Peresmian Toko dan Warnet Pesantren

Hingga saat ini, ada 32 lembaga dari seluruh Indonesia yang telah menerima bantuan wakaf produktif dari Kemenag RI. Salah satunya adalah Yayasan Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta yang menerima bantuan sebesar RP. 500.000.000,- pada tahun anggaran 2009. Bantuan ini selanjutnya diwujudkan dalam satu paket bangunan berlantai II, dan dipergunakan untuk menjalankan 2 unit usaha, yakni Minimarket dan Warung Internet (Warnet) yang diberi nama AlMa (Ali-Maksum), dan berlokasi di Jl. Cuwiri (Samping gerbang Asrama Sunan/LKIM) RT 37 RW 10 Yogyakarta, tlp. (0274) 4399152. Secara riil, LIMA minimarket dan warnet telah beroperasi sejak pertengahan bulan Mei 2010, namun peresmian oleh Kementerian Agama RI baru dilakukan pada pertengahan bulan Desember 2010, yang dilakukan secara kolektif di Hotel Melia Purosani Yogyakarta, bersama dengan 5 lembaga lain yang mendapat bantuan pada tahun 2009, yakni; Yayasan LPI Buntet Pesantren Cirebon; Lembaga Ponpes Al Anwar Rembang; Yayasan Ponpes Miftahul Ulum Al Yasini Pasuruan; Yayasan Al Asy’ariyah Ponpes Nahdlatul Ulum Sulsel; dan Yayasan Ponpes Walisongo Pontianak.

Bagi madzhab Syafi’iyah, wakaf nuqud (wakaf uang tunai) masih menimbulkan pro kontra. Demikian dikatakan oleh Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI saat meresmikan secara kolektif proyek percontohan wakaf produktif di Hotel Melia Purosani Yogyakarta (14/12/2010). “Bagi madzhab Hanabilah, wakaf uang tunai diperbolehkan secara mutlak, namun bagi madzhab syafi’iyah masih menimbulkan pro dan kontra”. Walaupun demikian, dengan melihat nilai strategis dan besarnya kemaslahatan yang terkandung di dalamnya, sejak tahun anggaran 2006 Kementerian Agama RI melalui Direktorat Jenderal Bimas Islam terus menggulirkan program wakaf produktif.

Salah satu nilai strategis program wakaf adalah dilihat dari kontinuitas kemanfaatan yang dapat dirasakan. Secara prinsip, program wakaf sangat berbeda dengan hibah. Karena harta yang diwakafkan tidak dapat dijual atau dihabiskan, melainkan harus dipertahankan pokoknya, dan hanya dapat diambil manfaatnya semata. Disamping itu, pertanggung jawaban atas benda wakaf juga memiliki dua dimensi, yakni dimensi dunia dan akhirat. Di dunia, penerima wakaf (nadzir) dituntut untuk mempergunakan benda wakaf sesuai dengan peruntukan dan ketentuan yang berlaku, sedangkan di akhirat nadzir diharuskan menyampaikan pertanggung jawaban atas amanah yang telah diberikan kepada dirinya.

“Penerima bantuan wakaf produktif harus benar-benar amanah, karena wakaf beda dengan hibah. Diantara yang membedakan keduanya adalah nadzir harus menjaga agar pokok wakaf tidak berkurang apalagi habis. Karena prinsip wakaf adalah mempertahankan pokok-nya dan mengambil manfaat dari hasil yang diperoleh” Kata Nasaruddin. Disamping itu, ukuran keberhasilan pengelolaan program wakaf produktif bukan semata dilihat dari bertambahnya modal, akan tetapi yang lebih penting adalah berkembangnya kualitas dan kuantitas mauquf álaih (penerima manfaat). “Indikator utama dari keberhasilan program  ini adalah berkembangnya mauquf álaih. Misalnya Pesantren yang awalnya belum mampu memberikan beasiswa bagi santrinya, atau belum mampu menyediakan sarana dan prasarana yang layak, kemudian dengan adanya manfaat dari wakaf produktif mendorong pesantren untuk memberikan beasiswa belajar kepada santri, menambah sarana prasarana pendidikan yang lebih baik, dan lain sebagainya” lanjut Nasaruddin Umar.

Peresmian wakaf produktif oleh Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA (Dirjen Bimas Islam Kemenag RI) di Hotel Melia Purosani Yogyakarta ditandai dengan penanda tanganan prasasti dan dilanjutkan kunjungan ke AlMa Minimarket dan Warnet Yayasan Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta. Ikut serta dalam kunjungan ke Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta adalah Direktur Pemberdayaan Wakaf, Staf Menteri Agama, Kasubdit Wakaf, dan sejumlah pejabat dari Kementerian Agama RI, serta Kakanwil Kemenag DIY, Kepala Uraias dan beberapa orang pejabat dari Kantor Kementerian Agama Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. (msalim)

photo by widyawan

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

About alimaksum