِوَ ٰ⁠لِدَیَّ وَلِلۡمُؤۡمِنِینَ یَوۡمَ یَقُومُ ٱلۡحِسَابُ)

“Ya Rabb ku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan shalat, ya rabb kami, perkenankanlah doaku. Ya Rabb kami, ampunilah aku dan kedua ibu bapakku dan semua orang yang beriman pada hari diadakan perhitungan (hari Kiamat).”

Kisah pesan Nabi Ibrahim ini dicatat oleh Allah dalam al-quran surat Ibrahim 37-41, kisah teladan ini telah memberikan i’tibar dan uswah kepada kita, bahwa ketika kita mempunyai harapan besar untuk menjadikan orang yang yang hebat, membanggakan dan mempunyai nilai manfaat kepada masyarakat sekitar atas anak-anak kita dan keluarga kita, maka salah satu upayanya adalah menjalankan tiga tahapan penting, yaitu pengorbanan atas dasar ketaatan, tawakal dan doa, seperti halnya tiga tahapan yang dijalankan oleh nabiyullah Ibrahim ketika mendidik putra dan keluarga beliau.
Perjalanan Ibrahim dan keluarganya adalah mata-air inspirasi tentang spirit pendidikan ideal yang selayaknya menjadi panduan kita dalam mendidik anak dan keluarga.

*) Penulis adalah Pengasuh Asrama MTs Putra Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta.

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

About humaid