Berita

KH Yahya Cholil Staquf – “Ojo Nganthi Telat Tuwa”

KH Yahya Cholil Staquf, Katib A’am PBNU hadir dalam acara haul virtual KH Muhammad Moenawwir bin Abdullah Rosyad untuk menyampaikan mau’idhoh hasanah (Sabtu, 23/01/2021). Sebelum menyampaikan mau’idhoh hasanah, KH Yahya Cholil Staquf bercerita bahwasannya pada usia 13 tahun, beliau sudah dikirimkan oleh orang tuanya ke Pondok Pesantren Krapyak di bawah kepengasuhan KH Ali Maksum selama 15 tahun. Jadi, bisa dikatakan beliau alumni Krapyak yang banyak mengenal pondok Krapyak karena lamanya waktu nyantri.

Perasaan sedih menyelimuti beliau dan para hadirin pastinya, karena baru tahun ini haul Simbah KH Muhammad Moenawwir dilakukan secara virtual dan sekaligus haul pertama tanpa adanya sosok KH Najib Abdul Qodir, cucunda Simbah KH Moenawwir  dan Nyai Hj. Hanifah binti KH Ali Maksum yang belum lama wafat mendahului KH Najib.

Di awal mau’idhoh hasanahnya, KH Yahya Cholil Staquf mengajak para pemuda untuk senantiasa mempersiapkan diri menjadi generasi penerus yang baik. Salah satu tokoh yang beliau contohkan adalah KH Wahid Hasyim yang sejak muda sudah berkiprah di masyarakat. Pada usia 26 tahun, beliau menjadaptak amanah menjadi pengurus besar Nahdlatul Ulama, sedangkan pada usia 28 tahun menjabat sebagai Menteri Agama Republik Indonesia.

Para hadirin mendengarkan ceramah yang disampaikan KH Yahya Cholil Staquf dengan penuh rasa ta’dzim. Beliau menceritakan bahwa umumnya orang ingin awet muda. Padahal yang tepat menurut KH Yahya Cholil adalah “ojo nganthi telat tuwo” atau dalam bahasa Indonesianya diartikan jangan sampai telat menjadi tua. KH Bisri Mushthofa pernah ngendikan ketika KH Ma’shoem Lasem wafat “Alhamdulillah.. Kiai Ma’shoem kapundhut”. Sontak semua orang yang mendengar pernyataan tersebut kaget dan bertanya-tanya. Maksudnya, kalau KH Ma’shoem tidak wafat, maka KH Ali Maksum (putra beliau) tidak akan menjadi kiai (melanjutkan kepemimpinan ayahandanya) dengan cepat. Karena saat itu KH Ali Maksum masih usia 18 tahun atau istilah lain dari KH Bisri Musthofa adalah KH Ali Maksum tidak telat menjadi tua.

Di Pondok Al-Munawwir Krapyak, anak muda/santri yang nantinya dituntut untuk menjadi tua itu tidak perlu khawatir kalau tidak bisa, sebab banyak tokoh yang bisa ditiru di pondok ini. Beberapa model kiai Krapyak sejak tahun 1990-2021 yang dijadikan contoh adalah sebagai berikut.

  1. KH Ali Maksum (progresif, sangat maju wawasannya), barokahnya Mbah Ali di Krapyak terlihat ketika ada peristiwa besar yang belum pernah terjadi 10 abad. Pada abad ke-4 H, para ulama banyak yang menyatakan bahwa pintu ijtihad sudah tertutup, umat islam hanya tinggal taqlid. Abad ke-14, pada tahun 1989 diadakan  Muktamar NU yang  membuat keputusan bahwa fiqh kita harus dikontekstualisasi karena zaman berubah. Maka tidak bisa diterapkan secara harfiyah melainkan harus dikontekstualisasi. Maksud dari kata “kontekstualisasi” yaitu ijtihad. “ gembok sepuluh abad dibuka teng mriki, niki barokahe Mbah Ali” walaupun pada zaman itu para kiai bingung bagaimana caranya, sedangkan ijtihad hanya bisa dilakukan oleh seorang mujtahid yang syaratnya sangat sulit dan jarang sekali ada manusia yang bisa melakukannya. Kemudian pada 1992 ada Musyawarah Nasional di Lampung. Melihat banyaknya permasalahan yang harus dihadapi, para kiai memutuskan ijtihad kolektif atau istinbath jama’I. ”Lha nek zaman nduwe pitakon Islam ora iso njawab, percuma dadi agama rahmatan lil ‘alamin” tambahnya. Kiai Ali menegaskan bahwa harus ada yang bisa memberikan jawaban dan jalan keluar. Islam itu harus Sholihul fii kulli zaman, kalau zamannya berubah Islam harus memberi jawaban sehingga menjadi cocok dengan zaman. Maka dari itu, Islam harus dikontekstualisasikan.
  2. KH Zainal Abidin (sangat hati-hati). Pada masa hidupnya, Mbah Zainal pernah menjadi DPR dan tidak pernah mengambil gajinya karena kehati-hatiannya itu. Pernah suatu ketika KH Ali Maksum ngendikan “Nek Zainal taksih urip, dunyo iki rak bakal kiamat.”. KH Yahya Cholil juga nggleweh KH Hilmy Muhammad Hasbullah yang sedang menjabat sebagai DPD DIY pasti juga niat meneladani Mbah Zainal. KH Yahya Cholil mampu membuat suasana tetap renyah meskipun majelis dilaksanakan secara virtual.
  3. KH Warson Munawwir (menjadi guru muda dan aktivis).
  4. KH Najib Abdul Qodir (mengorbankan jiwa dan raganya untuk mengabdi kepada Alqur’an) .

Selanjutnya, KH Yahya Cholil Staquf memberi tambahan bahwa setiap orang bisa dikatakan ulama apabila memliki tiga kriteria berikut.

  1. Banyak ilmu dan dedikasi (mengabdi) terhadap ilmu.

Rajinnya seseorang dalam belajar/mengaji tidak menjamin keberhasilan tetapi ada kemungkinan berhasil. Belajar diibaratkan dengan memakai masker yang tidak menjamin seseorang tidak terpapar virus, akan tetapi lebih banyak kemungkinan terhindar dari virus. Dedikasi terhadap ilmu perjuangannya sangat luar biasa, begitu sudah menjadi guru juga harus mengajarkan ilmunya. Kehebatan kiai yang berdedikasi terhadap ilmu yaitu tidak akan menyampaikan sesuatu apabila belum tau kebenarannya.

2. Riayatul Ummah (Mengurusi (kepentingan) rakyat)

Pekerjaan seorang kiai tidak hanya mengurusi santri tetapi ikut terjun ke masyarakat. Inilah yang dinamakan riayatul ummah.

 

  1. Ikhlas bukan hanya sifat khusus untuk orang yang istimewa. Ikhlas sudah menjadi kebudayaan santri-santri di kalangan Nahdlatul Ulama. Bahkan, kiai-kiai NU dengan ikhlas mengajak umat Islam mengikuti ajaran NU dan mengajarkan ilmu agama tanpa mengharapkan imbalan apapun.

Pada akhir mau’idhoh hasanahnya, KH Yahya Cholil Staquf ngendika “Yaa Allah gusti, nek ora ono kiai-kiai mukhlis (orang yang ikhlas) wong meh khusnudzon kalih NU jalaran ngendi.”. Harapan beliau, apabila kita tidak kuat atau merasa berat meniru perilaku para ulama, setidaknya kita bisa mengikuti walaupun sedikit.

(Qonita)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *