Santri Krapyak di Rusia

Nama saya Muhamad Zainun Najib. Tercatat sebagai santri Pesantren Krapyak alumni 2003. Selepas dari Pesantren Krapyak, Mesir adalah pelabuhan berikutnya dari studi saya. Dan sekarang,saya tercatat sebagai mahasiswa pasca sarjana di Ursalski Gosudarstvenni Universitet, Sverdlovski Oblast. Tepatnya saya belajar di Ural, salah satu negara federasi Rusia. Saya mengambil program study filsafat

Keberadaan saya di Rusia saat ini karena saya mendapatkan beasiswa dari pemerintah Rusia.  Saya mendapatkan beasiswa ini melalui pusat kebudayaan Rusia (PKR) yang ada di Jakarta. Setiap tahunnya PKR membuka peluang untuk putra-putri Indonesia yang berkeinginan belajar di Rusia.

Adatnya, pembukaan pendaftaran beasiswa dimulai pada bulan Maret. Namun bisa saja berubah-ubah sesuai kebijakan dari kementrian pendidikan Rusia. Namun tidak hanya Rusia yang menawarkan beasiswa. Seperti pengalaman saya tahun lalu, ada tiga negara yang menjadi incaran saya; Perancis, Qatar dan Rusia. Ketiganya di buka dalam waktu yang bersamaan. Dan pilihan saya pun tertuju untuk Rusia.

Ketika ditanya saat seleksi beasiswa oleh pegawai dari kedutaan besar Rusia tentang alasan memilih Rusia sebagai tempat belajar, saya menjawab, ingin mengkomparasi tentang kehidupan masyarakat Rusia yang multi kultur dan etnis dari tinjauan filsafat. Jawaban saya ternyata bisa diterima oleh pewawancara dari Rusia.

Selain itu, dalam wawancara biasanya pihak penyelenggara beasiswa juga ingin mengetahui kesiapan kita untuk hidup di negara orang. Karna hidup di negara orang tidaklah mudah. Khususnya bagi seorang pelajar harus berani “rekoso” (bhs. Jawa: hidup susah).

Dalam wawancara tersebut, akan dikatakan tentang hal-hal negatif tentang negara bersangkutan, seperti watak warga yang temperamental, perbedaan biaya hidup, kesulitan menghadapi perbedaan iklim dan lainnya. Untuk itu, perlu kesiapan dan niat yang kuat. Apalagi kita akan bersaing dengan orang-orang pintar yang datang dari penjuru tanah air. Mereka datang dengan tujuan satu bertarung mendapatkan beasiswa.

Pilihan saya memang aneh. Banyak sekali orang yang bertanya tentang ketertarikan saya untuk belajar di negara tirai besi ini. Terlebih latar belakang pendidikan saya yang terlihat tidak nyambung jika saya melanjutkan belajar ke Rusia. Dari pesantren Krapyak – kemudian ke Mesir –  selanjutnya ke Rusia, adalah rute yang menurut sebagian orang kurang masuk akal.

Kekhawatiran keluarga dan kerabat saat itu memang bisa saya maklumi, karena selama ini kita hanya mendengar Rusia dari satu sisi saja. Tidak dari sisi lain. Yang mana, sisi lain tersebut memang berusaha untuk ditenggelamkan dari sejarah.

Alhamdulillah, bisa hidup di Rusia merupakan pengalaman tersendiri bagi saya. Di negara ini, muslim bisa dikatakan sebagai kaum minoritas. Disinilah saya merasa bahwa keimanan saya di uji. Apakah saya sebagai muslim sejati ataupun bukan.

Seperti contoh, untuk masalah sholat, kita harus mencuri-curi waktu dan tempat. Kadang kita harus berlari untuk pulang ke asrama, sekedar untuk sholat di kamar. Terkadang juga sholat di tengah pelajaran dengan hanya duduk. Ya, karena disini Rusia tidak seperti di Indonesia, yang setiap instansi bisa dipastikan ada musholla. Untuk masalah makanan, kita juga harus selektif. Tidak jarang, ketika mendengar suara adzan dan lantunan al-Qur’an hatipun menangis.

Semoga saya bisa terus berbagi…

 

Yekaterinburg, 19/3/2011

Najib, santri krapyak di Rusia

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

About alimaksum