Berita

Mbah Ali, Kehidupannya, dan Memori-Memorinya pada Haul ke-32 oleh Drs. Agus Maftuh Abegebriel, M.Ag.

Drs. Agus Maftuh Abegebriel, M.Ag, Dubes RI untuk Arab Saudi, sekaligus alumni Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta kembali hadir pada acara virtual haul KH Ali Maksum yang ke-32 (Rabu, 23/12/20). Pak Abegebriel didawuhi oleh KH Atabik Ali, putra pertama Mbah Ali untuk menjadi ahlul bayt atau tuan rumah meskipun beliau berada di Riyadh.

 

Dengan kerendahan hatinya, Pak Abegebriel mengatakan bahwa beliau tidak hadir untuk memberikan tausiyah atau ceramah akan tetapi sekedar menyampaikan beberapa pembacaan manaqib Simbah KH Ali Maksum. Mbah Ali merupakan salah satu ulama yang pandai berdialog dengan Muhamadiyah. Bahkan pada saat itu bisa dikatakan bahwa Mbah Ali merupakan Kiai yang paling moderat.

Pak Agus Maftuh menyampaikan bahwa Mbah Ali pernah berpesan kepada KH Atabik Ali “Bik, sakjane Muhamadiyah ki yo Ahlussunnah.” Ternyata ada hubungan darah dengan Muhamadiyah yang bertemu dari Sunan Giri. Judul obrolan yang disampaikan oleh Pak Agus Maftuh yaitu As Syaikh Ali Maksum Ma’alimu Hatayihi Dzikroyatuhu al-Yauma, KH Ali Maksum, kehidupannya, dan memori-memorinya di hari ini. Beliau juga menyebutkan bahwa nasab Mbah Ali bersambung dengan Nabi Muhammad Saw. Urutannya sebagai berikut.

 

  1. Mbah Ali Maksum bin
  2. Ma’shum bin
  3. Ahmad bin
  4. Abdul Karim bin
  5. Zaid bin
  6. Syaikh Jarum bin
  7. Sunan Sanongko bin
  8. Sayyid Abdurrahman/Sultan Minangkabau-(di nama ini Mbah Ali bertemu dengan nasab seorang ulama yang sangat terkenal dari madrasah sholatiyah atau madrasah pertama di Arab Saudi yaitu Syaikh Alamuddin Yasin al-fadani) bin
  9. Maulana Ainul Yaqin/sunan Giri (di nama ini Mbah Ali bertemu dengan nasab KH Ahmad Dahlan, pendiri perserikatan Muhamadiyyah) bin

Maulana Ishaq bin

  1. Maulana Ibrahim Asmaratuban (di nama ini Mbah Ali bertemu dengan Syaikh Kholil al -bangkalani dan KH As’ad Syamsul Arifin Asembagus Situbondo) bin
  2. Maulana Husain Jamaluddin (di nama ini bertemu dengan Syaikh Nawawi al-Bantani, penulis Tafsir Munir dan Nihayatul Zein ‘Ala Syarhi Qurrotul ‘Ain) bin
  3. Sultan Syah Jalaluddin, bin
  4. Al-Amir Abdullah bin
  5. Al-Imam Abdul Malik Azmat Khan (india) bin
  6. Al-Imam Alwi amil Faqih bin
  7. Al-Imam Muhammad bin
  8. Al Imam Alil Kholi Qosam bin
  9. Alwi Shohib Baitil Jubair bin
  10. Imam Muhammad Soma’a bin
  11. Muhammad Alwi al-Mutakir bin
  12. Imam Ubaidillah bin
  13. Al-Imam al-Muhajir(hampir semua ulama di Indonesia nasabnya bersambung ke Nabi Muhammad SAW melalui jalur ini) bin
  14. An-Naqib bin
  15. Imam Ali al-Uraidi bin
  16. Ja’far Shodiq bin
  17. Muhammad al-Baqir bin
  18. Ali Zainal Abidin bin
  19. Sayyid Husein bin
  20. Sayyidina Ali, suami sayyidah Fatimah binti Rasulullah SAW.

 

Beliau mencatat empat hal yang sangat menonjol dalam diri KH Ali Maksum, sebagai berikut.

 

  1. Mbah Ali merupakan ulama yang الموصوعيّ Al-Mausu’iyyin atau Ulama yang pemikirannya sangat ensiklopedis, komplit dan nyegoro ilmune (sangat luas ilmunya). Di saat orang-orang masih mempelajari kitab al-jalalain, as showi dan khasiyatul jamal, Mbah Ali sudah berlari cepat membaca kitab Ahkamul Qur’an karya Al’-Arabi’, Ahkamul Qur’an karya al-Harasy, dan lain sebagainya.Ketika pesantren masih tidak begitu akrab dengan karya-karyan Ibnu Taimiyah, Mbah Ali sudah biasa membaca kitab al-Aqidatul Wasitiyyahnya karya Ibnu Taimiyah yang di dalamnya terdapat statemen bahwa sebagian i’tiqadnya ahli sunnah adalah mempercayai keramat para wali. Mbah Ali juga sudah melaju begitu jauh dari tradisi saat itu dengan membaca kitab al-minhaju sunnah an-Nabawiyah fi naqhdi kalamisy syi’ah al-qadariyyah karya Ibnu Taimiyah.

 

  1. Mbah Ali merupakan ulama yang objektif, beliau sangat adil kepada santri-santrinya. Mbah Ali merupakan sosok yang tidak kagetan dan tidak mudah memberi label kepada madzhab-madzhab lain. Pengetahuan mengenai madhzab apapun dibaca. Bahkan beliau mengatakan bahwa muhamadiyah juga merupakan ahlussunnah wal jamaah, dilihat dari karya-karya Ibnu Taimiyah.

 

  1. Ulama yang المتوسط Mutawasith (moderat), almu’tadil, al mutasamih Islam yang toleran dan islam . Muhammad bin Salman bin Abdul Aziz Arab Saudi mendirikan lembaga i’tidal yang memerangi pemikiran-pemikiran ekstrim. Politisasi agama atau pembajakan terhadap teks-teks agama harus diberantas.

 

  1. Mbah Ali bukan hanya seorang yang menjadi المعلّم (guru) tetapi juga sebagai المربّ (pendidik). Beliau merupakan pendidik yang sangat dekat dengan santri sampai tidak ada batasan. Beliau memanfaatkan kedekatannya untuk menransfer ilmunya kepada para santri.

 

“Saya hanya ingin mengambil sedikit saja dari samudera ilmunya Mbah Ali Maksum dalam bidang tafsir.” Pungkasnya. Akhir kata, beliau menyampaikan salam rindu beliau untuk keluarga krapyak dan seluruh hadirin. “Senangngnya mendapat salam rindu dari Dubes RI untuk Arab Saudi.” Kata Daimatun Nafi’ah, pengurus Pondok Pesantren Putri Yayasan Ali Maksum, Krapyak, Yogyakarta dengan raut wajah bahagia.

 

(Qonita Khoirunnisa)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *